Senin, 09 Mei 2016

IBU MENGAJARIKU BAHAGIA

Selalu terngiang pesan ibu: Kowe sing sabar ya nduk, sing pinter nek momong anak. Atau di lain waktu, beliau menasehati: sing sabar, ora usah dipikir nemen-nemen, ngko ndak malah lara. Anakmu isih cilik-cilik. Begitu selalu nasehat ibu, dalam bahasa Jawa, setiap kali saya menelepon ibu seminggu sekali.
Sepertinya tidak ada satu pun ibu di dunia ini yang ingin anaknya susah. Pasti semua ibu ingin anak-anaknya hidup bahagia. Kebahagiaan seorang anak adalah kebahagiaan ibu juga. Meskipun anaknya itu sudah berkeluarga, tetap saja naluri seorang ibu masih ingin memberikan yang terbaik buat anaknya. Apakah itu berupa nasehat, berupa materi, ataupun berupa tenaga dan pikiran. Bahkan, tak jarang seorang ibu yang masih membantu mengasuh cucu-cucunya dengan ikhlas. Karena hanya berharap anaknya bisa bekerja di luar rumah dengan tenang.
Demikian juga dengan ibu saya. Di usia saya yang sudah 40 tahun, ibu saya masih sering mengingatkan saya untuk berhati-hati menjaga rumah, jangan lupa matikan api, pintu-pintu dicek lagi kalau mau tidur, dan lain-lain. Termasuk juga dalam masalah kesehatan, misalnya dengan selalu mengingatkan saya untuk menjaga pola makan, makan tidak berlebihan, rajin cek kondisi tubuh, dan lain sebagainya. Itulah seorang ibu, beliau hanya menginginkan anaknya selalu dalam kondisi yang baik-baik saja. Itulah arti kebahagiaan bagi seorang ibu.
Dari ibulah kita belajar apa arti sebuah kebahagiaan. Dan kebahagiaan yang sebenarnya adalah adanya kasih sayang seorang ibu. Betapa banyak anak-anak yang tidak semasa hidupnya tidak dapat merasakan belaian sayang ibunya, entah karena ibunya meninggal ketika dia masih bayi ataupun karena adanya perceraian. Dalam lubuk hati mereka pasti tersimpan kerinduan akan belaian seorang ibu. Bahkan mungkin juga terselip rasa iri melihat teman-temannya yang bisa bermanja-manja dengan ibunya.
Salah satu pelajaran tentang arti sebuah kebahagiaan dari ibuku adalah tentang makna syukur dan sabar. Yaitu selalu bersyukur apapun kondisi kita dan bersabar. Mau susah ataupun senang, semuanya harus kita syukuri. Niscaya kita akan senantiasa merasakan kebahagiaan.
Ibu selalu mengingatkan saya untuk selalu bersabar dalam segala keadaan dan bersyukur dalam situasi apa pun. Rasa syukur itulah yang membuat kita senantiasa merasa bahagia.
Tak hanya mengajari tentang bagaimana untuk selalu berbahagia, bahkan ibu pun memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ibu butuh uang yang agak banyak untuk sebuah keperluan rumah tangga dan ketika itu mungkin belum tercukupi, ibu nggak pernah menunjukkan sikap sedih atau pun berkeluh kesah. Tetap seperti biasa. Sebagaimana pesan beliau kepada saya: "Kamu punya uang atau pun tidak, gak usah kamu perlihatkan kepada orang lain, cukup kita sendiri yang tahu." Itulah kebahagiaan yang sesungguhnya. Mempunyai ibu yang selalu memperhatikan dan menyayangi kita sepanjang hayat,dengan tulus, tanpa pamrih.
  Note: ditulis dalam rangka ikut lomba di Gadget Muslimah Desember 2015

IBU, BISNIS, DAN NULIS

Bagi saya berbisnis dan menulis adalah sebuah refresing. Bisnis dan nulis adalah sarana bagi saya untuk melepaskan kepenatan sebagai seorang ibu rumah tangga. Tak bisa dipungkiri bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga murni atau full time mother terkadang membosankan. Kenapa? Karena dari bangun tidur hingga tidur lagi, berkutat dengan itu-itu saja, kadang terasa monoton dan membosankan. 
Bukan berarti nggak ikhlas berprofesi sebagai ibu rumah tangga lho ya...tapi lebih kepada bisa menjalani profesi sebagai ibu rumah tangga dengan bahagia, tulus, dan ikhlas. Kalau kita ikhlas menjalaninya, insya Allah berpahala dan bernilai ibadah. Ikhlas dan bahagia itu kuncinya.
Untuk selalu menjaga keikhlasan dan rasa bahagia itu, mungkin setiap orang punya trik sendiri-sendiri. Kalau saya dengan berbisnis dan menulis cukup menjadikan diri saya sedikit rileks. 
Dengan berbisnis kita bisa sejenak melepaskan sedikit rutinitas sebagai ibu rumah tangga. Bayangkan, pekerjaan seorang ibu rumah tangga, jika nggak ada asisten rumah tangga bisa 12 jam sehari, apalagi bila ditambah dengan tugas mengasuh anak. Kalau kita menjalaninya tanpa keikhlasan dan gembira, akan terasa berat dan membosankan.
Pekerjaan mengasuh anak adalah pekerjaan yang sangat menguras jiwa dan raga. Pekerjaan yang kadang sangat menguras emosi. Kalau seorang ibu rumah tangga tidak bisa mengelola emosinya dengan baik, ketika ada perasaan marah yang tak tersalurkan, terkadang yang menjadi sasaran adalah anaknya. Padahal yang namanya anak-anak itu tidak selamanya bisa bersikap ‘nice’ sepanjang hari. Ada kalanya, seorang anak dalam usia tumbuh kembang ada yang membuat kita marah atau jengkel. Atau ketika kita sedang berselisih pendapat dengan suami dan tidak terlampiaskan emosi kita, anak akan jadi sasaran. Oleh karena itu, seorang ibu rumah tangga butuh ‘me time’, waktu untuk sekedar relaksasi diri, melepaskan beban yang seharian diembannya.
Nah, dengan berbisnis saya merasakan ada nuansa lain, dengan menulis saya merasa ada tambahan spirit. Merasa punya energi baru, energi yang terbarukan. Menjadi semangat lagi menghadapi tantangan. 
Wanita itu sebenarnya diciptakan multitasking alias banyak kebisaan, bisa nyambi beberapa pekerjaan sekaligus. Ketika masak, bisa nyambi ngasuh, nyambi nyuci piring, dan lain-lain. Sebagai seorang ibu, wanita juga bisa nyambi berbisnis atau memanfaatkan waktu dengan menulis. Ada yang sekedar hobby saja ataupun dikembangkan menjadi profesi. Makanya, potensi wanita, kalau kita gali lebih dalam lagi bisa menakjubkan. Tak hanya piawai mengatur urusan rumah tangga, seorang ibu kadang juga piawai berbisnis, bahkan bisa menulis dengan apik. Sebuah anugerah yang luar biasa dari Allah. Maka, jangan sia-siakan waktu dan kemampuan kita. 

 Note: ditulis dalam rangka ikut lomba di emak pintar asia, Desember 2015 dan menang. Dapat hadiah LM 1gr

Minggu, 08 Mei 2016

IBU ADALAH SUMBER KEBAHAGIAAN

Sakit flu kemarin, demam dan pusing, serta hidung mampet membuatku harus tergeletak tanpa mengerjakan apa pun. Seharian hanya tiduran aja. Aktifitas rumah tangga dan menemani anak-anak digantikan oleh suami, karena kalau hari ahad asisten rumah tangga libur.

Dan pagi tadi karena sudah agak baikan, saya sudah bangun dari tempat tidur untuk menyiapkan sarapan dan perlengkapan anak-anak yang mau ke sekolah. Melihat saya sudah beraktifitas, salah seorang anak saya bertanya: ummi sudah sembuh? Nanti ummi sakit lagi nggak? Belum sempat saya jawab pertanyaannya, anak ke-3 saya bangun tidur juga langsung menanyakan kondisi saya, apakah ummi sudah sembuh? Terharu saya mendengarnya. Saya katakan pada mereka: alhamdulillah, ummi sudah membaik, semoga nggak sakit-sakit lagi ya. Dan mereka pun langsung tersenyum senang.
Hari ini pun, ketika anak-anak pulang sekolah, pertama kali yang ditanyakan juga: ummi sudah sembuh? Termasuk komentar suami: saya senang kalau ummi sudah ceria lagi. Hehehe..

Begitulah seorang ibu, dia selalu dinantikan keberadaannya oleh seluruh anggota keluarganya, terutama anak-anak. Ketika anak-anak pulang sekolah, pasti yang ditanyakan atau yang dicari adalah ummi. Biasanya yang diucapkan: ummi mana? Kalau misal , karena sesuatu hal saya harus keluar rumah dan belum pulang ketika anak saya pulang sekolah, biasanya dia akan protes: ummi, kalau aku sekolah, ummi jangan pergi ke mana-mana ya.

Jadi, mungkin anak-anak yang sudah terbiasa ibunya selalu ada di sampingnya, akan sangat merasa ‘kehilangan’ ketika si ibu itu nggak kelihatan batang hidungnya. Terutama ketika mereka pulang sekolah. Karena mungkin ada banyak hal yang ingin mereka ceritakan pada ibu tentang apa yang terjadi di sekolah tadi. Cerita tentang masalah teman, tentang apa kata bu guru, dan lain-lain. Meski tanpa kita tanya sebelumnya, kadang mereka refleks bercerita tentang apa yang mereka alami di sekolah. Bercerita kepada ibu mungkin sesuatu yang membuat mereka nyaman.

Saya sendiri sudah berkomitmen untuk sudah selalu ada di rumah ketika anak-anak pulang sekolah atau ketika suami ada di rumah. Dan berusaha tidak beraktifitas yang lain ketika anak-anak ada di rumah, selain menemani mereka bermain, belajar atau menonton. Kalaupun harus keluar, biasanya selalu ada anak-anak di belakang saya.

Begitulah ibu adalah sumber kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang dirasakan atau sesuatu kondisi yang menimpa seorang ibu akan dirasakan juga oleh orang-orang di sekitarnya.



Tentangmu

Saat itu Aku bertekad akan melupakanmu, melupakan kisah kita, melupakan semua tentangmu. 

Aku ingin memulai hidupku yg baru, kehidupan tanpamu karena Allah ...

Kupasrahkan angan dan jiwaku padaNya.. 

Dengan janjiku padamu, bila kita memang berjodoh, Allah akan pertemukan kita kembali ...

Aku tak tahu apa yang akan terjadi dalam hidupku kemudian... 

Hanya pasrah dan harapan yang besar kusandarkan pada kekuasaanMu ya Allah... 

Kupasrahkan diriku padaMu, pada kuasa dan kehendakMu. 

Kau Maha Tahu yang terbaik buatku...

Aku ingin bersanding dengan seseorang yang halal karenaMu.

Cinta karenaMu dalam pernikahan yang islami...

 

3 Tips Jitu Mengatasi Mabuk Kendaraan Ala Saya

Sumber: Google Mabuk saat naik kendaraan umum, dulu sering saya rasakan. Terutama saat awal-awal harus kost di SMA, yang jauh dari or...