Minggu, 05 Juli 2020

Hindari 5 Hal Ini, Agar Pernikahan Langgeng

Semua serba indah dan membahagiakan, begitulah angan-angan kita sebelum menikah. Tak sabar menanti datangnya hari bahagia itu. Bahagia selamanya ... 
Orang yang sedang dimabuk asmara merasa hari-harinya penuh dengan bunga, sebelum pernikahan dan saat masih menjadi pengantin baru. Akankah selamanya begitu? Semoga ...

Pernikahan adalah awal dari sebuah perjalanan cinta. Masih sangat panjang jalan yang akan kita tempuh bersama pasangan hidup.  Bahagia dan tidaknya sebuah pernikahan tergantung kita dalam membina dan mempertahankannya. Harus ada komitmen yang kuat dan kerja sama yang bagus dengan pasangan masing-masing.

Ada pernikahan yang hanya seumur jagung. Baru beberapa bulan menikah, lalu bercerai dengan berbagai alasan. Akan tetapi, banyak pula pernikahan yang awet dan bahagia hingga maut memisahkan. 

Berikut ini beberapa hal yang harus dihindari dalam pernikahan, agar selalu tercipta kebahagiaan dan langgeng:


Foto: Google

1. Egois

Setiap orang diberi ego masing-masing oleh Sang Maha Pencipta. Ego pribadi yang tidak bisa diselaraskan dengan pasangan, tak ada yang mau mengalah, menganggap dirinya paling benar, bisa merusak hubungan pernikahan. Memang betul, menikah itu artinya menyatukan dua ego atau dua pribadi yang berbeda, bahkan bisa jadi sangat berbeda. Jadi, bisa mengendalikan ego sangat penting untuk langgengnya sebuah hubungan.

Egois adalah sikap yang mementingkan diri sendiri dan mau menang sendiri. Menyelaraskan ego pribadi dengan pasangan dan berusaha menghargai pendapat pasangan, sangat dibutuhkan dalam membina rumah tangga. Jadi, menikah bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa menerima kekurangan suami atau istri, serta belajar untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa.

2. Campur Tangan Keluarga Besar

Tak ada pernikahan tanpa konflik. Setiap tahap yang dilalui, pasti akan selalu ada pernak-perniknya. Di awal pernikahan, saat mempunyai anak, saat anak menjelang remaja, dan seterusnya. Akan selalu ada percikan yang mewarnainya. 

Problema pernikahan ada yang ringan dan ada pula yang memang besar. Contoh masalah besar, misalnya terjadinya perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, dan yang semisalnya.  Jika, masalah besar ini tak bisa diatasi berdua dengan pasangan, memang sebaiknya melibatkan pihak luar yang bisa dipercaya. Bisa meminta bantuan psikolog, orang tua, atau keluarga yang dianggap kompeten.

Namun, ada pula permasalahan rumah tangga yang sebenarnya sepele dan bisa diselesaikan dengan mudah, tapi akhirnya menjadi besar karena keterlibatan keluarga besar. Ada memang, orang yang sedikit-sedikit mengadu kepada orang tua. Atau orang tua yang masih mengatur hidup anak-anaknya. Atau salah satu anggota keluarga yang malah menjadi 'kompor'. Masalah kecil akhirnya menjadi besar dan berakibat perceraian. Na'udzu billahi min dzalik.

Untuk itu, biasakan untuk menyelesaikan masalah rumah tangga secara intern. Banyak berdoa pada Sang pencipta agar dimudahkan permasalahan kita. Hindari terlalu banyak menceritakan masalah kita pada orang lain, meskipun itu orang tua karena terkadang persepsi kita dan persepsi orang lai itu beda. 

Bersyukurlah jika mempunyai orang tua atau keluarga besar yang tak banyak ikut campur urusan orang lain. Bukan berarti mereka tak peduli, tapi lebih kepada menghormati privasi masing-masing. 


3. Komunikasi yang Terhambat

Dalam hal apapun komunikasi adalah hal yang penting. Apalagi komunikasi dengan pasangan hidup. Sangat perlu dijaga dan harus selalu dipelihara. Komunikasi yang kurang bagus atau terjadi miskomunikas bisa menjadi masalah rumit. Cobalah untuk selalu berkomunikasi dengan suami atau istri sesibuk apapun kita. 

Michele Weiner Davis dalam bukunya "The Sex-Starved Marriage" mengatakan bahwa pasangan yang mempunyai keterampilan komunikasi yang baik bisa belajar dan mengatasi perbedaan mereka lebih baik. "Jika Anda ingin merasa lebih terhubung dengan pasangan, penting bagi Anda untuk mempelajari cara-cara yang lebih baik untuk mengomunikasikan pikiran dan perasaan Anda satu sama lain."

Komunikasi yang lancar dengan pasangan dipercaya sangat baik untuk kesehatan, bisa mengurangi stres, dan lebih menghemat waktu. Banyak hal yang bisa kita ceritakan dengan suami atau istri. Apalagi kabarnya seorang wanita butuh lebih banyak bicara dan lebih banyak didengar daripada seorang pria. Betul? Jadi, akan lebih aman curhat dengan pasangan daripada bercerita pada orang lain.


4. Kurangnya Komitmen

Dalam hubungan apapun pasti perlu komitmen yang kuat. Apakah itu hubungan kerja, hubungan bisnis, dan lain-lain. Komitmen untuk selalu menjaga hubungan yang langgeng. Tak terkecuali hubungan pernikahan.

Perselingkuhan atau hadirnya orang ketiga dalam pernikahan terkadang terjadi karena kurang adanya komitmen.  Suami istri harus bisa menjaga komitmennya agar pernikahannya awet.  

Dalam sebuah artikel dikatakan bahwa komitmen adalah bagian dari hubungan yang menyediakan keselamatan dan rasa aman sehingga pasangan dapat mengungkapkan pikiran, perasaan, dan keinginan secara terbuka. Ketika sudah saling berkomitmen, kita akan sanggup menjalani tantangan sehari-hari dan stres yang timbul dalam sebuah hubungan. Komitmen akan menurunkan resiko adanya pikiran bahwa berpisah merupakan solusi dari masalah yang dihadapi.

5. Bosan

Kata orang, tantangan terbesar dalam pernikahan adalah kebosanan. Bosan dengan segala rutinitas yang itu-itu saja. Tak ada variasi hidup. Pernikahan datar-datar saja. Aneka konfliklah yang sebenarnya jadi bumbu dan warna dalam sebuah pernikahan. Walaupun saat kita mengalami konflik dalam rumah tangga, duh, rasanya pengin segera selesai masalah itu. Kapan ya, problem ini selesai? Begitu pasti keinginan kita.

Rasa bosan ini sebenarnya manusiawi dan wajar. Namun, tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Harus segera dibicarakan dengan pasangan untuk memcari solusinya. Bosan bukan berarti sudah tak cinta lagi, ya. Kata seorang psikolog, rasa bosan ini tak akan menjadi masalah, selama pasangan suami istri masih memiliki komitmen yang sama. Segera bicarakan dengan pasangan, supaya kondisi ini tidak menjadi peluang terjadinya masalah yang lebih besar. Berlibur bersama, mengubah rutinitas, atau  mencoba hal-hal baru bisa memberi angin segar pernikahan. 

Terkadang sehari-hari kita disibukkan dengan rutinitas. Sebagai seorang ibu, kita sibuk dengan anak-anak dan aneka urusan rumah tangga. Sebagai seorang kepala keluarga, suami sibuk dengan pekerjaannya. Begitu dari waktu ke waktu. Liburan bersama keluarga atau pergi berdua saja dengan pasangan biasanya bisa merefresh hubungan kita.

Mencoba hal-hal baru, seperti menekuni hobi kembali, berkumpul dengan teman-teman lama, masuk dalam sebuah komunitas positif, atau kegiatan menyenangkan lainnya bisa dicoba juga. Yang penting, komunikasikan hal ini dengan pasangan. 

Begitulah ... Jadi kesimpulannya, bahwa pernikahan bukan hanya sekedar masalah cinta, tapi lebih kepada masalah proses pendewasaan dalam kehidupan. Dengan menikah, sudah seharusnya kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dengan menikah, ibadah kita menjadi lebih meningkat, kebaikan kita menjadi lebih berlipat. Insya Allah. 

Bogor, 6 Juli 2020


Sabtu, 04 Juli 2020

Sukses Bergaul dengan Keluarga Suami

Foto: Islamidia


Dalam budaya  Indonesia, siap menikah itu artinya siap pula menerima kehadiran keluarga besar pasangan. Hubungan kekerabatan yang sangat erat menuntut kondisi tersebut. Pasang surut hubungan mertua dan menantu atau hubungan dengan ipar terkadang mewarnai drama pernikahan.

Padahal sebenarnya tidak selalu demikian. Banyak hubungan yang harmonis antara mertua, menantu, dan saudara ipar. Membangun interaksi yang baik antar keluarga terkadang tidak serta merta terjadi begitu saja. Perlu diupayakan oleh semua pihak. Apalagi pada dasarnya semua anggota keluarga mempunyai akhlak yang baik.

Saya sendiri sangat bersyukur mempunyai ibu mertua yang sangat baik dan menghormati para menantunya. Serta kakak-kakak ipar yang semuanya baik. Kebetulan suami adalah anak bungsu dari 12 bersaudara. Otomatis saya mempunyai kakak 11 orang beserta pasangannya masing-masing. Saya merasa hubungan saya dan keluarga besar suami sangat baik selama pernikahan yang sudah berjalan selama 22 tahun ini. 4 Juli 1998 - 4 Juli 2020.

Saat kami menikah, bapak mertua sudah berpulang. Jadi saya tidak sempat mengenal beliau. Dengan putra 8 orang dan putri 4 orang, menantu pun 12 orang bukan? Saya rasakan ibu mertua tak pernah pilih kasih kepada para menantunya.

Saya sebagai menantu bungsu, berusaha menempatkan diri menjadi adik yang baik bagi kakak-kakak suami. Tahu diri mungkin istilahnya dan harus bisa menempatkan diri. Kalau kata orang tua saya, ikuti saja alur keluarga suami. Alhamdulillah aman dan baik-baik saja hubungan kami hingga kini dan sampai ibu mertua berpulang sekitar tahun 2011. Kakak-kakak suami tetap menjaga hubungan kekeluargaan dengan sangat baik, meskipun kedua orang tua mereka sudah tak ada. Salut dan luar biasa.    

Berikut ada beberapa tips yang saya ambil dari Majalah As-Sunnah, Agustus 2015 mengenai cara sukses bergaul dengan keluarga suami. Isinya masih sangat relevan dan sangat bagus untuk instropeksi diri bagi yang sudah menikah maupun yang belum.

Bersikap Baik Kepada Ibu Mertua

Ibu mertua adalah ibu dari suami. Sudah seharusnya kita pun memperlakukan beliau sama dengan ibu sendiri. Tak mau juga kan kalau istri dari saudara kandung memperlakukan ibu kita dengan tidak baik? Pasti kita pun akan sakit hati. Demikian juga dengan suami, pasti dia pun menginginkan ibunya diperlakukan dengan baik. 

Suami akan semakin respek dan sayang kepada kita, jika istrinya bisa menyayangi dan menghormati ibunya juga. Tentunya rasa sayang yang tulus, ya. Meskipun mungkin saat kita berumah tangga ada hal-hal yang kurang mengenakkan mewarnainya. Tetap harus kita kedepankan rasa hormat kita pada ibu mertua.

Muliakan Keluarga Suami

Balaslah kebaikan suami dengan memuliakan keluarganya. Jika ada ha-hal yang kurang berkenan selama kita menjadi bagian dari keluarganya, segera maafkan dan lupakan. Apalagi jika kita tahu bahwa pada dasarnya mereka adalah orang yang baik dan pasti tidak sengaja melakukannya. Bantu suami untuk tetap menjalin hubungan silaturahmi dengan keluarganya, terutama dengan kedua orang tuanya. 

Saat mertua atau saudara suami berkunjung ke rumah, sambutlah dengan hangat. Layani mereka sebaik-baiknya. Anggap sebagai orang tua dan saudara kandung sendiri. Tentu saja batas-batas syariat dengan saudara ipar tetap harus dijaga.

Jalin Kedekatan dengan Keluarga Suami

Salah satu kunci sukses dalam membangun rumah tangga adalah keberhasilan kita bergaul dengan keluarga suami. Memuliakan keluarga suami sama dengan memuliakan suami juga. Jadilah orang yang membuat semakin dekatnya hubungan suami dengan keluarganya.  Keluarga suami mempunyai hak yang lebih besar dibandingkan dengan orang lain karena adanya hubungan pernikahan.

Tunjukkan kepedulian yang tinggi pada keluarga suami, misalnya dengan rutin menanyakan kabar, mendoakan dan berusaha menjenguknya jika ada yang sakit. Rasulullah shallahu 'alaihi wassalam bersabda: "Siramilah hubungan kekeluargaan kalian, walaupun hanya dengan salam saja." (HR. Al-Baihaqi. Hasan)

Raih Cinta dari Keluarga Suami

Raihlah cinta dari keluarga suami dengan akhlak yang baik, tutur kata yang menyenangkan, serta perilaku yang sopan. Allah subhanahu wa ta'ala  memerintahkan hamba-Nya untuk berbuat baik kepada manusia secara umum. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 83, yang artinya:

"Dan ucapkan kata-kata yang baik kepada manusia"

"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)" (QS. Al-Isra: 53)

Tak ada untungnya juga, kan, kita memusuhi keluarga suami, padahal sebenarnya mereka juga orang yang baik dan menghormati kita sebagai iparnya?


Berikan Hadiah

Setiap orang pasti akan senang saat diberi hadiah. Meskipun mungkin nilainya tak seberapa. Hadiah akan semakin mendekatkan hati dan akan semakin menumbuhkan rasa sayang. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam

"Hendaklah kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai." (HR. Bukhari)

Memberikan oleh-oleh saat kita berkunjung ke rumah mertua, keluarga suami, atau saat kita pulang dari luar kota, misalnya. Sederhana, namun akan mengena di hati sang penerima oleh-oleh. Sesuaikan saja dengan kemampuan masing-masing.

Tanamkan Pada Diri Anak-Anak Rasa Cinta Pada Keluarga Suami

Senantiasa ingatkan anak-anak untuk hormat kepada kakek dan nenek dari ayahnya, om, tante, atau sepupu-sepupu dari pihak ayah. Ajak mereka untuk bisa mengenal dekat keluarga dari ayah. Peran orang tua sangat penting dalam hal ini. 

Terkadang dalam kehidupan nyata, anak-anak hanya dekat kepada keluarga dari ibu. Padahal sebenarnya bisa diupayakan anak-anak akrab juga dengan saudara-saudaranya dari pihak ayah. Misalnya dengan sering diajak berkunjung ke rumah om atau tantenya, jika tempat tinggalnya mudah dijangkau. Supaya silaturrahim tetap terjaga meskipun kedua orang tua sudah tiada.  

Berilah Suami Waktu untuk Bersama Keluarganya Sendiri

Mungkin ada kalanya suami ingin berkumpul sendiri dengan keluarganya tanpa kita. Beri kesempatan padanya untuk menikmati kebersamaan dengan orang tuanya sebagaimana saat belum menikah. Jangan paksa suami untuk selalu membawa kita dan selalu berbaik sangkalah pada suami. Adakalanya kita pun demikian juga, kan? Ingin bisa sendiri saja berkumpul dan bercerita tentang banyak hal kepada keluarga sendiri.


Itulah beberapa tips yang saya kutip dan saya praktekkan juga. Meskipun sebenarnya saya merasa belum menjadi menantu yang baik dan masih banyak sekali kekurangan  saat ibu mertua masih ada. Semoga Allah ampuni dan semoga kita semua bisa menjadi menantu dan ipar yang baik, menjadi partner suami untuk menjadi anak yang berbakti pada orang tuanya. Insya Allah kebaikan yang kita lakukan pun, pahalanya akan mengalir juga pada orang tua kita. 

Perbuatan baik yang kita lakukan kepada orang tua suami dan keluarganya, insya Allah akan dibalas pula dengan kebaikan perilaku menantu-menantu kita kelak. Balasan itu serupa dengan apa yang telah kita perbuat. 

"Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula)" (QS. Ar-rahman: 60)

Bogor, 4 Juli 2020

Referensi:

Majalah As-Sunnah No. 4 Tahun XIX, Agustus 2015


Kamis, 02 Juli 2020

Cobaan dalam Rumah Tangga

Rumah tangga yang bahagia, tenteram, dan damai, serta hidup berkecukupan pasti adalah harapan semua orang. Tak hanya di awal pernikahan, tapi selamanya hingga kembali ke pangkuan-Nya. Namun, impian indah itu tak selamanya selalu terwujud. Ada saja batu sandungan sepanjang jalannya pernikahan.

Ujian atau cobaan dalam menjalani biduk rumah tangga setiap orang berbeda-beda. Meskipun orang mungkin melihat semuanya baik-baik saja. Atau dalam istilah Jawa, "Urip kuwi sawang sinawang". Artinya bahwa hidup itu adalah bagaimana kita memandang orang lain. Membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Seolah-olah hidup orang lain itu lebih indah daripada hidup kita, padahal mungkin belum tentu juga. Begitulah ...

Pada dasarnya tak ada rumah tangga yang seratus persen berjalan mulus tanpa hambatan. Pernikahan yang adem ayem tanpa aral melintang. Sebagaimana nasehat atau wejangan para leluhur kita. Akan ada saja problem dalam setiap tahap usia pernikahan. Lulus atau tidaknya kita dalam menjalani ujian pernikahan tergantung bagaimana kedewasaan sikap masing-masing pasangan dan solusi yang diambil. Yang pasti semua orang pasti berharap bisa melewati semua masalah yang dihadapi dan berakhir dengan bahagia.

Inilah beberapa masalah yang biasa terjadi dalam sebuah pernikahan, berapapun usia pernikahan yang telah dilalui.

1. Perceraian
Perceraian bisa menimpa siapa saja dan kapan saja. Seberapa lama usia pernikahan tak menjadi patokan. Pernikahan yang sudah dijalani puluhan tahun pun tak luput dari masalah perceraian ini. Banyak hal yang bisa memicu terjadinya perpisahan. 

Ketika sudah tidak ada titik temu dan sudah tak bisa disatukan lagi ego antara suami istri dalam mengatasi krisis rumah tangganya, biasanya perceraian adalah jalan yang diambil. Meskipun pada dasarnya tak ada orang yang ingin rumah tangganya harus berakhir. 

2. Kematian
Usia manusia tak ada yang tahu. Entah di usia berapa kita akan dipanggil Sang Khalik, sang pemilik kehidupan. Entah suami atau istri yang lebih dulu berpulang. Duka akibat kematian ini memang terkadang memilukan. Rata-rata tak siap ditinggal pasangan terkasihnya. Tapi, takdir berkata lain. Ada yang harus 'pulang' terlebih dahulu.

Kesiapan mental dan spiritual sangat berperan penting dalam memulihkan kondisi ini. Apalagi jika yang meninggal terlebih dahulu adalah  tulang punggung keluarga, sementara sang istri adalah seorang ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Mungkin akan terasa berat beban hidup yang ditanggung.

Namun, yakinlah bahwa Allah tidak membebani seorang hamba di luar batas kemampuannya. Dalam kehidupan nyata, banyak kisah bagaimana seorang ibu yang sukses membesarkan anak-anaknya seorang diri dan itu bukan isapan jempol. Banyak wanita-wanita hebat di luar sana yang lebih memilih menjadi single parents, sibuk bekerja dan hanya fokus untuk mendidik anak-anaknya.

Untuk seorang laki-laki, musibah ditinggal pasangan hidup bisa jadi lebih rumit. Sangat jarang laki-laki yang memilih menjadi single parents hingga akhir hayat. Mereka butuh pendamping hidup yang baru. Nah, di sinilah titik krusialnya, bagaimana mereka bisa mencari seorang ibu baru yang bisa cocok dengan anak-anak.

3. Tidak Diberi Keturunan
Salah satu tujuan pernikahan adalah mendapatkan keturunan. Anak yang dianggap bisa menjadi perekat hubungan suami istri. Namun, jika kondisi ini tidak berpihak pada kita, bagaimana sikap kita?Istri tak kunjung hamil, keluarga besar terlalu banyak berharap keturunan dari pernikahan kita. Sekali lagi butuh kedewasaan dari semua pihak, suami istri, dan seluruh keluarga.

Sebenarnya banyak pula pernikahan yang bahagia, meski tanpa hadirnya anak. Banyak solusi yang bisa dipilih, seperti mencoba berbagai alternatif untuk bisa memperoleh keturunan, seperti ikut program bayi tabung dan lain sebagainya. Atau ada pula yang memutuskan untuk merawat anak dari keluarga dekat. 

4. Perselingkuhan
Perselingkuhan adalah hal yang paling ditakutkan. Apalagi saat ini sangat banyak media yang bisa memicu terjadinya perselingkuhan tanpa disadari. Media sosial yang bisa diakses oleh siapa pun turut meramaikan isu ini. Meskipun perselingkuhan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, serta dilakukan oleh siapa saja. Apalagi saat ini, rasa malu terkadang sudah menguap entah kemana.

Kendali diri, iman yang kuat, lingkungan yang baik, serta kondisi rumah tangga yang harmonis setidaknya bisa menjadi tameng agar tidak terjatuh dalam perselingkuhan. Solusinya adalah selalu ciptakan keromantisan dalam rumah tangga dan selalu ingat komitmen pernikahan.

5. Merosotnya Ekonomi
Permasalahan ekonomi banyak juga memicu terjadinya pertengkaran dalam rumah tangga, seperti merosotnya keuangan keluarga. Suami yang kena PHK atau suami yang bangkrut usahanya atau diberi sakit sehingga tak mampu lagi menafkahi keluarga. 

Saat menghadapi masalah ini, seluruh anggota keluarga memang harus legawa menerima kondisi ini. Saling bahu membahu dan menguatkan. Segera bangkit dan cari solusi, serta tidak saling menyalahkan.

Sebenarnya masih banyak sekali permasalahan rumah tangga itu, tak terbatas hanya pada lima hal di atas. Bersabar dan selalu peka terhadap apa pun yang terjadi dalam rumah tangga. Segera mencari solusi saat terjadi masalah besar. Atau meminta bantuan pihak ketiga yang kira-kira bisa dipercaya dan bijaksana bisa menjadi pilihan.

Semoga kita semua bisa mengatasi semua permasalahan dalam rumah tangga dan happy ending hingga akhir hayat.

Foto: Diary_Lounge

Rabu, 01 Juli 2020

Rahasia Langgengnya Sebuah Pernikahan


Foto: Google


Cita-cita semua orang adalah menikah untuk bahagia. Bahagia dan langgeng hingga maut memisahkan. Meskipun tak bisa dipungkiri bahwa tak ada pernikahan yang tanpa konflik. Pasti akan ada kerikil-kerikil dalam menjalani hidup berumah tangga. Bahkan ada yang hingga berada di ambang perceraian.

Bersyukur jika pernikahan kita bisa harmonis, bersama-sama melewati rintangan yang ada. Tentu saja pernikahan yang langgeng dan harmonis tak akan terjadi begitu saja. Perlu usaha keras dari kedua belah pihak untuk mempertahankannya. Termasuk juga dukungan dari keluarga besar. 

Tidak dapat dipungkiri bahwa rumah tangga yang bahagia adalah rumah tangga yang sesuai tuntunan agama. Sebagaimana pada tulisan sebelumnya, saat memilih calon pasangan hidup, pilihlah yang baik agamanya. Insya Allah dengan pemahaman agama yang baik serta akhlak yang terpuji, pernikahan akan sakinah mawaddah wa rahmah.

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda pada kaum yang berpikir." (QS. Ar-Ruum: 21)

Lalu upaya apa yang harus dilakukan setiap pasangan agar pernikahannya langgeng, bahagia hingga akhir hayat?

1. Memegang Teguh Komitmen

Memegang teguh komitmen dalam pernikahan adalah hal yang penting. Komitmen antara suami dan istri untuk tetap menjaga keutuhan pernikahan, walau mungkin ada sedikit badai. Ingatlah bahwa pernikahan adalah ibadah. Banyak kebaikan yang didapat dengan menikah. Suami dan istri harus saling mengingatkan tentang tujuan sebuah pernikahan.

Perceraian bukan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan konflik rumah tangga. Masih banyak jalan lain agar rumah tangga tetap bersatu. Walaupun perceraian dibolehkan dalam Islam jika memang sudah benar-benar tak bisa diperbaiki lagi. Meskipun Allah tidak suka adanya sebuah perceraian dalam rumah tangga.

2. Jaga Komunikasi

Dalam membina sebuah hubungan, komunikasi yang baik adalah kunci utama. Tak jarang konflik terjadi karena  miskomunikasi. Dua orang yang berhubungan secara intens, bertemu setiap hari, tak jarang terlibat dalam sebuah perselisihan.

Untuk itu, komunikasi yang baik, saling menghormati dan saling memahami saat berbicara adalah kunci suksesnya sebuah komunikasi. Insya Allah rumah tangga akan selalu harmonis. Kalaupun ada perselisihan tak akan berlarut-larut. Sesibuk apa pun kita, hendaklah meluangkan waktu untuk ngobrol, bercerita, atau saling memberi dukungan.

3. Pahami Karakter Pasangan

Cinta dan pernikahan adalah menyatukan dua karakter dan latar belakang yang berbeda. Karakter ini terkadang sulit untuk berubah karena sudah menetap dan menjadi kebiasaan. Di awal pernikahan, buatlah komitmen untuk saling menerima kebiasaan masing-masing, kelebihan dan kekurangannya.

Kalau ternyata ada karakter pasangan yang dirasa kurang nyaman, bicarakan baik-baik dan bertekadlah untuk saling berubah ke arah yang lebih baik. Menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, yang pasti jangan jadikan perbedaan karakter ini menjadi hambatan dalam menjaga keutuhan rumah tangga.

Jadikan hubungan pernikahan terasa istimewa karena kepribadian dan keunikan kita masing-masing. Setiap rumah tangga pasti punya karakter masing-masing karena setiap orang itu unik.

4. Menjaga Romantisme

Selalu romantis terhadap pasangan bukanlah hal yang tabu, meskipun usia pernikahan sudah berpuluh tahun. Teladan terbaik kita adalah Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam. Dalam banyak riwayat, dikisahkan beliau adalah orang yang sangat romantis kepada istrinya.

Salah satu contoh betapa romantisnya Rasululllah shalallahu 'alaihi wassalam dalam berumah tangga  adalah memanggil 'Aisyah  radhiallahu anha dengan nama kesayangan "Humairah", yang kemerah-merahan. Itulah salah satu contoh cara menciptakan keromantisan dalam rumah tangga, memanggil suami atau istri dengan panggilan kesayangannya.

Dalam kisah lain:

Diriwayatkan oleh 'Aisyah radhiallahu anha bahwa: "Rasulullah pernah mencium salah satu istri beliau, baru kemudian berangkat menunaikan salat tanpa memperbarui wudhu." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Jangan sampai kesibukan kita melunturkan perilaku romantis ini. Luangkan waktu dan ciptakan keromantisan dalam keluarga. Jangan segan untuk mengungkapkan rasa sayang kepada pasangan dengan pelukan atau ciuman. Insya Allah kita bisa!

5. Jangan Berharap yang Sempurna

Tak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini. Jadi jangan terlalu menuntut pasangan kita sempurna. Fokuslah pada kebaikan pasangan, bukan kekurangannya. Terima apa adanya, selalu saling memaafkan, dan saling melengkapi.

Saling menerima apa adanya bukan berarti tak mau saling memperbaiki kekurangan diri. Bukan pula berharap terlalu tinggi agar pasangan bisa berubah secepatnya dari kebiasaan buruk, misalnya. Namun, lebih kepada saling memahami kekurangan dan keunikan masing-masing. Setiap orang pasti punya kekurangan dan kelebihan.

Pernikahan adalah sebuah proses pembelajaran yang panjang, bahkan mungkin seumur hidup. Akan selalu ada proses perubahan-perubahan sepanjang usia pernikahan.   


Itulah resep ala saya agar pernikahan awet dan bahagia seluruh anggota keluarga. Semoga kita semua bisa menjalaninya, ya.


Selasa, 30 Juni 2020

Menikah untuk Bahagia

Foto: Unsplash/Beatriz Perez Moya

Setiap orang pasti sangat bahagia menyambut hari pernikahannya. Langgeng untuk selamanya hingga di surga-Nya. Bersanding dengan orang yang dicintai adalah impian indah setiap calon pengantin. Tak sabar rasanya menanti hari itu tiba.

Begitulah angan-angan dan harapan setiap orang. Termasuk saya tentu saja. Alhamdulillah pernikahan kami akan memasuki tahun ke-22 (1998-2020). Dikarunia empat orang anak, dua perempuan dan dua laki-laki menambah rasa syukur dan kebahagiaan kami. 

Betul, pada dasarnya orang menikah itu hanya ingin lebih bahagia. Berbagi suka dan duka kehidupan dengan belahan jiwanya. Menikah untuk bahagia. Meskipun sebenarnya tujuan pernikahan lebih mulia daripada sekedar itu. Sebagaimana yang sering kita baca di buku-buku atau artikel.

  
Berikut ini adalah beberapa tujuan pernikahan dalam Islam:

1. Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia yang Paling Asasi

Pernikahan adalah kebutuhan fitrah manusia yang paling dasar dan merupakan salah satu sunah ilahi. 

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialaha Dia menciptkan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Ruum: 21)

2. Membentengi Akhlak

Pernikahan akan membentengi kita dari perbuatan yang dilarang agama, seperti perzinaan. Bagi para pemuda dan pemudi yang sudah siap menikah, hendaknya diberi kemudahan untuk segera menikah, baik oleh orang tua dan keluarga.

"Wahai para pemuda, siapa diantara kamu yang memiliki kemampuan, hendaknya ia segera menikah. Karena menikah itu akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah, karena puasa merupakan salah satu peredam nafsu syahwat." (HR. Bukhari)

Allah karuniakan nafsu syahwat pada semua orang untuk disalurkan dengan cara yang baik dan halal, yaitu dengan cara menikah. Islam tidak mengenal adanya pacaran karena pacaran bisa memberi peluang terjadinya perbuatan zina.

Aturan Islam, sebagaimana yang sudah saya sampaikan di tulisan sebelumnya, "Jika kita sudah ada rasa tertarik dengan seorang perempuan dan sudah siap menikah, segera datangi walinya."

3. Memperoleh Ketenangan Jiwa

Perasaan tenang, damai, dan bahagia akan dirasakan setelah menikah. Jadi menikah itu untuk memperoleh kebahagiaan. Tak hanya sekedar memenuhi kebutuhan biologis.


4. Penyempurna Agama

"Apabila seorang hamba menikah, maka telah sempurna separuh agamanya. Maka takutlah kepada Allah untuk separuh sisanya." (HR. Albaihaqy dalam Syu'abul Iman)

Menikah merupakan salah satu cara menyempurnakan agama. Seharusnya dengan menikah akan semakin kuat ibadah seorang hamba kepada Rabnya. Untuk itu, carilah pasangan yang baik agama dan akhlaknya.

5. Memperoleh Keturunan 

"Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenismu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari yang baik?" (QS. An Nahl: 72)

Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam pun menganjurkan untuk menikah wanita yang subur. "Nikahilah wanita yang penyayang dan subur karena aku berbangga dengan banyaknya umatku." (HR. An-Nasai dan Abu Dawud. Hasan)

Tujuan pernikahan yang lain adalah untuk memperoleh keturunan. Semua orang akan sangat bahagia saat istri hamil dan melahirkan. Lalu mereka berusaha mendidik anak-anaknya dengan sebaik-baiknya. Menjadi anak yang salih dan salihah, bisa membanggakan keluarga serta bermanfaat untuk sesama.

Apa yang ditanam oleh orang tua, akan dipetik saat anak-anak dewasa kelak. Buah pendidikan akan terlihat saat anak-anak sudah berkeluarga dan orang tua sudah semakin renta. Merekalah nantinya yang akan ganti merawat ibu bapaknya. Anak dari sebuah pernikahan adalah investasi orang tua di akhirat nanti. 

6. Melaksanakan Sunah Rasul

Tentu saja tujuan pernikahan yang utama adalah menjauhkan dari perbuatan maksiat. Namun, tujuan pernikahan yang lain adalah mengikuti contoh dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam. 

"Menikah adalah sunahku. Barangsiapa yang tidak mengamalkan sunahku, bukan bagian dariku. Maka menikahlah kalian karena aku bangga dengan banyaknya uamtku (di hari kiamat)" (HR. Ibnu Majah. Shahih)

Jadi Islam sangat menganjurkan umatku untuk menikah dan melarang hidup membujang. Dengan menikah seseorang akan memperoleh keutamaan yang luar biasa.

Itulah enam tujuan dari sebuah pernikahan. Semoga kita dikarunia Allah pernikahan yang bahagia dunia dan akhirat. Aamiin

Minggu, 28 Juni 2020

Menikah Tanpa Pacaran

Bisakah menikah tanpa pacaran? Jika pertanyaan ini diajukan sekitar 20 tahun yang lalu, pasti banyak yang menjawab: "Mana mungkin?" Sebagaimana yang pernah saya alami saat menikah di tahun 1998. Kami memilih menikah tanpa berpacaran terlebih dahulu dan pilihan itu masih sangat asing di telinga masyarakat.

Namun, situasi saat ini sudah berubah. Banyak kawula muda yang sudah punya prinsip tak akan pacaran sebelum menikah alias pacarannya setelah sah menjadi sepasang suami istri. Bahkan, para selebriti tanah air pun sudah banyak yang punya pemahaman seperti ini. Walaupun mungkin dalam prakteknya, entahlah. Apakah benar sebelum menikah mereka tak berpacaran sama sekali atau tak pernah janjian ketemuan atau pergi berdua? Wallahu a'lamu bish-shawab. 

Lalu bagaimana Islam mengatur hubungan sebelum pernikahan ini? Apa yang harus dilakukan saat jatuh cinta?

Saat Cinta Datang Menyapa

Cinta dan jatuh cinta adalah fitrah manusia. Allah karuniakan rasa cinta pada pria dan wanita. Dengan cinta inilah keberlangsungan manusia bisa terjaga. Namun, Islam mengatur bagaimana fitrah ini bisa tersalurkan secara syar'i. Bukan dengan cara pacaran sebelum menikah.

Lalu, bagaimana saat seseorang sedang jatuh cinta?

Rasa cinta yang terkadang datang tanpa permisi sungguh menyiksa. Sebuah hadits pun mengatakan demikian:

"Kecintaan kepada sesuatu bisa membuat buta dan tuli." (Hadits dhaif, tapi sahih marfu' dari Abi Ad Darda radhiallahu anhu, yang berarti ini merupakan perkataan Abu Darda)

Jadi, ungkapan bahwa cinta itu buta pun memang benar adanya.

Solusi saat rasa cinta ini menyapa dan bergelora di dada adalah segera menikah. Jika Anda laki-laki dan yakin bahwa dia adalah wanita yang pantas untuk dijadikan calon pendamping, segera temui walinya, pinang dan segera menikah.

Terus, kalau ternyata belum siap menikah, apa solusinya?

1. Lupakan 

Segera lupakan dia. Yakinlah bahwa jodoh tak akan ke mana. Akan selalu ada jalan jodoh untuk bertemu. Ingat janji Allah bahwa pria yang baik untuk wanita yang baik dan sebaliknya. Fokuslah untuk memperbaiki kualitas diri karena jodoh kita adalah cerminan diri sendiri.

2. Jaga Pandangan

"Katakanlah kepada orang-orang yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya." (An-Nur: 30)

Salah satu resep untuk tak mudah jatuh cinta adalah dengan menjaga pandangan. Ingatkan dengan sebuah ungkapan populer dari masa ke masa? "Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati"
Untuk itu jaga pandangan mata untuk hal-hal yang belum halal untuk kita.

3. Perbanyak Puasa

Puasa adalah perisai bagi seorang muslim. Sebagaimana sebuah hadits: "Puasa adalah perisai." (HR. Bukhari Muslim)
Maksud adri hadits di atas bahwa puasa akan menjadi pelindung di dunia dan akhirat. Manfaat puasa di dunia adalah melindungi kita dari godaan-godaan syahwat. Di akhirat nanti puasa ini pun akan menjadi penghalang kita dari api neraka.

Semoga dengan memperbanyak puasa, kita senantiasa terhindar dari rasa cinta pada saat yang belum tepat.

4. Berdoa 

Jangan malas untuk selalu berdoa pada Allah agar diberi jalan yang terbaik. Selalu libatkan Allah dalam setiap urusan hidup. Berusaha, berdoa, lalu pasrahkan pada Allah.Tak ada doa yang sia-sia.

"Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat), melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: (1) Allah akan segera mengabulkan doanya, (2) Allah akan menyimpannya di akhirat kelak, dan (3) Allah akan menghindarkannya dari kejelekan yang semisal." Para sahabat lalu berkata, " Kalau begitu kami akan memperbanyak berdoa. " Lalu Nabi shalallahu 'alaihi wassalam berkata, "Allah nanti akan lebih banyak mengabulkan doa-doa kalian. (HR. Ahmad, sanadnya jayyid)


Ternyata memang Islam itu agama yang penuh solusi ya ... Masya Allah. Semoga semua yang sedang menanti jodoh, dimudahkan prosesnya. Aamiin


Foto: Shutterstock.com



Referensi:





Sabtu, 27 Juni 2020

Memilih Jodoh

Sebagaimana sudah diungkap dalam tulisan sebelumnya bahwa Allahlah Sang Pemilik Kehidupan. Allah penulis skenario terbaik hidup manusia. Jodoh, ajal, rezeki semua sudah ditulis di Lauhul Mahfudz. Tinggal manusia yang berusaha untuk selalu berbuat baik karena kita tidak tahu takdir kita sebenarnya, sebelum semuanya terjadi.

Jodoh pun demikian, rahasia Allah. Dalam kehidupan ini, sering kita jumpai seseorang dipinang oleh siapa, eh ternyata menikahnya dengan siapa. Betul? Manusia hanya berusaha mencari yang terbaik, Allahlah yang menentukan.

Orang-orang tua di Jawa selalu mengingatkan anak-anaknya agar memilih calon pasangan berdasarkan bibit, bobot, dan bebet. Bibit adalah asal-usul atau keturunan. Jangan sampai mencari calon pasangan hidup tidak jelas asal-usulnya. Carilah calon pasangan yang berasal dari keluarga baik-baik.

Bobot adalah kualitas diri dari calon pasangan hidup, baik lahir maupun batin. Seperti agama, pendidikan, pekerjaan, perilaku, dan sebagainya. Orang tua ingin calon menantunya adalah orang yang bisa membahagiakan anaknya lahir dan batin, serta bertanggung jawab dalam keluarga.

Sedangkan bebet adalah status sosial calon pasangan, seperti harkat dan martabat. Bagi orang Jawa, bebet ini penting juga, namun tidak terlalu penting juga sebenarnya.  Meskipun status sosial seseorang juga terkadang berpengaruh juga terhadap kehidupan rumah tangga.

Dalam agama Islam pun sebenarnya juga sudah ada panduan dalam memilih jodoh yang mungkin hampir sama juga dengan filosofi Jawa di atas. Sebagaimana salah satu sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam:

"Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi." (HR. Bukhari-Muslim)

Nah, tetap saja kita tidak boleh sembrono dalam memilih calon suami atau istri, tetap ada rambu-rambunya, agar tidak kecewa di kemudian hari. Setiap orang ingin bahagia dan berjodoh selamanya, kan? Di dunia dan di akhirat kelak.

Berikut ini adalah panduan mencari jodoh dalam Islam:

1. Taat Kepada Allah dan Rasul-Nya
Ini adalah kriteria yang paling utama. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa." (QS. AlHujurat: 13).

Takwa artinya menjaga diri dari murka Allah, dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Orang yang mempunyai pemahaman agama baik, insya Allah akan selalu menjaga diri dan keluarganya untuk selalu berada di jalan Allah. Inilah poin terpenting dalam memilih calon suami atau istri.

2. Sekufu
Maksud dari sekufu ini adalah sebanding dalam hal status sosial, agama, keturunan, dan yang semisalnya. Banyak dalil yang menunjukkan anjuran ini. Salah satunya firman Allah berikut ini:

"Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula." (QS. An Nur: 26)

Salah satu hikmah dari anjuran ini adalah kesetaraan dalam agama dan status sosial dapat menjadi faktor langgengnya rumah tangga.

3. Menyenangkan Saat Dipandang

Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam dalam hadits yang telah disebutkan di atas membolehkan kita menjadikan faktor fisik sebagai salah satu kriteria dalam memilih calon pasangan. Paras yang cantik atau tampan, fisik yang menarik termasuk salah satu faktor penunjang keharmonisan rumah tangga. Maka mempertimbangkan hal ini saat memilih calon pasangan sejalan dengan tujuan dari pernikahan, yaitu menciptakan ketentraman hati.

Perhatikan firman Allah berikut ini:

"Dan diantara tanda kekuasaan Allah ialah Dia menciptakan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri aaagar kamu merasa tenteram dengannya." (QS. Ar Ruum: 21)

Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam juga menyebutkan empat ciri wanita salihah, salah satunya: " Jika memandangnya, membuat suami senang." (HR. Abu Dawud. Shahih)

Meskipun sebenarnya poin menarik untuk dipandang, cantik atau tampan itu relatif juga. Setidaknya ada sesuatu yang menarik dari calon pasangan kita. Entah senyumnya yang manis atau tutur katanya yang lembut. Itu menurut saya, sih.

4. Subur
Subur maksudnya adalah bisa menghasilkan keturunan. Salah satu tujuan dari pernikahan adalah meneruskan keturunan. Lahirnya generasi yang salih dan salihah, penerus dakwah Islam. Oleh karena itu, Rasulullah shallahu 'alaihi wassalam menganjurkan untuk memilih calon istri yang subur.

"Nikahilah wanita yang penyayang dan subur. Karena aku berbangga dengan banyaknya umatku" (HR. An Nasa'i, Abu Dawud. Hadits Hasan)

Itulah 4 panduan penting dalam memilih calon suami atau istri. Meskipun tidak menutup kemungkinan ada kriteria-kriteria tambahan lainnya. Tujuan utama dari sebuah pernikahan adalah bahagia dan tak ada seorang pun yang bercita-cita gagal dalam rumah tangga. Na'udzu billahi min dzalik.


Foto: Google


Referensi:

https://www.kaskus.co.id/thread/59993b17dcd770b0378b4576/seputar-bobot-bibit-bebet-biar-gak-salah-paham-

https://muslim.or.id/657-memilih-pasangan-idaman.html

Hindari 5 Hal Ini, Agar Pernikahan Langgeng

Semua serba indah dan membahagiakan, begitulah angan-angan kita sebelum menikah. Tak sabar menanti datangnya hari bahagia itu. Bahagia sela...