Sabtu, 22 Agustus 2020

Nikah Dulu, Baru Pacaran! 5 Tips Menumbuhkan Cinta Saat Memutuskan Menikah tanpa Pacaran


Alhamdulillah, saat ini pilihan untuk menikah tanpa pacaran terlebih dulu sudah bukan hal yang asing lagi di masyarakat. Terutama kaum muda muslim, yang ingin berusaha mengamalkan hidup secara islami. Toh, sebenarnya budaya perjodohan sudah ada sejak zaman dahulu kala. Jadi, bukan hal baru di dalam masyarakat.

Saat ini sudah banyak kaum muda yang sadar  untuk tidak menghabiskan waktu dengan sia-sia, membuang-buang waktu  dengan berpacaran dahulu sebelum menikah. Mereka yakin akan janji Allah Ta'ala, bahwa wanita yang baik insya Allah akan dipertemukan dengan pria yang baik dan demikian sebaliknya. Kalau kita lihat, beberapa selebriti tanah air pun melakukan hal yang sama. Mereka lebih memilih melalui proses taaruf sebelum menikah.

Taaruf adalah proses saling mengenal, yaitu saling mengenal calon pasangan dan keluarganya.  Daripada menghabiskan waktu muda pacaran, yang mungkin membuat lelah jiwa raga, lebih baik mereka menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Belajar yang rajin, merintis karier, merintis usaha, dan tak lupa memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Nah, masalahnya  dalam pernikahan harus ada saling adaptasi antar kedua belah pasangan baru, yang mungkin gampang-gampang susah bagi sebagian orang, karena mereka sebelumnya kan kurang begitu saling mengenal dalam keseharian. Rasa cinta pun mungkin baru mulai bersemi. Ada enggak sih kiat sukses menumbuhkan rasa cinta setelah pernikahan?

Pernah dengar atau baca sebuah perumpaan dalam bahasa Jawa? “Witing tresna jalaran saka kulina”, yang artinya bahwa tumbuhnya rasa cinta itu biasanya karena sering bersama-sama. Nah!

Banyak juga kan dalam keseharian cerita tentang hal itu? Misalnya dua orang yang awalnya berteman akrab, laki-laki dan perempuan, sering melakukan kegiatan bersama, akhirnya keduanya saling jatuh cinta. Atau beberapa cerita tentang terjadinya cinlok alias cinta lokasi. Jadi, sangatlah mungkin cinta itu akan muncul setelah menikah, meskipun tanpa melalui proses pacaran terlebih dahulu. Malah akan terasa indah bisa berpacaran setelah halal menjadi sepasang suami istri, tanpa khawatir dengan dosa. Ya, kan? Apalagi, setelah tahapan taaruf biasanya akan berlanjut dengan proses nadzhar alias saling melihat wajah masing-masing calon. Tak akan ada istilah “membeli kucing dalam karung” atau menikah tanpa mengetahui wajah atau bentuk fisik calon pasangan hidupnya. Nah, biasanya pada saat nadzhar, bibit-bibit rasa cinta akan mulai bersemi. Akan muncul rasa tertarik dan kemudian akan dilanjut dengan proses lamaran, yang disebut dengan khitbah.

Saat nadzar itulah biasanya akan muncul kemantapan hati, apakah akan lanjut ke proses selanjutnya atau mundur tidak melanjutkannya lagi. Jadi, intinya sangatlah mungkin menumbuhkan rasa cinta setelah pernikahan. Namun, tak ada salahnya juga 5 kiat berikut ini dicoba, ya!    

1. Dasari Hati dengan Cinta Kepada Allah

Allah-lah pemilik cinta yang sebenarnya. Berdoalah pada Allah supaya selalu ditumbuhkan rasa cinta pada pasangan. Allah Ta'ala akan kabulkan doa hamba-Nya yang bersungguh-sungguh meminta.

Saat berniat ingin menikah, luruskan niat bahwa pernikahan adalah sebuah ibadah yang agung. Allah akan dengan mudah menumbuhkan kasih sayang dan rasa cinta kepada hamba-hamba-Nya yang tulus ikhlas bermohon kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah berikut ini:

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptkan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar-Ruum: 21)

2. Berusaha Saling Memahami

Kunci dari sebuah hubungan antara dua manusia adalah adanya sikap saling memahami karakter masing-masing. Dua orang yang dibesarkan dari keluarga yang berbeda, pastilah punya kebiasaan dan karakter yang berbeda pula. Karakter biasanya agak susah untuk diubah. Yang bisa dilakukan adalah saling memahami serta sama-sama mau berubah sedikit demi sedikit untuk kebaikan bersama.

3. Sabar terhadap kekurangan pasangan

Setiap orang pasti punya kekurangan masing-masing, meskipun pasti ada pula kelebihannya. Fokuslah pada kebaikan dan kelebihannya, serta bersabarlah terhadap kekurangan pasangan. 

Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam:

"Janganlah seorang mukmin membenci wanita mukminah. Jika dia membenci salah satu perangainya, niscaya dia akan rida dengan perangainya yang lain." (HR. Muslim)

4. Gunakan Quality Time untuk Berpacaran Setelah Menikah

Nah, inilah saatnya kita berpacaran bersama pasangan yang halal dan sah. Pergunakan waktu kebersamaan ini dengan sebaik-baiknya untuk saling mengenal. Kalian bisa mengisinya dengan kegiatan bersama yang menyenangkan. Berlibur, jalan-jalan, menjalankan hobi, dan kegiatan asyik lainnya berdua. Indah, kan?

5. Yakin bahwa Dia yang Terbaik

Pasti dialah orang yang cocok untuk  kita. Jodoh yang sudah ditetapkan oleh Allah untuk menjalani kehidupan ini dan semoga juga tetap bersama-sama di surga-Nya. Masya Allah. Dialah yang terbaik dan yakinilah itu. Dengan keyakinan seperti itu, enggak akan lagi rasa bimbang dan ragu untuk bersama-sama menjalani suka dan duka. Betul?


Nah, cobalah  5 tips di atas. Insya Allah semuanya akan dimudahkan oleh Allah.  Tak ada yang tak mungkin di dunia. Berpacaran lama sebelum menikah bukanlah jaminan bahwa pernikahan akan langgeng dan baik-baik saja. Toh, banyak pula kan kita lihat beberapa orang yang sebelum menikah menjalin kasih hingga bertahun-tahun, kemudian akhirnya menikah, di kemudian hari mereka pun bercerai.

Banyak juga orang-orang tua kita zaman dulu yang pernikahan mereka melalui proses perjodohan dan tidak sempat berpacaran sebelum menikah, mereka hidup bahagia hingga akhir hayat. Jadi, berpacaran sebelum menikah bukanlah syarat mutlak untuk sebuah kebahagiaan dalam sebuah pernikahan. Mengikuti aturan Allah dan taat kepada-Nya adalah sebuah jaminan datangnya rida Allah. Kejar rida-Nya, insya Allah kebahagiaan yang hakiki akan kita dapatkan.

Bagaimana kalau sudah terlanjur pacaran sebelum menikah, ya minta ampun kepada Allah atas kelalaian kita. Perbaiki diri, menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Gantilah perbuatan buruk di masa lalu dengan amal-amal salih di masa kini. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam:

"Bertakwalah kepada Allah di mana pun Anda berada. Iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena kebaikan itu dapat menghapusnya. Serta bergaullah dengan orang lain dengan akhlak yang baik." (HR. Ahmad. Hadits Hasan Sahih)

Semoga pernikahan yang kita jalani bisa menjadi keluarga yang harmonis dan bisa bersama-sama menggapai surga-Nya. Aamiin

Bogor, 24 Agustus 2020


Rabu, 15 Juli 2020

Memahami Perbedaan Karakter Laki-Laki dan Perempuan

Salah satu resep rumah tangga yang langgeng dan bahagia adalah saling memahami pribadi masing-masing. Mengetahui karakter antara pria dan wanita itu penting. Meskipun setiap orang pasti akan punya karakter khas masing-masing. Tanpa memahami kepribadian pasangan, maka yang sering terjadi adalah kesalahpahaman, yang bisa berujung pada ketidakharmonisan hubungan dan memicu pertengkaran.

Pada dasarnya Allah ciptakan pria dan wanita itu memang berbeda untuk saling melengkapi. Meskipun tak jarang adanya perbedaan-perbedaan ini  karena sifat dasarnya yang memang bertolak belakang. Tujuan mengetahui perbedaan pria dan wanita adalah supaya bisa saling memaklumi.  Jadi semacam sunatullah bahwa di dunia ini akan selalu ada persamaan dan perbedaan. Sains telah membuktikan bahwa pria dan wanita mempunyai beberapa perbedaan biologis dan genetik yang cukup signifikan.

Dari beberapa artikel yang saya baca, memang ada beberapa perbedaan mendasar antara pria dan wanita, seperti berikut ini.


Cara Pandang yang Berbeda

Pada dasarnya pria dan wanita memiliki cara pandang yang berbeda. Wanita selalu lebih cepat berekspresi atas sebuah kejadian, dengan menangis, sedih, marah, kecewa, atau senang. Sedangkan pria lebih senang mencari solusi atas sebuah kejadian. Pria lebih suka membicarakan kejadian, sedangkan wanita lebih senang membicarakan siapa saja yang terlibat dalam kejadian tersebut. Pria biasanya tidak suka bercerita masalah-masalah pribadi.

Dalam memutuskan sesuatu pun, pria lebih mengutamakan rasio, sementara wanita biasanya lebih mendahulukan perasaannya. Allah memang sudah mentakdirkannya seperti itu. 

Tempat Menyimpan Lemak Berbeda

Wanita mempunyai tulang lebih besar dan lebar. Lemak pada wanita terletak di bagian punggung, sedangkan laki-laki di bagian perut.

Wanita Lebih Cerewet

Saat marah, perempuan lebih sering mengungkapkannya dengan cara mengomel. Kalau pria lebih memilih diam. Ketika sedang tertekan, wanita cenderung mengeluh dan mengomel sepanjang waktu untuk sekedar mengeluarkan tekanan dalam pikirannya. Namun, sebaliknya ketika pria sedang buntu pikirannya, mereka lebih suka diam menyendiri. Tak perlu berpikiran buruk, berikan saja waktu baginya untuk menenangkan diri.

Wanita Bisa Multitasking

Sebagaimana yang saya alami sendiri selama berumah tangga 22 tahun. Meskipun enggak terlalu terampil amat dalam mengatur rumah tangga, saya bisa mengerjakan beberapa hal sekaligus dalam satu waktu. Misalnya, sambil mengasuh anak bisa sambil mencuci baju (pakai mesin cuci), menyapu lantai, menggoreng, dan yang lainnya. 

Kalau saya perhatikan, suami saya tak bisa mengerjakan seperti itu dalam satu waktu sekaligus. Awalnya sih saya pikir karena memang dia enggak terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tapi setelah beberapa kali mendengar cerita yang sama dari teman-teman, ternyata memang begitu adanya. Perempuan diciptakan Allah multitasking. Ternyata memang otak pria hanya bisa fokus ke satu hal. Sedangkan koneksi-koneksi saraf pada otak wanita, membuatnya dapat melakukan banyak hal sekaligus pada waktu yang sama. 

Multitasking adalah dapat mengerjakan beberapa pekerjaan dalam satu waktu sekaligus. Sedangkan pria mengerjakan setiap pekerjaan mereka satu persatu.





Selasa, 14 Juli 2020

Ketika Jodoh Tak Kunjung Datang

Menikah adalah impian setiap orang, baik pria maupun wanita. Namun adakalanya Allah menguji hamba-Nya dengan datangnya jodoh yang tak pasti. Hingga terkadang membuat sebagian orang berputus asa dalam menanti datangnya sang pendamping hidup. Kegalauan tentang jodoh yang tak kunjung tiba, biasanya melanda para wanita. 

Apalagi masih ada sebagian masyarakat yang terkadang agak nyinyir, dengan melabeli perempuan yang terlambat menikah dengan istilah perawan tua, jomblo ngenes, enggak laku, dan istilah-istilah lainnya, yang kurang nyaman didengar. Sehingga, membuat para perempuan yang diuji dengan kondisi seperti ini terkadang menjadi 'baper' duluan. 

Sebagaimana kematian, rezeki, dan ajal, yang tidak diketahui oleh manusia, jodoh pun merupakan rahasia Allah. Tidak ada yang bisa memprediksi kapan datangnya, berjodoh dengan siapa, dan lain sebagainya.  Jodoh termasuk hal yang gaib, hanya Allah yang tahu. 


Lalu, apa sih yang sebaiknya dilakukan jika jodoh ternyata tak segera datang?

1. Bersabar

Ingatlah kata-kata ini, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam QS Al Baqarah, ayat 153: “Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."
Dan ada juga sebuah hadits yang sangat bagus untuk direnungkan isinya. “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999).

Jadi, bersabar terhadap apa yang Allah takdirkan, itulah sikap yang terbaik. Ditolak saat melamar atau ada peristiwa yang membuat batal menikah, itu semua adalah takdir Allah. Pasti mungkin ada perasaan kecewa, sedih, atau marah. Pikiran yang bisa membuat hati kita ikhlas adalah keyakinan bahwa itu bukan jodoh saya. Itu pasti bukan yang terbaik untuk saya. Walaupun mungkin hikmahnya baru terasa beberapa tahun kemudian. 

Tetaplah berperasangka baik kepada Allah. Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik pula menurut Allah. Begitu pula sebaliknya, apa yang menurut kita buruk, mungkin itu yang baik menurut Allah. Allah mempunyai cara tersendiri dalaam menyayangi hamnba-Nya. Bisa jadi Allah ingin kita mendapatkan orang yang betu-betul baik ibadahnya, sehingga diminta untuk bersabar sampai tiba saatnya.

2. Banyak Berdoa

Jangan lupa berdoa, terutama di waktu-waktu yang mustajabah. Allah akan kabulkan doa-doa hamba-Nya yang memang bersungguh-sungguh untuk meminta. Sebagaimana firman-Nya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah : 186)

Selalu berdoalah agar segera dipertemukan dengan jodoh yang baik, yang membuat ibadah kita kepada Allah semakin meningkat. Calon pasangan hidup yang selalu mengajak kita untuk selalu dalam kebaikan dan setia mengingatkan jika lalai. 

3. Isi Dengan Kegiatan Positif

Daripada menghabiskan waktu dengan kegalauan yang tiada guna, lebih baik manfaatkan waktu yang ada saat ini dengan kegiatan positif. Seperti berolahraga, pengajian, ataupun bergabung dengan komunitas positif lainnya. Dengan menyibukkan diri berkegiatan yang positif, insya Allah pikiran akan selalu positif dan optimis dalam menatap masa depan.

Barangkali juga Allah ingin agar kita lebih khusyu lagi dalam beribada kepada Allah. Atau mungkin juga masih banyak orang yang membutuhkan perhatian kita, sehinnga Allah tunda datangnya jodoh sampai waktu yang tepat.

4. Memantaskan Diri

Ingat sebuah firman Allah Ta'ala yang artinya: ”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).” QS. An-Nur: 26

Yakinlah bahwa Allah akan memberikan jodoh yang sesuai dengan kepasitas diri hamba-Nya. Untuk itu, teruslah memperbaiki dan memantaskan diri, agar Allah memberikan jodoh yang pantas. Sibukkan diri dengan melaksanakan ketaatan-ketaatan pada Allah. Buang keresahan-keresahan yang mengganggu pikiran dan membuat tidak produktif.  

5. Jangan Pedulikan Omongan Orang

Terlalu mendengarkan omongan orang yang kadang kurang pantas akan menghabiskan energi. Lebih baik tutup telinga dan sibukkan dengan meningkatkan kualitas diri, serta tak lupa selalu berpikiran positif. Orang lain yang tidak mengenal kita dengan baik terkadang memang selalu begitu. Terlalu mengurusi kehidupan orang lain, terlalu ikut campur dengan urusan orang.

Mungkin yang paling berat menghadapi pertanyaan keluarga besar, ya? Untuk itu siapkan mental saja, jangan dimasukkan hati. Anggap saja bahwa itu merupakan bentuk perhatian mereka pada kita. Jadi tetap tenang "keep calm and smile" kata orang zaman sekarang. Tak perlu marah dan kecewa karena jodoh tak kunjung datang. Pernah dengar istilah bahwa jodoh tak akan ke mana? Begitulah, kalau sudah jodoh akan selalu ada jalan untuk bertemu. Tugas kita hanya memantaskan diri agar Allah memberi jodoh yang terbaik.

Itulah 5 hal yang bisa dilakukan ketika Allah beri ujian dengan jodoh yang tak kunjung tiba. Yakinlah bahwa Allah tahu yang terbaik buat hamba-Nya. Ada baiknya kita melihat penderitaan saudara kita yang mungkin lebih parah, agar hati tetap selalu optimis. Sebenarnya nikmat Allah yang sudah kita terima lebih besar jika dibandingkan dengan rasa gundah karena belum datangnya jodoh.

Ingat sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam: "Lihatlah orang yang lebih rendah dari kalian, dan jangan melihat orang di atas kalian. Maka itu lebih layak untuk kalian agar tidak memandang hina nikmat yang telah Allah anugerahkan." (HR. Muslim)

Meski jodoh itu ada di tangan Allah, namun untuk mendapatkannya juga bukanlah tanpa usaha. Allah belum menampakkan jodoh kita, mungkin Allah melihat kita belum pantas untuk berumah tangga. Entah karena kurangnya ilmu yang kita miliki, bekal agam yang masih minim. Untuk itu, jangan bosan untuk selalu belajar. Persiapkan banyak bekal untuk membangun rumah tangga. Bekal dan ilmu untuk menjadi seorang istri, menjadi seorang menantu, menjadi seorang ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak. Jadi, tak ada gunanya berputus asa, bukan? Tetap semangat memandang masa depan!

Bogor, 14 Juli 2020


Foto: Shutterstock

Jangan Takut Menikah

Menikah adalah fase kehidupan yang dianggap sangat sakral dan bukan sekedar bermain peran.  Menikah itu erat kaitannya dengan masa depan, dunia dan akhirat.  Menyangkut masa depan anak-anak kelak dan hubungan dua keluarga.  Namun, sebuah pernikahan memiliki arti yang lebih mendalam daripada itu.

Jadi memang harus serius saat mempersiapkannya. Dimulai memilih calon suami atau istri. Kalau istilah zaman sekarang, menikah itu bukan kaleng-kaleng. Menikah bukan ajang perlombaan. Jangan menikah karena takut disebut 'gak laku'. Atau jangan menikah karena tuntutan lingkungan. 

Menikah adalah topik yang selalu menarik untuk dibahas, tak akan ada habisnya. Berikut ini adalah serba-serbi menikah:

Menikah itu indah, kalau

- Suami dan istri saling pengertian
Salah satu tips pernikahan yang bahagia adalah adanya pengertian antara suami dan istri serta saling memahami. 

- Suami dan istri mau saling membantu
Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam  pun sehari-hari tak segan membantu istrinya. Membantu istri tak akan menurunkan martabat seorang suami menurut saya. Untuk orang lain saja kita dianjurkan untuk salin tolong menolong. Tentu demikian juga harusnya dengan pasangan kita sendiri, kan?
  
- Suami dan istri saling melengkapi
Tak ada manusia yang sempurna. Menjadi sepasang suami istri berarti harus siap untuk saling melengkapi. Setiap orang diciptakan punya karakter unik. Imbasnya pasti setiap keluarga itu punya keunikan masing-masing. Tak ada yang sama.

Bagi kita yang tidak menganut budaya pacaran sebelum menikah, karakter atau kepribadian calon pasangan bisa didapat dari info sahabat atau keluarga dekatnya. Namun, jika kekurangannya baru kita ketahui setelah menikah dan masih bisa ditolerir, ya sama-sama saling memahami saja. Toh, pasti masih banyak kelebihan si dia. Jangan fokus pada kekurangannya. 

"Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai salah satu akhlaknya, hendaklah ia menyenangi akhlaknya yang lain." (HR. Muslim)

 Jangan takut menikah,  karena

- Menikah itu ibadah
Tujuan utama pernikahan adalah menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Namun ada yang lebih penting dari itu, yaitu menjalankan sunah Rasul dan mengamalkan sunahnya adalah termasuk ibadah kepada Allah.

"Nikah itu adalah sunah-ku. Barangsiapa membenci sunahku, bukanlah bagian dari kami." (HR. Bukhari Muslim)

Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan itu besarsekali. Allah menyebutnya sebagai ikatan yang kuat " mitsaqan ghaliidha", dalam surat An Nisa: 21.

" ... Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat." (QS. An Nisa: 21)


- Menikah itu adalah tuntutan naluri manusia yang asasi
Bagi yang sudah mampu menikah, dianjurkan untuk segera menikah karena menikah merupakan fitrah dan tuntutan naluri manusia. Naluri manusia itu dipenuhi oleh hawa nafsu, salah satunya rasa tertarik kepada lawan jenis. Untuk itu, menikah adalah solusi yang benar.

Jika naluri dan fitrah ini tidak tersalurkan dengan benar, akan terjadi banyak kemaksiatan. Seperti, pacaran, perzinaan, kumpul kepo, dan uyang semisalnya. Jadi, agama Islam memberikan petunjuk yang benar dengan mendorong untuk segera menikah bagi yang sudah mampu.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda: "Wahai para pemuda! Barangsiapa dianatar kalian berkemampuan untuk nikah, maka menikahlah. Karena meikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya." (HR. Bukhari Muslim)

- Menikah itu menyempurnakan agama

Menikah itu sebanding dengan separuh agama, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam: "Barangsiapa yang menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaknya ia bertakawa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi." (HR. Ath Thabrani. Hasan)

- Menikah itu adalah sebuah kebahagiaan

Islam melarang hidup membujang dan tidak ingin menikah. Anas bin Malik radhiallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam memerintahkan kami untuk menikah dan melarang kami membujang dengan larangan yang keras.

Menikah untuk mencapai sebuah kebahagiaan. Meskipun ada juga yang harus mengalami pernikahan yang pahit. Akan tetapi, pada dasarnya menikah itu untuk bahagia dan sebenarnya tak ada juga, orang yang menginginkan adanya perpisahan. 

Menikahlah:

- Jika Kamu yakin bahwa bersamanya, akan jadi lebih baik
Tak hanya dalam sebuah persahabatan, terdapat kaidah umum "Pilihlah teman dan lingkungan yang baik", dalam pernikahan pun berlaku aturan demikian. Pilihlah calon pasangan yang bisa membawamu ke arah yang lebih baik. Atu kata-kata indahnya adalah "Pilihlah seseorang yang mampu membuatmu merasakan bahwa surga Allah amat dekat."

Dalam memilih sahabat, Islam menggambarkannya dengan seorang pandai besi dan penjual minyak wangi. 

"Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap." (HR. Bukhari Muslim)

Ibaratnya, dalam memilih sahabat atau teman saja tak bisa sembarangan. Apalagi dalam memilih calon pendamping hidup, kan ya? Harus lebih hati-hati laki karena kita akan seumur hidup bersamanya. Baik dan buruknya pasangan kita, pasti akan berimbas pada kita juga.

Seorang pendamping hidup yang baik, pasti akan selalu mengingatkan tentang kebaikan-kebaikan dan tidak akan membiarkan kita dalam kejelekan. Bersama-sama untuk berubah ke arah yang lebih baik. Membawa pengaruh yang positif dalam hidup kita.

- Jika Kamu yakin dia akan menjadi imam yang baik
Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak.

"Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala negara) adalah peimpin manusia secara umum, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapan yang dipimpinnya." (HR. Bukhari Muslim)

Jika Kamu yakin bahwa si dia akan bisa membimbingmu menjadi pribadi yang lebih baik lagi atau bisa menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya kelak, maka menikahlah. Salah satu hak anak adalah memilihkan orang tua yang baik baginya.

- Meski Kamu belum mapan
Menikah tak harus menunggu mapan dan kaya. Mungkin ada yang ragu akan menikah karena merasa belum mapan atau karena khawatir tak bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga. 
Di beberapa tulisan dikatakan "Menikahlah saat Kamu belum mapan. Supaya tahu rasanya berjuang. Supaya anak-anakmu tahu
Faktor ekonomi memang penting di masa depan. Namun faktanya, tak banyak laki-laki yang sudah mapan di usia muda. Yang penting calon pendampingmu punya kriteria yang bisa diandalkan, yaitu smart, pekerja keras, dan gigih. Tak perlu ragu menikah dengannya. Menikah itu akan membuka pintu rezeki, sesuai janji Allah.  

"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengamn karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (An Nuur: 32)

"Ada tiga golongan manusia yang berhak mendapat pertolongan Allah, yaitu mujahid fi sabilillah, budaak yang menebus dirinya supaya merdeka, dan orang yang menikah karena ingin  memelihara kehormatannya." (HR. Ahmad. Hasan)

Banyak bukti bahwa setelah menikah menjadi lebih sukses, kan? Yang penting, seorang suami harus mempunyai tekad untuk sanggup memberi nafkah dan terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Jadi, menikah tak harus menunggu mapan, yang penting Kamu sudah mempunyai pekerjaan dan mau berusaha.

Bogor, 14 Juli 2020



Sabtu, 11 Juli 2020

Menikah Itu Sebuah Perjuangan, Butuh Kesabaran Lebih

Foto: www.madjongke.com



Ada yang bilang bahwa menikah itu indahnya cuma 10%, sisanya adalah perjuangan.  Betul banget, menikah adalah awal dari sebuah perjuangan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti perjuangan adalah usaha yang penuh dengan kesukaran dan bahaya.

Nah, menikah mungkin seperti itulah gambarannya. Untuk mencapai kebahagiaan butuh perjuangan dan usaha yang keras, tak bisa leha-leha. Setiap tahapnya akan selalu ada onak dan duri. Namun, bukan berarti seluruh hambatan itu tak bisa dilalui, ya. Toh, nyatanya banyak juga pernikahan yang langgeng dan bahagia. Meskipun banyak di media banyak diwarnai dengan perceraian para artis atau orang terkenal.

Saat ada yang menikah, ucapan yang disampaikan adalah "Selamat Menempuh Hidup Baru". Kalau dicek dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ucapan "Selamat Menempuh Hidup Baru" ini diartikan "Mudah-mudahan berbahagia dalam pernikahan yang dilangsungkan." Sebuah doa yang indah.

Dalam tuntunan Islam, ada doa khusus untuk mendoakan sepasang pengantin:

Baarakallahu laka wa baaraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khairin. 

"Semoga Allah memberkahimu di waktu bahagia dan memberkahimu di waktu susah, serta semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan." (HR. Abu Dawud)

Ya, sebagaimana sebuah kehidupan yang ada saat bahagia dan ada saat sedih, demikian juga sebuah pernikahan. Ada bahagia, ada tawa, ada canda, ada sedih, dan ada pula air mata. Bagi yang sudah bermental pejuang, insya Allah pernikahan akan indah-indah saja, dengan izin Allah pastinya. Bagi, yang masih bermental 'manja', pernikahan adalah sarana untuk belajar menjadi orang yang lebih tangguh.

Baiklah, kita simak lika-liku sebuah perjuangan kehidupan, yaitu menikah:


1. Perjuangan untuk  Menjadi Pasangan yang Baik

Menjadi suami istri yang baik adalah sebuah keharusan. Saling menjaga komitmen adalah sebuah kewajiban. Tanpa komitmen yang kuat, tak mungkin rumah tangga akan bisa bertahan. Saat terjadi perselisihan, tak serta merta solusinya adalah berpisah. 

Tak seperti saat pacaran yang bisa putus sambung, putus sambung. Kalau sudah terikat dalam sebuah pernikahan tak akan mungkin bisa begitu, kan. Harus bisa bertahan, apa pun yang terjadi. Kecuali, jika memang konfliknya sudah sangat berat. Harus dibantu oleh pihak ketiga yang bisa dipercaya dan netral. 

Berusaha menjadi pasangan yang baik itu, artinya juga harus berjuang untuk menjaga pandangan. Tidak lirik sana,  lirik sini. Tidak obral janji di sana sini. Tidak iseng-iseng mencoba untuk mendua atau yang lainnya. Harus puas dengan yang sudah menjadi pilihan kita. Tidak perlu membanding-bandingkan dengan yang lain.

2. Perjuangan untuk Menjadi Orang Tua yang Baik

Menjadi orang tua yang baik pun tidak akan terjadi begitu saja tanpa belajar dan berusaha. Pada setiap zaman, cara mendidik anak tidaklah sama. Kita sudah tidak bisa lagi mencontoh orang tua dulu dalam mendidik anak. Beda zaman, pasti akan beda tantangan.

Saat kita melihat orang tua yang sukses mendidik anaknya, hingga menjadi 'orang' istilahnya, pastilah proses yang mereka lalui tidaklah mudah. Saya yakin tak ada anak-anak yang dibiarkan saja tumbuh kembangnya, akan menjadi baik dengan sendirinya. Orang tuanyalah yang harus mencetaknya menjadi pribadi yang baik, salih salihah, berbakti pada orang tua, serta bermanfaat bagi orang lain. 

Setiap keluarga pasti punya cerita-cerita 'indah' saat-saat mengasuh dan mendidik anak. Biasanya tak akan sama antara satu keluarga dengan keluarga yang lain. Pasti banyak yang bilang, tak mudah mendidik anak, dari baru lahir hingga mereka dewasa dan mandiri. Butuh perjuangan dari orang tuanya untuk selalu belajar menjadi orang tua yang baik.


3. Perjuangan untuk Menjadi Menantu yang Baik

Menikah artinya juga kita akan menjadi menantu dari orang tua pasangan kita. Menjadi anak 'baru' bagi semula bukan siapa-siapa, yang pasti akan sangat berbeda dengan orang tua sendiri. 

Menjadi menantu yang baik dan bisa dibanggakan oleh mertua pun tak akan terjadi dengan serta merta. Harus ada usaha dari kita untuk bisa menjadi menantu yang baik. Apalagi kalau kita harus tinggal serumah bersama mertua. Jika tak bisa baik-baik menjaga perilaku dan sikap, pasti akan banyak drama yang terjadi. Namun, bukan berarti akan selalu ada konflik antara menantu mertua, ya, jika tinggal bersama dalam satu rumah. Banyak pula yang antara mertua dan menantu akur-akur saja dan saling menyayangi. 

Jika kita harus serumah bersama mertua atau saat menginap di rumah mertua, pasti akan beda dengan saat menginap di rumah orang tua sendiri. Kita yang mungkin agak 'pemalas' dan kurang cekatan dalam mengatur rumah, tidak sepantasnya tetap begitu saat ada mertua. Tunjukkan bahwa kita adalah menantu yang baik dan anaknya tidak salah dalam memilih pasangan hidup. Orang tua kita masing-masing pun akan merasa lega dengan pilihan pendamping anak-anaknya, jika melihat kita adalah menantu yang baik. 

4. Perjuangan untuk Memenuhi Ekonomi Keluarga

Jika saat masih lajang, para lelaki bisa menikmati gajinya dengan sesuka hati atau seorang wanita, tinggal minta uang pada orang tuanya. Namun, tidak demikian kondisinya saat memutuskan untuk berumah tangga. Seorang laki-laki akan menjadi suami, yang otomatis adalah seorang kepala keluarga. Dia harus bertanggung jawab memenuhi kebutuhan hidup istri dan anak-anaknya.

Sementara seorang perempuan akan menjadi istri yang biasanya bertanggung jawab dalam mengelola keuangan keluarga. Atau ada pula istri yang memang sebelum menikah sudah bekerja. Bagi seorang istri, berapa pun rezeki yang diberi oleh suaminya, harus dibelanjakan dengan bijak dan penuh rasa syukur.  Terlalu banyak menuntut pada suami yang sudah berusaha bekerja keras, tak akan membuat hidup bahagia. Begitulah faktanya, jika ingin selalu bahagia harus pandai bersyukur. Bersyukur suami masih bisa bekerja dan mempunyai gaji, serta tidak banyak menuntut di luar kemampuan suami. 

Sebuah kisah rumah tangga dalam masalah perjuangan ekonomi sangat banyak. Ada yang harus jatuh bangun terlebih dahulu, hingga akhirnya mencapai kesuksesan. Ada pula yang sebelumnya berlimpah dengan kekayaan, tapi akhirnya bangkrut dan harus merangkak lagi dari nol. Atau seorang istri yang tadinya tidak bekerja, terpaksa harus menjadi tulang punggung keluarga karena suami yang tidak mampu mencari nafkah lagi. 

Masih banyak cerita rumah tangga lainnya. Intinya kita memang harus siap dalam setiap kondisi. Menikah adalah sebuah perjuangan.

5. Perjuangan untuk Bisa Selalu Bahagia

Pada intinya sesuatu yang baik itu butuh perjuangan. Menjadi orang yang bahagia juga butuh perjuangan dan kerja keras untuk mewujudkannya. Perjuangan hingga akhir hayat. Siapa yang menuai, pasti akan memetiknya. Jika selama ini, kita mendidik anak-anak dengan baik, insya Allah hasilnya akan terlihat saat mereka dewasa kelak. Saat kita sudah renta dan gantian anak-anak yang akan merawat. 

Kita sebagai orang tua akan merasa lega, saat semua anak-anak sudah berkeluarga dan mandiri. Anak-anak bahagia juga bersama keluarganya masing-masing. Biasanya kalau pernikahan orang tuanya adem ayem dan bahagia, anak-anak pun akan mempunyai rekaman yang baik tentang sebuah pernikahan. 

Bahagia dan tidaknya sebuah pernikahan, kitalah yang harus berusaha mewujudkannya. Harus ada usaha dan doa, mungkin juga keringat dan air mata. Hingga tercipta sebuah kebahagiaan lahir batin bagi seluruh anggota rumah tangganya.  Bahagia adalah apa yang kita rasakan dan tak ada hubungan dengan kekayaan yang berlimpah. Bahagia adalah urusan batin dan jiwa.

Jadi, akan ada banyak hal baru yang akan dihadapi setelah menikah. Terkadang tak hanya membuat bahagia, tapi bisa juga bikin hati porak poranda. Mengalami trauma pernikahan. Membangun dan mempertahan rumah tangga bahagia butuh komitmen dan tanggung jawab yang kuat dari masing-masing pasangan. Sudah yakin, kan, bahwa menikah itu adalah sebuah perjuangan?


Bogor, 12 Juli 2020

Jumat, 10 Juli 2020

Menikah Tak Selamanya Indah

Dokumen Pribadi

Saat remaja atau memasuki usia dewasa, orang yang mempunyai pengalaman indah pernikahan orang tuanya, pasti berpikir bahwa menikah itu sangat indah dan bahagia selamanya. Sebagaimana di cerita-cerita komik, yang endingnya biasanya berupa kalimat: "Akhirnya  mereka menikah dan bahagia selamanya." 

Dalam benak kita yang belum menikah juga begitu mungkin. Setelah menikah, akan selalu bersama dengan orang yang kita cintai, makan bersama, tidur bersama, selalu bersama dalam suka dan duka. Begitu indah! 

Betul juga sih dan tidak salah ...  

Bagi orang yang sudah menikah, pasti akan bilang bahwa menikah dan membangun rumah tangga itu tak selamanya indah, lo. Ada saatnya kita diberi ujian selama menjalani pernikahan. Jadi menikah dengan hanya modal cinta tak akan cukup.

Bagi orang yang berpikir dewasa, saat menerima pinangan seorang laki-laki atau memilih calon istri, memang harus benar-benar mempertimbangkan kepribadian calon pasangannya. Jadi menikah hanya bermodal karena saling cinta saja tak akan cukup. Yang paling penting justru adalah bagaimana selalu bisa mempertahankan cinta. Faktanya pernikahan akan diwarnai oleh kebahagiaan, kesedihan, dan aneka problem lainnya, yang menguji komitmen kita.

Banyak yang menikah hanya sekedar memperispakan fifik semata, tanpa menyiapkan mentalnya. Saat masalah mulai muncul dalam rumah tangga, kebanyakan solusi yang diambil adalah bercerai. Padahal mungkin pernikahan mereka sebenarnya masih bisa diperbaiki.

Kebiasaan dan Hobi  Pasangan 

Pasti setiap orang punya kebiasaan-kebiasaan yang sudah jadi tradisinya bertahun-tahun. Ada yang punya kebiasaan mengupil (maaf), mendengkur saat tidur, kentut (maaf) sembarangan, berpakaian tidak rapi, atau kebiasaan yang dianggap buruk lainnya. Kebiasaan-kebiasan ini bagi pelakunya biasanya dirasakan sebagai kenyamanan dan dilakukan setiap hari serta berulang-ulang.   

Nah, yang menjadi masalah adalah saat pasangan kita kurang menyukai kebiasaannya itu. Saat tidur berdua, terdengar dengkuran yang keras. Orang menjadi susah tidur. Saat makan berdua, eh si dia kentut. Jadi, ilfil ya kita. 

Karena sudah menjadi kebiasaan, biasanya susah hilang. Yang bisa dilakukan adalah menoleransi kebiasaan tersebut atau membicarakannya baik-baik bahwa kita sangat terganggu dengan kebiasaannya tersebut. Bisa berubah atau tidak, ya tergantung niat yang kuat dari sang pelaku. 

Masalah hobi pun demikian. Ada suami yang hobinya memelihara burung, sementara istrinya tak suka. Ada istri yang hobinya beres-beres, tapi sang suami slonong boy, senang meletakkan barang di mana saja.  Jadi  enggak bisa match kan? 

Bila masing-masing pihak bisa legawa dengan kebiasaan dan hobi pasangannya, ya the life must go on ya ... dan pada akhirnya jika ingin bertahan, ya memang harus saling menerima dan lapang dada. Apalagi kalau pada akhirnya bisa saling menikmati kebiasaan dan hobi pasangannya masing-masing. Menekuni hobi yang sama dan aktif di komunitas yang sama pula. Indah ...  

Atau jika setelah didiskusikan tak ada titik temu, solusinya adalah membuat kesepakatan-kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak, win-win solution. Ya, memang selama pernikahan pasti akan banyak kesepakatan-kesepakatan yang dibuat.

Harus Membantu Mencari Nafkah

Menurut saya, saat seseorang sudah menikah, semua permasalahan harus dihadapi bersama. Saat dihadapkan dengan masalah ekonomi keluarga, semua pasangan suami istri tentunya harus kompak mencari solusi. Bahkan mungkin ada yang akhirnya sang istri turut membantu suami menambah penghasilan keluarga. Dan memang sudah seharusnya begitu, bukan?

Enggak mungkin kan, kita membiarkan  orang yang kita cintai menanggung beban seorang diri. Sebagai istri yang baik, sudah hal yang wajar kita turut membantu memikirkannya. Sehingga bisa jadi, sang istri akhirnya ikut bekerja mencari tambahan penghasilan. Bahkan ada yang kemudian harus menjadi pengganti tulang punggung karena suami sakit keras dan tidak bisa bekerja lagi. Dramatis memang. Tapi, memang begitulah kenyataan hidup berkeluarga.

Sebagai penyejuk jiwa, ada baiknya ingat sebuah hadits  Rasulullah shallahu 'alaihi wassalam

"Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan melapangkan darinya satu kesusahan di hari kiamat ...  (HR. Muslim)

Insya Allah kalau kita ikhlas dan sabar menjalaninya akan menjadi ladang pahala bagi.

Kecewa Terhadap Pasangan 

Saat pacaran, biasanya semua akan terlihat indah. Walaupun saat itu mungkin pernah terlihat karakter aslinya, tapi terasa tak masalah. Demi cinta, semua terlihat baik-baik saja. Ketika sudah menikah, baru terlihat karakter aslinya.

Bersyukur jika memang kita ternyata tidak salah pilih pasangan hidup. Apa yang selama ini kita lihat darinya, ternyata memang benar begitu adanya. Asli tanpa banyak sandiwara.

Namun, ada kalanya yang salah prediksi. Terlihat baik, sopan, bertanggung jawab selama pacaran atau saat proses pernikahan, ternyata januh panggang daripada api. Sangat bertolak belakang dan mengecewakan.

Jadi, pacaran sebelum menikah tak akan menjamin kita tahu semua kepribadian dan watak aslinya dan tak akan menjamin bahwa rumah tangganya akan langgeng hingga akhir hayat. Bisa jadi pula, orang yang tidak berpacaran sebelum menikah, pernikahannya bahagia dan awet.

Untuk itu, mengetahui dengan baik kebiasaan, kepribadian, dan hal-hal pribadi calon suami atau istri adalah sebuah keharusan. Bagi yang langsung menikah, tanpa proses pacaran dulu, bisa bertanya-tanya kepada para sahabat atau saudara dekat calon pasangannya sert jangan lupa berdoa agar dimudahkan Allah dan tidak salah pilih. 

Long Distance Relation (LDR)

Menjalani hubungan jarak jauh dengan pasangannya, biasanya karena tuntutan pekerjaan. Tidak semua pasangan suami istri mampu menjalaninya. Kalaupun misalnya harus memilih kondisi ini karena pasti dengan berbagai pertimbangan. Tak mudah memang menjalaninya, butuh komitmen yang kuat untuk tetap mempertahankan keutuhan rumah tangga.

Memang sih sebaiknya suami istri itu tidak boleh terlalu lama berpisah. Walau bagaimana pun juga, kedekatan fisik dengan pasangan sangat menentukan keharmonisan rumah tangga. Harus selalu diciptakan bonding dengan pasangan. Bagi yang sudah mempunyai anak, kehadiran sang ayah setiap hari akan memberikan pengaruh besar pada proses tumbuh kembang anak. 

Dari banyak cerita yang beredar, godaan bagi pasangan yang LDR sangat besar. Jadi, kehadiran  pasangan kita secara fisik dalam menjalani kehidupan pernikahan bisa menjadi rem agar tidak kebablasan saat datang diuji dengan hadirnya orang ketiga.  


Persiapan Fisik dan Mental, serta Ilmu Sebelum menikah

Terkadang masalah dalam pernikahan cuma hal-hal sepele, tapi kadang dari masalah sepele ini bisa berujung pada perceraian. Ditambah lagi, tak banyak orang tua mau bercerita tentang hal-hal yang tak selalu indah dalam sebuah pernikahan. Untuk itu, memang sebelum menikah, tak hanya fisik saja yang harus disiapkan, mental pun harus kuat. Banyak membaca tentang persiapan penikahan dari sisi agama dan bacaan lain tentang seluk beluk pernikahan, insya Allah bisa membantu.

Saya pun demikian terhadap anak gadis saya yang saat ini berusia 21 tahun. Sering bercerita tentang apa saja yang harus dihadapi dalam sebuah rumah tangga. Kebetulan kami pun sudah mengedukasi anak-anak sejak kecil bahwa tak ada pacaran sebelum menikah. Fokuslah pada memperbaiki diri, insya Allah akan diberi jodoh yang sesuai dengan kualitas kita. 









Selasa, 07 Juli 2020

Beberapa Penyebab Terjadinya Perceraian

Dalam Islam, pernikahan adalah ikatan yang kuat untuk menyatukan suami istri. Membentuk keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Islam pun memotivasi agar kaum muslimin menjaga mahligai rumah tangga mereka dengan baik.  

Sebenarnya tak ada orang yang menikah yang ingin berpisah atau bercerai. Pasti semua ingin awet dan langgeng serta bahagia pernikahannya hingga akhir hayat. Namun, mungkin sudah tak ada jalan lain, sehingga mereka memilih untuk mengakhiri rumah tangganya. 

Memisahkan hubungan pernikahan dengan  perceraian, hukum asalnya adalah TERLARANG. Perceraian bisa dilakukan sepanjang ada alasan yang kuat, seperti tidak bisa melanjutkan lagi kehidupan rumah tangganya dan sudah tidak mungkin ditempuh jalan damai. Jadi hukum asal merusak hubungan suami istri itu terlarang. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam:


لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ اِمْرَأَةً عَلَى زَْجِهَا أَوْ عَبْدًا عَلَى سَيِّدِهِ
"Bukan termasuk golongan kami, orang yang membujuk seorang perempuan memusuhi suaminya atau membujuk seorang budak untuk memusuhi tuannya." (HR. Abu Daud. Sahih)
Seorang wanita pun terlarang meminta cerai tanpa ada sebab syari. Seperti hadits berikut ini:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاَقًا فِى غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّة
"Wanita mana saja yang meminta talak (cerai) tanpa ada alasan yang jelas, maka haram baginya mencium bau surga." (HR. Abu Daud, Ibnu Majah. Hadits Hasan)
Dari beberapa berita dikabarkan bahwa angka perceraian pada masyarakat meningkat tajam. Untuk itu, kita harus mengetahui sebab-sebabnya agar bisa menghindarinya.  


Foto: Dok.JawaPos.Com

Beberapa Penyebab Terjadinya Perceraian

1. Salah Dalam Memilih Pasangan


Salah satu penyebab terjadinya perceraian adalah salah dalam memilih pasangan dan baru tahu karakter sebenarnya setelah menikah. Mungkin ada yang menyalahkan, "Makanya pacaran dulu sebelum menikah. Supaya tahu calon suami atau istri yang sebenarnya."

Padahal kenyataannya, belum tentu orang yang lama pacaran sebelum menikah, pernikahannya akan langgeng juga kan? Dan belum tentu juga, orang yang menikah tanpa pacaran sebelumnya pernikahannya hanya seumur jagung. Betul? 

Atau bisa jadi, sebelum menikah sudah mengetahui kebiasaan buruk calon pasangannya. Namun, karena sudah terlanjur cinta mati kejelekan-kejelekannya tertutupi oleh besarnya rasa cinta. Jadi benar kalau dikatakan  bahwa cinta itu buta. Orang kalau sedang dimabuk cinta, tahi kucing pun rasa coklat.

Untuk itu, sebelum menikah harus benar-benar mengetahui agama, akhlak, dan karakter si calon. Bisa lewat sahabatnya, saudara dekatnya, atau mungkin di zaman media sosial seperti sekarang ini, kita bisa mengintip postingan-postingan di akun media sosialnya. Meskipun belum tentu juga apa yang di postingnya di media sosial mencerminkan kepribadiannya juga, sih. Jadi memang sekarang itu harus lebih berhati-hati. 

2. Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Kekerasan dalam rumah tangga sering disingkat menjadi KDRT. Korban KDRT biasanya adalah pihak istri. Selain kekerasan fisik, kekerasan verbal juga dapat dikategorikan sebagai KDRT. Contoh kekerasan fisik misalnya pemukulan, penganiayaan, dan yang semisalnya. Kekerasan verbal, contohnya adalah kata-kata kasar, umpatan, hinaan, dan yang serupa dengan itu.

KDRT biasanya diawali dengan pertengkaran dan akhirnya berakhir dengan kekerasan. Jika hal ini terjadi terus menerus dan pihak suami tak berusaha perubah, bisa menimbukan tekanan jiwa dan depresi. Meminta bantuan pihak ketiga atau keluarga yang dipercaya, bisa jadi solusi. Namun, jika tak ada perubahan, perceraian dianggap sebagai solusi terbaik.

3. Terjadi Perselingkuhan


Luka akibat perselingkuhan yang dilakukan oleh pasangan biasanya sangat sulit untuk diobati. Perasaan sudah dikhianati, sedih, kecewa, semua bercampur menjadi satu. Bagi yang berprinsip "Jika ada salah satu yang berselingkuh, maka perkawinan harus diakhiri", berarti wassalam sudah nasib pernikahannya. Alhamdulillah jika akhirnya bisa saling memaafkan dan berusaha membangun pondasi pernikahan, perpisahan bisa dihindari.

Perselingkuhan bisa terjadi karena hanya iseng atau memang sedang bermasalah dengan pasangan, dan sebab yang lainnya. Memulihakan diri dari rasa sakit akibat perselingkuhan menjadi satu hal yang sulit. Namun, bukan sesuatu yang mustahil. Meskipun mungkin butuh konselor pernikahan untuk membantu memulihkan luka.  

4. Masalah Keuangan


Masalah keuangan atau ekonomi juga bisa menjadi pemicu terjadinya perceraian. Kebutuhan rumah tangga yang tidak bisa dipenuhi dengan baik bisa menjadi masalah besar dalam rumah tangga. Merosotnya pendapatan keluarga akibat terkena PHK, bangkrut usahanya, dan lain-lain. Atau mungkin karena sebab lainnya, seperti gaya hidup yang terlalu tinggi, tidak bisa mengelola keuangan dengan baik.

Jika memang pemicu masalah ekonomi adalah karena musibah yang harus diterima, ada baiknya sama-sama bersabar dan segera bangkit mencari solusi, saling menguatkan. Jika masalahnya karena pengelolaan keuangan rumah tangga yang buruk, besar pasak daripada tiang, sebaiknya segera perbaiki dan konsultasi kepada ahli finansial keluarga supaya masalahnya segera diatasi dan keharmonisan rumah tangga bisa dipertahankan.   

5. Perbedaan Prinsip yang Tidak Bisa Disatukan


Perbedaan prinsip yang sudah tidak bisa diselaraskan dengan pasangan juga bisa memicu terjadinya perceraian. Seperti perbedaan keyakinan, perbedaan prinsip hidup, atau perbedaan status sosial yang akhirnya semakin meruncing.

Bisa jadi sebenarnya perbedaan-perbedaan ini sudah ada sebelum terjadinya pernikahan. Mungkin seiring dengan berjalannya waktu, mereka berharap semua perbedaan ini sudah tidak menjadi masalah. Ternyata, kenyataan berbicara lain tidak terjadi kesepakatan-kesepakatan yang menentramkan dan akhirnya perpisahan tak bisa dihindarkan lagi. Sebenarnya, jika masih ada rasa toleransi dan saling memahami, perbedaan bukan suatu masalah yang bisa memicu terjadinya perceraian.Akan tetapi, kalau terjadi perbedaan keyakinan memang agak susah untuk dipertahankan. 

Itulah 5 hal yang bisa menjadi penyebab terjadinya perceraian dalam rumah tangga. Semoga kita semua terhindar dari masalah ini. Aamiin

Referensi:
https://rumaysho.com/22501-sebab-sebab-perceraian-intisari-khutbah-jumat-masjidil-haram.html

Nikah Dulu, Baru Pacaran! 5 Tips Menumbuhkan Cinta Saat Memutuskan Menikah tanpa Pacaran

Alhamdulillah, saat ini pilihan untuk menikah tanpa pacaran terlebih dulu sudah bukan hal yang asing lagi di masyarakat. Terutama kaum muda ...