Senin, 01 Agustus 2016

KETINGGALAN KERETA MUDIK

Menikah selama 18 tahun, itu artinya kami sudah menjalani ritual mudik selama hampir 18 kali. Saya katakan 'hampir', karena pernah juga kami gak mudik pas lebaran. Tapi orang tua kami dan adik-adik yang datang ke Bogor untuk lebaran di sini. Yaitu ketika saya melahirkan anak kedua dan ketiga, yang kebetulan bersamaan dengan bulan puasa dan lebaran.
Selama menjadi pemudik itu, ada beberapa peristiwa mudik yang kurang mengenakkan juga, salah satunya ketinggalan kereta api eksekutif Sembrani pas mudik tahun 2013. Peristiwa ini memang kesalahan kami. ini. Keberangkatan menuju stasiun Bogor terlalu mepet waktunya. Sehingga ketika terjadi masalah dengan kereta listrik, yang kami tumpangi, solusi dengan naik taksi malah memperparah keadaan.
Kami turun di stasiun Depok ketika KRL yang kami tumpangi berhenti agak lama itu. Sepertinya sedang mengalami masalah, entahlah. Ditambah si bungsu kami yang ketika itu berusia 1,5 tahun yang mulai rewel. Akhirnya kami putuskan naik taksi untuk melanjutkan perjalanan. Berharap segera sampai stasiun Gambir. Ternyata di luar perkiraan kami, jalanan di kota Depok sering macet, demikian juga dengan perjalanan kami dengan taksi ini. Walhasil, kami sampai stasiun Gambir sudah jam 20.30, sementara kereta yang harusnya kami tumpangi berangkat pukul 20.00. Serasa mimpi bisa ketinggalan kereta seperti ini. Lemes...kebayang juga uang senilai 3 jutaan yang hangus. Akhirnya kami balik ke Bogor naik taksi. Karena sudah tidak ada pilihan lain.
Cobaan kali ini tidak sampai di sini. Kunci rumah dan mobil sudah telanjur kami titipkan tetangga. Parahnya lagi suami ternyata tidak membawa kunci cadangan. Sekitar jam 22.00 kami sampai rumah. Ketuk-ketuk pintu rumah tetangga, yang kami titipin kunci gak dibukain juga, akhirnya kami malam itu tidur di masjid dekat rumah. Huhu...pilu
Baru keesokan harinya, pas waktu subuh, suami bisa ngambil kunci rumah kami di tetangga. Di rumah kami galau juga, karena sedih membayangkan bapak ibu saya yang gak jadi ketemu anak cucunya. Tebayang ibu saya yang sudah menyiapkan aneka makanan untuk menyambut kedatangan kami. Dan yang pasti kami sudah booking tiket pesawat 10 hari ke depan, masak hangus juga?  Trus ngapain juga kami stay di bogor tanpa sanak saudara yang bisa kami kunjungi. Galau man... :D
Ketenangan dan kesabaran hati memang dibutuhkan di saat-saat seperti ini. Suami lalu berusaha mencari tiket kereta lagi dengan datang langsung ke stasiun Gambir. Tapi tanpa hasil. Saya di rumah pun, memikirkan cari solusi terbaik.  Baju-baju di dua koper sengaja nggak saya bongkar, dengan harapan siapa tahu kami masih bisa mudik. Kami tidak mau menyerah... wkwk
Sebenarnya, ibu bapak saya sih sudah ikhlas kalau kami tidak mudik. Tapi saya belum mau menyerah dengan keadaan ini. Kami harus mudik! Akhirnya saya iseng-iseng browsing tiket pesawat. Akhirnya dapat daftar tiket pesawat lumayan murah untuk besok. City Link dengan harga tiket 350rb/orang dengan tujuan Surabaya, lebih murah dari tiket kereta api kami yang hangus... Yeay akhirnya kami bisa mudik :D. Alhamdulillah...
Biarlah uang tiket kereta kami hangus. Semoga Allah menggantikan dengan rizki kami dengan yang lebih banyak lagi, karena niat kami mudik adalah semata-mata untuk menyenangkan hati orang tua dan sebagai wujud bakti kami kepada orang tua.


TRAINING PERTAMAKU DI JOERAGAN ARTIKEL

Saya mengenal JOERAGAN ARTIKEL untuk pertama kalinya, kira-kira sekitar tahun 2016. Saat itu saya lagi galau, ingin mulai menulis lagi, tap...