Rabu, 16 Agustus 2017

BELAJAR NYETIR MOBIL (Repost)

Menurutku belajar nyetir mobil di usia yang sudah tidak muda lagi itu butuh keberanian jiwa. Kenapa, karena di usia itu selalu dihantui rasa was-was. Takut nabrak lah, takut nanti di jalan raya gimana, dan lain-lain.  Berbeda kalau kita belajarnya di usia 20an misalnya atau usia remaja, ga bnyk ketakutan yg muncul n krn berani biasanya lbh cepat bisanya.

Aku mulai lancar nyetir mobil kira-kira 8 tahun yang lalu. Ketika usiaku 32 tahun. Baru punya 2 anak. Anak ke-2 ku seingatku usia 2 tahun kala itu. Sebenarnya kalau dirunut dari sejarah, aku mulai belajar nyetir pas lulus SMA, tapi karena waktu itu gak ada dorongan dari orangtua dan gak ada semangat 'aku harus bisa', jadi ya sudah, tamat riwayat nya :D

Ketika akhirnya punya mobil sendiri, baru mulai semangat lagi untuk belajar nyetir. Mengingat suamiku tiap hari ngantor ke Jakarta. Jakarta-Bogor bukanlah jarak yang dekat. Untuk ke kantor, suamiku  naik commuter line, maka mau tidak mau aku harus bisa nyetir mobil sendiri. Buat apa mobil nganggur tiap hari kalau gak dimanfaatkan? Trus kalau ada anak sakit dan lain-lain, klo aku bisa nyetir kan gak terlalu repot. 

BELAJAR NYETIR MOBIL LAGI

Nah, dimulailah proses aku belajar nyetir. Aku mulai cari tempat kursus yang murmer, biar hemat :D. Sistem belajarnya, sekali belajar ada beberapa peserta. Jadi kita berlima (kalau gak salah) bergantian belajar nyetir dengan semua peserta ada di dalam mobil itu. Bisa dibayangkan, selama pembelajaran itu kita di dalam mobil akan ikut'endut-endutan' karena namanya belum mahir nyetir kan pasti sendal-sendul gitu. Itu Akibat belum bisa memainkan gas, kopling, dan rem. Jadi ya puyeng juga dalam mobil dan bisa mual2 juga ... Hihi ...
pusing kepala jadinya. Akhirnya aku minta les privat aja. Jadi aku belajar sendirian dengan sopirnya aja. Karena guru nyetirnya laki-laki, walhasil tiap jam les nyetir aku selalu ngajak anaknya ART untuk nemenin aku belajar. aku 'kan gak mau 'berkhalwat' atau berduaan dengan laki-laki yang bukan mahram.

Setelah 1 paket selesai, kira-kira 4 x pertemuan x 1jam. Aku merasa sudah bisa. Karena merasa sudah bisa itu, aku nyoba-nyoba sendiri mobil kami yang diparkir di lapangan masjid dekat rumah. Olala, ternyata aku belum mahir, sehingga ketika melewati polisi tidur depan masjid, aku kehilangan kendali, akhirnya aku nabrak pagar tembok masjid dan ban mobil masuk selokan.

Karena terdengar dentuman keras, orang-orang di sekitar rumah pada keluar, termasuk sopir tetangga. Akhirnya mobil dikeluarkan dari selokan, oleh pak sopir itu, dengan hasil ban mobil sobek, tyrot bengkok, dan lain-lain. Aku lupa apa aja yang rusak. Alhamdulillah gak ada korban jiwa dalam peristiwa ini hihi ...syerem :D

Sejak peristiwa itu, aku agak trauma stiap dengar derum mobil dan aku bertekad gak akan belajar nyetir lagi. Parah ya? :D
suamiku yang shalih dan  ganteng ini gak marah lihat kondisi mobilnya seperti itu. Cuma aku yang sensitif ini, jadi trauma tak berdaya.

Setelah agak lama dann stop belajar nyetir untuk beberapa waktu, ternyata timbul keinginan untuk mulai belajar lagi. Aku berpikir kalau orang lain bisa, pasti aku juga bisa. Terus, kalau aku gak bisa nyetir, buat apa mobil tiap hari nganggur di rumah?

Dari situ aku dapat info ada guru les nyetir perempuan dan suamiku mendukung aku lagi untuk mulai nyetir belajar lagi. Aku ambil 1 paket aja, 4 x pertemuan x 1jam. Di akhir pembelajaran, si 'encik' guru nyetir itu berpesan, jangan belajar parkir mobil di rumah dulu, krn garasi rumah sempit, jangan nyetir di jalan yang sempit-sempit dulu, dan lain-lain.

Setelah paket belajar nyetir yang ke-2 selesai, aku lanjut dengan memperlancar nyetir dengan didampingi teman-teman atau suamiku. Misal dengan tiap hari nganter sekolah anakku selama seminggu. Dan Karena belum dapat rekomendasi masuk dan keluarkan mobil ke garasi, maka selama hampir 1 bulan, tiap pagi suamiku ngeluarin mobil kalau aku ada rencana mau keluar, terus masukin mobilnya nunggu suamiku pulang kantor pas malam hari.

Setelah dirasa aku bisa dilepas, suamiku sudah gak mau dampingi aku lagi. Kebetulan waktu itu aku ikut bazar di TK anak pertamaku, aku dilepas sendiri ama suami. Itulah pertama kali aku memberanikan diri bawa mobil sendiri di jalan raya. Lalu apa yg terjadi? Ketika di jalan perumahan, aku nabrak angkot yang tiba-tiba berhenti, tapi dikit sih :D. Terus ketika sampe di sekolah anakku, aku belum mahir mundurin mobil, aku minta tolong untuk mundurin mobil ama sopir jemputan. Hahaha ... Biarin kita bikin mudah aja ya :D
Terus, selama proses belajar bawa mobil sendiri itu, kalu mau ke tempat-tempat perbelanjaan selalu nyari-nyari tempat parkir yang luas meski jauh, untuk menghindari resiko menyenggol mobil orang. 

Alah bisa karena biasa, begitulah nyetir mobil, kita mahir karena sering kita pakai. Tapi meski sudah 8 tahun bisa nyetir, sampe skarang aku belum berani nyetir sampe Jakarta yang harus melewati jalan tol. Karena apa? Karena aku 'ngantukan' n ngeri ngeliat mobil yang kenceng2.
Eeaaa ...

Bogor, 4 maret 2015



OLAHRAGANYA PARA EMAK

Seorang Emak rempongers itu biasanya sejak bangun tidur hingga tidur lagi, pekerjaan yang harus dilakukan terkadang enggak ada selesainya. Kalau dituruti, pasti pekerjaan itu tak akan pernah beres. Apalagi kalau lagi punya anak batita, biasanya rumah tak pernah rapi.  Tapi, alhamdulillah itu berarti anak kita sehat ya Mak kalau rumah sering enggak pernah rapi itu.

Saking banyaknya aktivitas di rumah, bahkan mungkin juga harus bekerja di luar rumah, olahraga menjadi aktivitas yang sulit dilakukan. Kecuali kita memaksakan diri untuk rutin berolahraga. Memang menyempatkan diri untuk rutin berolahraga itu susah menurut saya. Tapi, bisa sebenarnya kalau memaksakan diri.

Kalau punya peralatan olahraga di rumah mungkin lebih enak. Meski terkadang  antara impian dan kenyataan itu berbeda jauh. Misalnya ketika akan membeli treadmil, pasti tekadnya akan lebih rajin berolahraga. Kenyataan yang ada, alat treadmil tersebut malah jadi gantungan handuk atau gantungan baju. Dan tetap saja alat itu teronggok dengan manisnya di pojokan. Sementara Emak pun cuma punya mimpi untuk berolahraga.


Sempat baca beberapa artikel, bahwa pilihan jenis olahraga itu sebaiknya harus sesuai usia. Kalau misalnya kayak saya yang sudah berusia 40 tahun lebih, pilihan olahraga yang bersifat kompetitif sudah tidak memungkinkan lagi. Jadi, sebaiknya olahraga yang dipilih adalah olahraga yang bertujuan untuk menjaga semua fungsi tubuh dengan baik. 

Yoga, tai-chi, pilates, atau senam kebugaran lainnya adalah pilihan ideal yang terbaik bagi mereka di usia 40 tahun ini. Seminggu tiga kali lakukan kegiatan olahraga kardiovaskular yang aman, bersepeda statis atau santai, berjalan kaki ringan, dan berenang bisa menjadi pilihan program ideal.

Meski mungkin berolahraga rutin terkadang susah dilakukan, minimal punya tekad dan niat dulu ya Mak. Sembari menyusun strategi dan jadwal untuk bisa berolahraga secara rutin. Meski kadang kenyataan tak sesuai rencana semula. Nah, itulah keunikan para Emak. 

Apa pun itu, tetap semangat ya Mak, karena seorang ibu adalah sumber kebahagiaan bagi keluarganya. Seorang ibu yang selalu menampilkan aura positif, insya Allah akan selalu membuat seisi penghuni rumahnya mempunyai energi yang positif juga.

Hidup Emak rempong! #eh 

Wah Mak, ternyata olahraga berenang itu cocok untuk segala usia loh. Untuk bayi, anak-anak, maupun lansia bisa jadi pilihan. Untuk wanita hamil pun recommended. Saya pun ketika hamil juga tetap berolahraga, berenang inilah pilihan saya. Pastinya setelah ada izin dari dokter kandungan kita ya Mak. 

Semua orang pasti suka berenang, terutama anak-anak. Kolam renang pun banyak tersebar di berbagai tempat, bahkan terkadang setiap komplek perumahan mempunyai kolam renang tersendiri. Biaya masuknya pun relatif terjangkau. Jadi, bisa dikatakan bahwa berenang adalah olahraga sejuta umat. 

Saya juga pilih olahraga berenang karena untuk jalan kaki atau pun naik sepeda enggak memungkinkan. Bagaimana mau olahraga jalan kaki dan naik sepeda, wong kemana-mana saya selalu bawa si kecil. Jadi, olahraga bersepeda dan jalan kaki baru sebatas impian. 

Alhamdulillah di Bogor ada komunitas berenang muslimah, jadi untuk berenang enggak jadi masalah. Ada jam renang khusus muslimah, sehingga para muslimah bisa dengan nyaman berenang.

Lalu, bagaimana dengan muslimah yang belum bisa berenang? 





Saya mengibaratkan belajar berenang itu seperti belajar nyetir mobil. Butuh keberanian yang tinggi. Untuk bisa menyetir mobil di jalan raya, butuh nyali yang besar dan tentu saja skill dan ilmu yang cukup. Skill hanya bisa diperoleh dengan jam terbang yang tinggi.

Demikian juga dengan belajar berenang, hal utama yang harus dilawan adalah rasa takut terhadap air. Rasa takut ini biasanya adalah rasa takut tenggelam. Padahal kalau kita menahan nafas dalam air, tubuh kita akan mengambang. Jadi, memang hal pertama yang biasanya diajarkan dalam berenang adalah latihan nafas dalam air. Setelah itu baru gerakan yang harus dilakukan ketika berenang.

Ada beberapa gaya dalam berenang, seperti gaya bebas, gaya dada, gaya katak, gaya kupu-kupu, dan lain-lain. Masing-masing gaya itu punya manfaat sendiri-sendiri. Cuma menguasai satu gaya tak masalah menurut saya. Saya pun juga cuma bisa gaya katak, hehe ... Sebenarnya pengin juga belajar gaya yan lain. Tapi, untuk belajar gaya lain belum ada kesempatan.

Emak bisa berenang gaya apa? 




Nostalgia Masa Kecil Anak-Anak Tahun 80-an

google.com Hai Mak, adakah yang   masa kecilnya di era tahun 80-an?   Toss, ah! Usianya berarti hampir sama dengan saya dong ya? Cer...