Jumat, 22 Desember 2017

Belajar Ngeblog Lagi

Sebenarnya saya itu sudah punya BLOG kira-kira sejak 10 tahun yang lalu. Waktu itu belajar secara otodidak dengan dipandu oleh seorang sahabat waktu kuliah. Waktu itu beliau satu-satunya teman online yang rajin chatting dengan saya, via yahoo messanger. Facebook sepertinya belum populer di masa itu. Beliau dengan sabar mengajari saya 'ngutak-utik' BLOG. Akhirnya jadilah BLOG pertama saya: www.griyamuslimahbogor.blogspot.com.


Tujuan awal saya membuat BLOG kala itu adalah untuk berjualan online, belum berpikir sebagai tempat untuk menuliskan banyak hal. Tampilan dan isinya pun masih acak-acakan pakai banget. :D Setelah beberapa tahun berlalu dan saya sudah agak 'melek' media sosial, serta aktif menulis lagi, saya kembali membuat BLOG yang baru. Www.anitamutiaraningtyas.com ini adalah nama BLOG kedua, yang rencananya saya pakai untuk menulis tentang banyak hal, terutama pengalaman-pengalaman hidup saya, dan syukur-syukur bisa 'menghasilkan'. Makanya, BLOG kedua ini sudah memakai domain pribadi.


Meskipun hingga saat ini BLOG kedua saya belum menghasilkan apa-apa, karena memang belum dimanfaatkan secara maksimal. Belajar nge-BLOG di zaman old secara online belum ada kayaknya, enggak sesemarak zaman now. Soalnya sebagai seorang ibu rumah tangga yang agak susah untuk sering-sering keluar rumah, apalagi ditambah 'buntut' yang semakin lama semakin bertambah, urusan belajar jadi hal yang kesekian. Itulah mengapa dengan adanya berbagai macam training online zaman now ini memudahkan para emak seperi saya untuk kembali belajar. Belajar tanpa keluar rumah, cukup duduk manis sambil ngopi cantik. Ya kan?


Nah, kebetulan JOERAGAN ARTIKEL sedang mengadakan training online BLOGGING for BEGINNER, saya kembali bersemangat untuk belajar memaksimalkan BLOG dengang baik. Seperti lebih rajin menulis, merapikan BLOG, mempercantik tampilan BLOG, membuat tulisan yang lebih menarik, dan lain-lain. Itulah harapan saya mengikuti training ini. Semoga dengan mengikuti training kali ini, membuat BLOG saya menjadi lebih baik lagi, bermanfaat buat orang lain, serta 'menghasilkan'. Aamiin


Kamis, 21 Desember 2017

Tak Hanya Sekedar Berhijab

Beberapa tahun terakhir ini, kata-kata hijab sudah tak asing lagi di telinga, terutama setelah para selebriti banyak yang memutuskan untuk berhijab. Apa sih sebenarnya definisi hijab itu? Secara bahasa, hijab itu artinya adalah 'penutup'. Adapun secara istilah, makna hijab maknanya sangat luas. Akan tetapi, bisa diringkas sebagai berikut: segala hal yang menutupi apa yang seharusnya ditutupi oleh seorang Muslimah. Jadi hijab muslimah bukan sebatas yang menutupi kepala, atau menutupi rambut, atau menutupi tubuh bagian atas saja. Namun hijab muslimah mencakup semua yang menutupi aurat, lekuk tubuh dan perhiasan wanita dari ujung rambut sampai kaki. (Sumber: https://muslim.or.id/26725-makna-hijab-khimar-dan-jilbab.html)


Fenomena muslimah berhijab ini sebenarnya patut disyukuri. Ini artinya masyarakat sudah menerima hijab sebagai gaya berpakaian yang sesuai syariat. Tak seperti dua puluhan tahun yang lalu, saat berjilbab menjadi sesuatu yang dianggap 'aneh'. Namun, sangat disayangkan jika berhijab hanya sebatas trend saja, tanpa tahu makna hijab sebenarnya. Ada nilai-nilai ibadah dibalik hijab . Bukan sekedar gaya berpakaian yang lagi nge-hits saat ini. Kalau berhijab hanya dipandang sebagai sebuah trend semata, bukan tidak mungkin ketika trend mode berganti, hijab juga akan ditinggalkan juga. Semoga hal itu tidak sampai terjadi. Na'udzu billahi min dzalik.


Ada beberapa hal yang harus dilakukan setelah seorang muslimah memutuskan untuk berhijab: Hijab Bukan Sekedar Trend Berhijab hanya karena trend atau bukan, hanya kita sendiri yang tahu. Ingat sebuah hadits: إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits) Jadi, biasanya apa tujuan seseorang itu berhijab akan berpengaruh pula pada kesehariannya. Hanya Allah-lah yang tahu niat seseorang. Seorang muslimah yang sadar bahwa berhijab bukanlah sekedar trend, biasanya akan terlihat dari penampilannya sehari-hari, akhlaknya menjadi lebih baik dan terjaga, serta tidak sembarangan mencopot hijabnya.

Wajib Mempelajari Ilmu Agama Menuntut ilmu agama bagi setiap muslim itu wajib hukumnya, sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits: طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ ”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224) Berhijab karena Allah dan berlandaskan ilmu, menjadikan hijab kita lebih bernilai di hadapan-Nya. Seorang muslimah tak cukup hanya sekedar berhijab tanpa tahu ilmu atau makna hijab baginya. Untuk itulah dia wajib untuk menuntut ilmu agama, sehingga tidak sekedar ikut-ikutan trend semata. Tapi, dia sadar bahwa hijab yang dipakainya merupakan perintah Allah yang wajib diamalkan oleh semua wanita muslimah di mana pun berada.


Memilih Lingkungan Pergaulan Lingkungan pergaulan sangatlah besar pengaruhnya bagi kita. Jika kita berada di lingkungan orang-orang baik, biasanya kita juga akan selalu termotivasi untuk selalu berbuat kebaikan. Nah, dengan selalu memilih lingkungan pergaulan, insya Allah keistiqomahan kita dalam berhijab senantiasa bisa terjaga. Jadi benarlah sebuah 'sindiran' yang pernah saya baca: "Setelah berhijab perbanyaklah menuntut ilmu agama, bukan malah memperbanyak model hijab"


Rabu, 01 November 2017

Kirim Paket ke Hongkong

Yup, mengirimkan paket ke luar negeri adalah mimpi sebagian pemilik online shop. Demikian juga dengan angan-angan saya, yaitu bisa Go Internasional. Meskipun Go Internasional ala saya itu masih 'tipis-tipis' dan masih skala 'jago kandang'. Maksudnya, hingga saat ini saya masih berkutat dengan pasar nasional, belum benar-benar fokus untuk pemasaran ke luar negeri.

Online shop saya, Griya Muslimah Bogor, target market-nya masih orang Indonesia, serta pemasarannya pun masih memakai facebook personal dan fanpage non fb ads. Jadi, kalau pun ada pengiriman ke luar negeri itu sebenanya kebetulan saja. Sepertinya mereka adalah teman facebook saya yang sedang bekerja di luar negeri alias TKW.



Nah, kembali ke masalah kirim paket ke Hongkong tadi ya Mak. Online shop saya memang pernah beberapa kali mengirim paket ke luar negeri, antara lain Australia, Malaysia, Korea, dan terakhir kemarin adalah ke Hongkong. Waktu kirim ke Australia, saya pakai ekspedisi Pos Indonesia, yaitu EMS.  Untuk ke Malaysia pernah pakai EMS dan PPLN (produk dari PT Pos Indonesia), serta pernah pakai pula ekspedisi khusus Malaysia yang ada di Tanah Abang. Kalau pengiriman ke Korea waktu itu pakai EMS-nya Pos Indonesia.

Biasanya mengirim paket ke luar negeri melalui ekspedisi umum seperti itu biayanya mahal, kasihan pembelinya. Kalau mau lebih murah, carilah ekspedisi yang mengkhususkan diri ke pengiriman negara tertentu. Sebagaimana pengiriman ke Hongkong kemarin itu. Setelah browsing sana sini, akhirnya kami menemukan ekspedisi khusus Hongkong dan sekitarnya dengan biaya yang murah.

Mengirim Paket ke Hongkong Via SEMC Express 

Ketika ada hal baru yang belum pernah kami lakukan sebelumnya, biasanya saya browsing dulu. Mencari pengalaman orang lain yang mungkin bisa kami tiru, untuk meminimalkan kesalahan. Termasuk dalam hal megirim paket ke Hongkong ini. Sebelumnya browsing kami menanyakan terlebih dulu ke customer ada ekspedisi yang direkomendasikan nggak? Kalau ternyata enggak ada, kami lanjutkan browsing lagi untuk mencari ekspedisi yang pas atau membaca pengalaman orang lain dalam masalah ini. Ketemulah kami dengan sebuah blog yang menceritakan pengalamannya mengirim paket ke Hongkong ini via SEMC Express, lengkap dengan alamat, prosedur, serta nomer kontak ekspedisinya.

Lalu, browsing  berikutnya adalah mencari kebenaran adanya ekpedisi SEMC Express ini serta menghubungi contact person-nya via whatsapp (WA). Ternyata nyambung dan enak diajak komunikasi. Selanjutnya, kami menghubungi customer memberi tahu prosedur pengirimannya, serta biayanya. Beliau setuju dan besoknya langsung transfer. Alhamdulillah dimudahkan.

Prosedurnya

SEMC Express ini posisinya ada di Jakarta. Jadi, prosedurnya kami harus mengirim paket ini ke kantor SEMC Express via JNE atau mungkin bisa juga ekpedisi lain. Nanti selanjutnya SMEC Express inilah yang akan mengirimkan paket kita ke Hongkong. Ongkos kirim paket 1 kg ke Jakarta dengan Jne Reg adalah Rp 9.000,00. Nah, untuk ongkos kirim ke Hongkong dibayar oleh customer ketika beliau mengambil paket ini di ekspedisi. Saya kurang tahu, apakah paket harus diambil sendiri atau bisa diantar langsung ke alamat konsumen di Hongkong.

Jadi memang ada dua kali pengiriman, yaitu kita kirim paket ke alamat SEMC Express yang ada di Jakarta, lalu pihak SEMC Express inilah yang selanjutnya mengirimkan paket ke alamat di Hongkong. Ketika kami tanya ke customer Hongkong, berapa biaya mengambil paket di ekspedisi ini. Beliau menjawab, bayar Rp 55rb jika dikurs-kan ke rupiah. Murah sekali kan?

Kesimpulan

Di Indonesia ini ada beberapa ekspedisi yang memang mengkhususkan diri sebagai ekspedisi khusus wilayah tertentu. Mengirimkan paket via ekspedisi seperti ini memang jauh lebih murah, jika dibandingkan dengan ekspedisi yang mengambil jalur umum. Ada ekspedisi spesial Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain. Untuk tujuan luar negeri, ada ekspedisi spesial Malaysia, Korea, Hongkong dan sekitarnya, dan mungkin masih banyak lagi, terutama negara yang ada TKI-nya.

Ekspedisi-ekspedisi ini biasanya cuma ada di kota besar, seperti Jakarta. Jadi, untuk saya yang posisinya di Bogor, harus mengirimkan paket ini dulu ke ekspedisi spesial yang ada di Jakarta. Tapi, sebelumnya memang harus ada konfirmasi ke pihak JNE dan ekspedisi khusus tersebut. Sehingga biasanya ketika mengirim paket seperti ini, akan tertulis dua alamat di bagian depan, yaitu alamat SEMC Express dan alamat konsumen Hongkong. Karena sepertinya hal ini sudah biasa dalam dunia per-ekspedisi-an, jadi masing-masing ekspedisi sudah faham ketika kita kasih tahu sebelumnya.


Kesimpulan terakhir adalah biasakan browsing atau bertanya kepada orang yang lebih 'senior' jika ada hal-hal baru yang belum pernah kita alami sebelumnya. Hal ini untuk memperkecil kesalahan. Kalaupun ada kesalahan yang terjadi, setidaknya 'uang sekolah' yang kita keluarkan tak terlalu mahal. Apapun itu pengalaman adalah guru yang terbaik.

Semoga tulisan ini bermanfaat.


Bogor, 1 November 2017
  


 

Selasa, 24 Oktober 2017

Belajar Berenang di Usia Tak Muda Lagi? Siapa Takut?

Saya mengibaratkan belajar berenang itu seperti belajar nyetir mobil. Butuh keberanian yang tinggi. Untuk bisa menyetir mobil di jalan raya, butuh nyali yang besar dan tentu saja skill dan ilmu yang cukup. Skill hanya bisa diperoleh dengan banyaknya jam terbang.

Demikian juga dengan belajar berenang, hal utama yang harus dilawan adalah rasa takut terhadap air. Rasa takut ini biasanya adalah rasa takut tenggelam. Padahal kalau kita menahan nafas dalam air, tubuh kita akan mengambang. Jadi, memang hal pertama yang biasanya diajarkan dalam berenang adalah latihan menahan nafas dalam air. Setelah itu baru gerakan yang harus dilakukan ketika berenang, serta cara membuang nafas.

Ada beberapa gaya dalam berenang, seperti gaya bebas, gaya dada, gaya katak, gaya kupu-kupu, gaya punggung, dan lain-lain. Masing-masing gaya itu punya manfaat sendiri-sendiri. Cuma menguasai satu gaya tak masalah menurut saya. Saya pun juga cuma bisa gaya katak, hehe ... Sebenarnya pengin juga belajar gaya yan lain. Tapi, untuk belajar gaya lain belum ada kesempatan.




Proses Belajar Berenang


Meskipun saya sejak kecil sering diajak Bapak dan Ibu bermain di kolam renang dan belajar berenang asal-asalan, tak membuat saya bisa berenang dengan benar. Saya baru mulai belajar berenang dengan benar saat mempunyai 2 orang anak. Kebetulan kala itu ada seorang guru renang muslimah, yang menerima les berenang khusus muslimah. Tapi galaknya minta ampun.

Beliau mantan atlet renang di masa mudanya. Tegas dan galak. Buat ibu-ibu yang lemah lembut, mungkin enggak cocok. Beruntung saya adalah mantan anggota pramuka. Jadi meski cara mengajar beliau nyebelin, saya bertekad 'harus bisa berenang dengan benar.' Kata orang Sunda mah: Sabodo Teuing alias bodo amat, yang penting bisa. Rugi kalau sampai enggak bisa, karena kapan lagi ada guru berenang muslimah.


Sebagai orang yang jika punya sebuah kemauan berusaha untuk mewujudkannya, perjuangan saya belajar berenang bukanlah proses yang mudah. Ketika awal mulai belajar berenang lagi, saya sudah punya 2 anak. Yang terkecil seingat saya baru umur 2 tahunan. Jadwal berenangnya pagi hari, yaitu hari Sabtu seingat saya. Suami hari Sabtu enggak libur kantor. Walhasil, saya belajar berenang dengan mengajak 2 krucil anak. Selama saya belajar berenang, mereka bermain di kolam kecil.

Membiarkan anak-anak bermain sendiri di kolam tanpa ada yang mengawasi membuat saya was-was juga. Jadi, terkadang saya bawa asisten rumah tangga untuk menjaga anak-anak selama saya belajar berenang. Repot sih sebenarnya, tapi ya gitu deh demi sebuah tekad. :D
Untuk memperlancar berenang, terkadang saya berinisiatif mengajak ibu-ibu jama'ah masjid patungan menyewa kolam renang. Karena waktu itu belum banyak pilihan kolam renang yang ada jam renang khusus muslimah.


Mengapa saya bela-belain begitu? Karena seperti halnya latihan menyetir mobil, belajar berenang kalau enggak dipraktekan dan nekad, enggak bakalan bisa. Kuncinya adalah nekad, jangan takut tenggelam dan dipraktekkan. Alhamdulillah akhirnya saya bisa berenang, walau cuma bisa gaya katak. :D

Anak Saya Belajar Berenang Sejak Kecil

Berkaca dari pengalaman pribadi, anak-anak saya latihan berenang mulai TK. Belajar sebuah ketrampilan seperti berenang dan menyetir mobil lebih baik sejak dini. Untuk berenang harus sejak kecil, mungkin di usia 4 atau 5 tahun. Karena semakin tua, rasa was-was dan rasa takut itu lebih besar. Sehingga agak menghambat proses belajar untuk menjadi bisa.

Kalau saya perhatikan, anak-anak belajar berenang seminggu sekali, 2-3 bulan sudah bisa satu gaya. Apalagi untuk anak yang tak takut dengan air, pasti akan lebih cepat lagi. Akan tetapi, untuk anak saya yang ABK (Anak Berkebutuhan Khusus), untuk bisa satu gaya itu lama sekali. Kira-kira hingga 3 tahun, baru bisa satu gaya dengan lumayan sempurna.

Untuk anak saya yang ABK, proses belajarnya memang lama. Dari menghilangkan ketakutan dia terhadap air,  mengejar-ngejar dia dulu karena menolak belajar berenang, dan lain-lain. Guru berenang memang harus yang sangat sabar dan sayang anak. Alhamdulillah dalam kurun 3 tahun, junior 2 saya, seorang ABK bisa berenang 2 gaya, yaitu gaya katak dan gaya bebas. Dia mulai belajar berenang usia 4 tahun.

Sekali lagi, saya sebagai orang yang jika punya kemauan pantang menyerah, mengantar les berenang junior 2 ini (ABK) pun saya jabanin. Meski saya sedang hamil anak ke-3, bahkan hingga saya sudah melahirkan, mengantarkan juior 2 ini tetap saya jalani. Dengan perut yang sudah membesar dan selanjutnya nenteng bayi sambil nganter belajar berenang supaya bisa, saya jalanin. Alhamdulillah, jika kita bertekad dalam kebaikan, insya Allah dimudahkan.



Masih Ada Kesempatan Belajar Berenang Buat Ibu-ibu

Meskipun secara usia sudah tidak muda lagi, ibu-ibu masih bisa belajar berenang loh. Belajar apa pun umumnya tak memandang dari sisi usia. Asal ada guru dan semangat yang tinggi, insya Allah belajar apa pun bisa terlaksana dengan baik. Termasuk belajar berenang di usia yang tidak muda lagi ini.

Alhamdulillah di Bogor ada komunitas berenang muslimah, yang rutin mengadakan latihan berenang khusus muslimah setiap hari Rabu pagi. Guru renangnya pun seorang muslimah, yang kebetulan beliau adalah mantan atlet nasional. Jadi tak diragukan lagilah kemampuan beliau ini.

Kalau saya perhatikan memang proses belajarnya ibu-ibu ini agak lama ya dan berpotensi juga enggak lulus alias enggak bisa berenang juga. Karena problematika ibu-ibu itu kan memang banyak. Seperti susah membagi waktu, sedang banyak urusan di rumah, sedang punya anak balita, dan lain-lain. Ditambah lagi mental berani masuk air yang agak rendah. Saya pun mengalami hal itu juga.  Jadi, bagi saya bisa berenang dengan satu gaya adalah sebuah prestasi tersendiri. :D

Nah Bu, bagaimana masih semangat untuk belajar berenang kan?


 Bogor, 25 Oktober 2017








Rabu, 16 Agustus 2017

BELAJAR NYETIR MOBIL (Repost)

Menurutku belajar nyetir mobil di usia yang sudah tidak muda lagi itu butuh keberanian jiwa. Kenapa, karena di usia itu selalu dihantui rasa was-was. Takut nabrak lah, takut nanti di jalan raya gimana, dan lain-lain.  Berbeda kalau kita belajarnya di usia 20an misalnya atau usia remaja, ga bnyk ketakutan yg muncul n krn berani biasanya lbh cepat bisanya.

Aku mulai lancar nyetir mobil kira-kira 8 tahun yang lalu. Ketika usiaku 32 tahun. Baru punya 2 anak. Anak ke-2 ku seingatku usia 2 tahun kala itu. Sebenarnya kalau dirunut dari sejarah, aku mulai belajar nyetir pas lulus SMA, tapi karena waktu itu gak ada dorongan dari orangtua dan gak ada semangat 'aku harus bisa', jadi ya sudah, tamat riwayat nya :D

Ketika akhirnya punya mobil sendiri, baru mulai semangat lagi untuk belajar nyetir. Mengingat suamiku tiap hari ngantor ke Jakarta. Jakarta-Bogor bukanlah jarak yang dekat. Untuk ke kantor, suamiku  naik commuter line, maka mau tidak mau aku harus bisa nyetir mobil sendiri. Buat apa mobil nganggur tiap hari kalau gak dimanfaatkan? Trus kalau ada anak sakit dan lain-lain, klo aku bisa nyetir kan gak terlalu repot. 

BELAJAR NYETIR MOBIL LAGI

Nah, dimulailah proses aku belajar nyetir. Aku mulai cari tempat kursus yang murmer, biar hemat :D. Sistem belajarnya, sekali belajar ada beberapa peserta. Jadi kita berlima (kalau gak salah) bergantian belajar nyetir dengan semua peserta ada di dalam mobil itu. Bisa dibayangkan, selama pembelajaran itu kita di dalam mobil akan ikut'endut-endutan' karena namanya belum mahir nyetir kan pasti sendal-sendul gitu. Itu Akibat belum bisa memainkan gas, kopling, dan rem. Jadi ya puyeng juga dalam mobil dan bisa mual2 juga ... Hihi ...
pusing kepala jadinya. Akhirnya aku minta les privat aja. Jadi aku belajar sendirian dengan sopirnya aja. Karena guru nyetirnya laki-laki, walhasil tiap jam les nyetir aku selalu ngajak anaknya ART untuk nemenin aku belajar. aku 'kan gak mau 'berkhalwat' atau berduaan dengan laki-laki yang bukan mahram.

Setelah 1 paket selesai, kira-kira 4 x pertemuan x 1jam. Aku merasa sudah bisa. Karena merasa sudah bisa itu, aku nyoba-nyoba sendiri mobil kami yang diparkir di lapangan masjid dekat rumah. Olala, ternyata aku belum mahir, sehingga ketika melewati polisi tidur depan masjid, aku kehilangan kendali, akhirnya aku nabrak pagar tembok masjid dan ban mobil masuk selokan.

Karena terdengar dentuman keras, orang-orang di sekitar rumah pada keluar, termasuk sopir tetangga. Akhirnya mobil dikeluarkan dari selokan, oleh pak sopir itu, dengan hasil ban mobil sobek, tyrot bengkok, dan lain-lain. Aku lupa apa aja yang rusak. Alhamdulillah gak ada korban jiwa dalam peristiwa ini hihi ...syerem :D

Sejak peristiwa itu, aku agak trauma stiap dengar derum mobil dan aku bertekad gak akan belajar nyetir lagi. Parah ya? :D
suamiku yang shalih dan  ganteng ini gak marah lihat kondisi mobilnya seperti itu. Cuma aku yang sensitif ini, jadi trauma tak berdaya.

Setelah agak lama dann stop belajar nyetir untuk beberapa waktu, ternyata timbul keinginan untuk mulai belajar lagi. Aku berpikir kalau orang lain bisa, pasti aku juga bisa. Terus, kalau aku gak bisa nyetir, buat apa mobil tiap hari nganggur di rumah?

Dari situ aku dapat info ada guru les nyetir perempuan dan suamiku mendukung aku lagi untuk mulai nyetir belajar lagi. Aku ambil 1 paket aja, 4 x pertemuan x 1jam. Di akhir pembelajaran, si 'encik' guru nyetir itu berpesan, jangan belajar parkir mobil di rumah dulu, krn garasi rumah sempit, jangan nyetir di jalan yang sempit-sempit dulu, dan lain-lain.

Setelah paket belajar nyetir yang ke-2 selesai, aku lanjut dengan memperlancar nyetir dengan didampingi teman-teman atau suamiku. Misal dengan tiap hari nganter sekolah anakku selama seminggu. Dan Karena belum dapat rekomendasi masuk dan keluarkan mobil ke garasi, maka selama hampir 1 bulan, tiap pagi suamiku ngeluarin mobil kalau aku ada rencana mau keluar, terus masukin mobilnya nunggu suamiku pulang kantor pas malam hari.

Setelah dirasa aku bisa dilepas, suamiku sudah gak mau dampingi aku lagi. Kebetulan waktu itu aku ikut bazar di TK anak pertamaku, aku dilepas sendiri ama suami. Itulah pertama kali aku memberanikan diri bawa mobil sendiri di jalan raya. Lalu apa yg terjadi? Ketika di jalan perumahan, aku nabrak angkot yang tiba-tiba berhenti, tapi dikit sih :D. Terus ketika sampe di sekolah anakku, aku belum mahir mundurin mobil, aku minta tolong untuk mundurin mobil ama sopir jemputan. Hahaha ... Biarin kita bikin mudah aja ya :D
Terus, selama proses belajar bawa mobil sendiri itu, kalu mau ke tempat-tempat perbelanjaan selalu nyari-nyari tempat parkir yang luas meski jauh, untuk menghindari resiko menyenggol mobil orang. 

Alah bisa karena biasa, begitulah nyetir mobil, kita mahir karena sering kita pakai. Tapi meski sudah 8 tahun bisa nyetir, sampe skarang aku belum berani nyetir sampe Jakarta yang harus melewati jalan tol. Karena apa? Karena aku 'ngantukan' n ngeri ngeliat mobil yang kenceng2.
Eeaaa ...

Bogor, 4 maret 2015



OLAHRAGANYA PARA EMAK

Seorang Emak rempongers itu biasanya sejak bangun tidur hingga tidur lagi, pekerjaan yang harus dilakukan terkadang enggak ada selesainya. Kalau dituruti, pasti pekerjaan itu tak akan pernah beres. Apalagi kalau lagi punya anak batita, biasanya rumah tak pernah rapi.  Tapi, alhamdulillah itu berarti anak kita sehat ya Mak kalau rumah sering enggak pernah rapi itu.

Saking banyaknya aktivitas di rumah, bahkan mungkin juga harus bekerja di luar rumah, olahraga menjadi aktivitas yang sulit dilakukan. Kecuali kita memaksakan diri untuk rutin berolahraga. Memang menyempatkan diri untuk rutin berolahraga itu susah menurut saya. Tapi, bisa sebenarnya kalau memaksakan diri.

Kalau punya peralatan olahraga di rumah mungkin lebih enak. Meski terkadang  antara impian dan kenyataan itu berbeda jauh. Misalnya ketika akan membeli treadmil, pasti tekadnya akan lebih rajin berolahraga. Kenyataan yang ada, alat treadmil tersebut malah jadi gantungan handuk atau gantungan baju. Dan tetap saja alat itu teronggok dengan manisnya di pojokan. Sementara Emak pun cuma punya mimpi untuk berolahraga.


Sempat baca beberapa artikel, bahwa pilihan jenis olahraga itu sebaiknya harus sesuai usia. Kalau misalnya kayak saya yang sudah berusia 40 tahun lebih, pilihan olahraga yang bersifat kompetitif sudah tidak memungkinkan lagi. Jadi, sebaiknya olahraga yang dipilih adalah olahraga yang bertujuan untuk menjaga semua fungsi tubuh dengan baik. 

Yoga, tai-chi, pilates, atau senam kebugaran lainnya adalah pilihan ideal yang terbaik bagi mereka di usia 40 tahun ini. Seminggu tiga kali lakukan kegiatan olahraga kardiovaskular yang aman, bersepeda statis atau santai, berjalan kaki ringan, dan berenang bisa menjadi pilihan program ideal.

Meski mungkin berolahraga rutin terkadang susah dilakukan, minimal punya tekad dan niat dulu ya Mak. Sembari menyusun strategi dan jadwal untuk bisa berolahraga secara rutin. Meski kadang kenyataan tak sesuai rencana semula. Nah, itulah keunikan para Emak. 

Apa pun itu, tetap semangat ya Mak, karena seorang ibu adalah sumber kebahagiaan bagi keluarganya. Seorang ibu yang selalu menampilkan aura positif, insya Allah akan selalu membuat seisi penghuni rumahnya mempunyai energi yang positif juga.

Hidup Emak rempong! #eh 

Wah Mak, ternyata olahraga berenang itu cocok untuk segala usia loh. Untuk bayi, anak-anak, maupun lansia bisa jadi pilihan. Untuk wanita hamil pun recommended. Saya pun ketika hamil juga tetap berolahraga, berenang inilah pilihan saya. Pastinya setelah ada izin dari dokter kandungan kita ya Mak. 

Semua orang pasti suka berenang, terutama anak-anak. Kolam renang pun banyak tersebar di berbagai tempat, bahkan terkadang setiap komplek perumahan mempunyai kolam renang tersendiri. Biaya masuknya pun relatif terjangkau. Jadi, bisa dikatakan bahwa berenang adalah olahraga sejuta umat. 

Saya juga pilih olahraga berenang karena untuk jalan kaki atau pun naik sepeda enggak memungkinkan. Bagaimana mau olahraga jalan kaki dan naik sepeda, wong kemana-mana saya selalu bawa si kecil. Jadi, olahraga bersepeda dan jalan kaki baru sebatas impian. 

Alhamdulillah di Bogor ada komunitas berenang muslimah, jadi untuk berenang enggak jadi masalah. Ada jam renang khusus muslimah, sehingga para muslimah bisa dengan nyaman berenang.

Lalu, bagaimana dengan muslimah yang belum bisa berenang? 





Saya mengibaratkan belajar berenang itu seperti belajar nyetir mobil. Butuh keberanian yang tinggi. Untuk bisa menyetir mobil di jalan raya, butuh nyali yang besar dan tentu saja skill dan ilmu yang cukup. Skill hanya bisa diperoleh dengan jam terbang yang tinggi.

Demikian juga dengan belajar berenang, hal utama yang harus dilawan adalah rasa takut terhadap air. Rasa takut ini biasanya adalah rasa takut tenggelam. Padahal kalau kita menahan nafas dalam air, tubuh kita akan mengambang. Jadi, memang hal pertama yang biasanya diajarkan dalam berenang adalah latihan nafas dalam air. Setelah itu baru gerakan yang harus dilakukan ketika berenang.

Ada beberapa gaya dalam berenang, seperti gaya bebas, gaya dada, gaya katak, gaya kupu-kupu, dan lain-lain. Masing-masing gaya itu punya manfaat sendiri-sendiri. Cuma menguasai satu gaya tak masalah menurut saya. Saya pun juga cuma bisa gaya katak, hehe ... Sebenarnya pengin juga belajar gaya yan lain. Tapi, untuk belajar gaya lain belum ada kesempatan.

Emak bisa berenang gaya apa? 




Kamis, 02 Maret 2017

Hijab


Memulai berjilbab sekitar tahun 1991, yaitu ketika saya kelas 2 SMA. Berarti sudah 26 tahun yang lalu ya? Dulu berjilbab hanya dilakukan oleh segelintir orang saja. Alhamdulillah sekarang banyak yang berkerudung, malah hijab syar'I sudah bukan sebuah istilah yang aneh lagi. Hijab syar'I dijual di mana-mana dan banyak wanita muslimah yang bangga mengenakannya. Sesuatu yang mungkin dulu enggak terbayangkan.

Namun, apakah sudah cukup dengan berhijab syar'I saja? What next, lalu apalagi? Menurut saya, yang terpenting dari semuanya itu adalah niat dan ilmu. Karena sesuatu itu dinilai dari niat kita. Innamal a'malu bin niyat. 'Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya' HR Bukhari Muslim
Lalu, Apakah dengan niat saja sudah cukup? Belum. Kita harus meng- ilmu- I apa yang kita amalkan. Jadi menuntut ilmu syar'I itu wajib alias fardhu 'ain. Sebagaimana perkataan Al-imam Bukhori: al-ilmu qoblal qoulu wal 'amal. Bahwa sebelum berkata dan beramal haruslah berilmu dulu. So, amal kita akan bernilai bila kita tidak sekedar ikut-ikutan teman atau ikuta-ikutan trend. Karena sesuatu itu kalau cuma ikut-ikutan, biasanya tidak akan langgeng.

Contohnya ketika kita berhijab hanya sekedar ikut-ikutan atau karena memang saat ini hijab syar'I sudah menjadi mode dan banyak artis-artis yang ramai-ramai berhijab, kita pun ikut berhijab. Tapi bukan sesuatu yang salah sih. :) Tapi ketika suatu saat trend mode sudah tidak condong ke hijab lagi, bukan tidak mungkin kita pun akan melepas juga hijab kita. Kenapa? Karena ketika kita memutuskan berhijab bukan karena ilmu. Nau'dzu billahi min dzalik. Atau contoh lain, seseorang yang berhijab tanpa ilmu, dia akan melepas hijabnya itu di sembarang tempat, karena dia enggak tahu di depan siapa saja kita harus berhijab. Nah, di sinilah pentingnya kita mempunyai ilmunya.

Tapi whatever, maraknya hijab skarang-sekarang ini memang patut untuk disyukuri. Hijab sudah bukan menjadi sesuatu yang aneh. Hijab bukan lagi menjadi pakaian orang hamil atau yang semisalnya hihihi.. Dan disamping itu dengan banyaknya orang yang berbusana muslim, setidaknya dapat mengurangi pemandangan wanita-wanita yang kekecilan pakaiannya atau yang kekurangan bahan.

Semoga hijab syar'i bukan hanya sekedar trend...Waktulah yang akan menjawabnya ... Wallahu a'lam bis shawab

#KabolMenulis4
#day23

Rabu, 04 Januari 2017

Bika Bogor Talubi Lumer di Mulut, Lembut di Lidah


Susah banget nyari Bika Bogor Talubi (Talas dan Ubi) itu, saking larisnya. Saya harus rela balik 3 kali ke outletnya. Itu karena saya penasaran banget pengin nyobain Bika Bogor Talubi (Talas dan Ubi) yang aneka rasa dalam satu kemasan. Kalau satu kemasan satu rasa sih ada, tapi kan namanya emak-emak enggak mau rugi dong. Kalau bisa dengan harga yang sama dapat aneka rasa, kenapa harus pilih yang satu rasa. Haha ... Jadi deh dibela-belain 3 kali balik ke sana demi si Bika Bogor Talubi (Talas dan Ubi) ini. 
Dan akhirnya dapat deh oleh-oleh khas Bogor ini.  Satu kemasan dengan 4 rasa yang berbeda. Pas dapat yang saya inginkan, rasanya kayak ngedapetin kamu ... iyyaa kaamuu. :D

 Kemasannya cantik dan ekslusif








Ada 4 rasa, ubi, nangka, talas, cocopandan








Lembutnya lumer di setiap gigitan. Rasanya pengin lagi, lagi, dan lagi.


Baru dibuka, sudah jadi rebutan








Penasaran?
Kalau ada yang menyebut nama bika, pasti yang ada di memori banyak orang adalah bika Ambon. Betul, Bika Bogor Talubi (Talas dan Ubi) ini memang bika Ambon. Tapi, ada tapinya nih,  kalau bika Ambon kan terbuat tepung terigu. Nah, kalau Bika Bogor Talubi (Talas dan Ubi) ini bahan dasarnya adalah tepung ubi talas.
Tahu sendiri kan friends, Bogor itu terkenal dengan hasil bumi yang bernama talas. Talas Bogor jaman dulu memang cuma digoreng atau direbus. namun, talas Bogor edisi kekinian sudah berinovasi menjadi makanan modern, salah satunya diolah jadi Bika Bogor Talubi (Talas dan Ubi) ini.
Komposisi oleh-oleh khas Bogor ini adalah santan, telur, gula, tepung sagu, talas, nangka, dan saripati pandan. Jadi, kelebihan Bika Bogor Talubi (Talas dan Ubi) ini adalah lebih lembut dan bebas gluten. Sehingga aman untuk dikonsumsi juga oleh anak-anak yang terdiagnosis autis.
Cocok sekali jika dijadikan oleh-oleh buat keluarga atau teman-teman tercinta. Kemasan dan tampilannya pun menarik dan elegan. Enggak bakal malu-maluin deh. Sehat dan halal pastinya. Ada sertifikasi halalnya pula, yaitu  Halal MUI 01101116891114. Pirt no. 3063201020174-19.
Oya,  Expire date-nya 3 hari. Hal ini menunjukkan bahwa bahan-bahan yang dipakai bebas dari bahan pengawet yang kurang bagus bagi kesehatan. Enggak ragu-ragu lagi kan kalau mau kasih oleh-oleh khas Bogor ini?

Bagaimana Cara Memperolehnya?

Cara memperolehnya juga mudah. Biasanya tersedia di berbagai toko oleh-oleh di Bogor. Tapi kalau pengin yang fresh from the oven, bisa datang langsung ke outletnya.
Jl. Padjajaran 20 M Bogor atau Jl. Soleh Iskandar No 18B Bogor atau Jl. Raya Gadog Sebelah Vimala Hills (Puncak-Bogor).
Atau cukup SMS atau Whatsapp ke nomor 0888-4829-626. Dan bila  ingin mengetahui lebih lanjut informasi mengenai Bika Bogor Talubi (Talas dan Ubi), silahkan hubungi kontak dibawah ini :
Facebook : Bika Bogor
Instagram : @bikabogor
BBM : Talubi
LINE : @bikabogor

Akhirnya bisa berfoto ria di dalam outlet yang bersih dan rapi

#bikabogor
#bikabogortalubi
#oleholehkhasbogor



3 Tips Jitu Mengatasi Mabuk Kendaraan Ala Saya

Sumber: Google Mabuk saat naik kendaraan umum, dulu sering saya rasakan. Terutama saat awal-awal harus kost di SMA, yang jauh dari or...