Selasa, 24 Oktober 2017

Belajar Berenang di Usia Tak Muda Lagi? Siapa Takut?

Saya mengibaratkan belajar berenang itu seperti belajar nyetir mobil. Butuh keberanian yang tinggi. Untuk bisa menyetir mobil di jalan raya, butuh nyali yang besar dan tentu saja skill dan ilmu yang cukup. Skill hanya bisa diperoleh dengan banyaknya jam terbang.

Demikian juga dengan belajar berenang, hal utama yang harus dilawan adalah rasa takut terhadap air. Rasa takut ini biasanya adalah rasa takut tenggelam. Padahal kalau kita menahan nafas dalam air, tubuh kita akan mengambang. Jadi, memang hal pertama yang biasanya diajarkan dalam berenang adalah latihan menahan nafas dalam air. Setelah itu baru gerakan yang harus dilakukan ketika berenang, serta cara membuang nafas.

Ada beberapa gaya dalam berenang, seperti gaya bebas, gaya dada, gaya katak, gaya kupu-kupu, gaya punggung, dan lain-lain. Masing-masing gaya itu punya manfaat sendiri-sendiri. Cuma menguasai satu gaya tak masalah menurut saya. Saya pun juga cuma bisa gaya katak, hehe ... Sebenarnya pengin juga belajar gaya yan lain. Tapi, untuk belajar gaya lain belum ada kesempatan.




Proses Belajar Berenang


Meskipun saya sejak kecil sering diajak Bapak dan Ibu bermain di kolam renang dan belajar berenang asal-asalan, tak membuat saya bisa berenang dengan benar. Saya baru mulai belajar berenang dengan benar saat mempunyai 2 orang anak. Kebetulan kala itu ada seorang guru renang muslimah, yang menerima les berenang khusus muslimah. Tapi galaknya minta ampun.

Beliau mantan atlet renang di masa mudanya. Tegas dan galak. Buat ibu-ibu yang lemah lembut, mungkin enggak cocok. Beruntung saya adalah mantan anggota pramuka. Jadi meski cara mengajar beliau nyebelin, saya bertekad 'harus bisa berenang dengan benar.' Kata orang Sunda mah: Sabodo Teuing alias bodo amat, yang penting bisa. Rugi kalau sampai enggak bisa, karena kapan lagi ada guru berenang muslimah.


Sebagai orang yang jika punya sebuah kemauan berusaha untuk mewujudkannya, perjuangan saya belajar berenang bukanlah proses yang mudah. Ketika awal mulai belajar berenang lagi, saya sudah punya 2 anak. Yang terkecil seingat saya baru umur 2 tahunan. Jadwal berenangnya pagi hari, yaitu hari Sabtu seingat saya. Suami hari Sabtu enggak libur kantor. Walhasil, saya belajar berenang dengan mengajak 2 krucil anak. Selama saya belajar berenang, mereka bermain di kolam kecil.

Membiarkan anak-anak bermain sendiri di kolam tanpa ada yang mengawasi membuat saya was-was juga. Jadi, terkadang saya bawa asisten rumah tangga untuk menjaga anak-anak selama saya belajar berenang. Repot sih sebenarnya, tapi ya gitu deh demi sebuah tekad. :D
Untuk memperlancar berenang, terkadang saya berinisiatif mengajak ibu-ibu jama'ah masjid patungan menyewa kolam renang. Karena waktu itu belum banyak pilihan kolam renang yang ada jam renang khusus muslimah.


Mengapa saya bela-belain begitu? Karena seperti halnya latihan menyetir mobil, belajar berenang kalau enggak dipraktekan dan nekad, enggak bakalan bisa. Kuncinya adalah nekad, jangan takut tenggelam dan dipraktekkan. Alhamdulillah akhirnya saya bisa berenang, walau cuma bisa gaya katak. :D

Anak Saya Belajar Berenang Sejak Kecil

Berkaca dari pengalaman pribadi, anak-anak saya latihan berenang mulai TK. Belajar sebuah ketrampilan seperti berenang dan menyetir mobil lebih baik sejak dini. Untuk berenang harus sejak kecil, mungkin di usia 4 atau 5 tahun. Karena semakin tua, rasa was-was dan rasa takut itu lebih besar. Sehingga agak menghambat proses belajar untuk menjadi bisa.

Kalau saya perhatikan, anak-anak belajar berenang seminggu sekali, 2-3 bulan sudah bisa satu gaya. Apalagi untuk anak yang tak takut dengan air, pasti akan lebih cepat lagi. Akan tetapi, untuk anak saya yang ABK (Anak Berkebutuhan Khusus), untuk bisa satu gaya itu lama sekali. Kira-kira hingga 3 tahun, baru bisa satu gaya dengan lumayan sempurna.

Untuk anak saya yang ABK, proses belajarnya memang lama. Dari menghilangkan ketakutan dia terhadap air,  mengejar-ngejar dia dulu karena menolak belajar berenang, dan lain-lain. Guru berenang memang harus yang sangat sabar dan sayang anak. Alhamdulillah dalam kurun 3 tahun, junior 2 saya, seorang ABK bisa berenang 2 gaya, yaitu gaya katak dan gaya bebas. Dia mulai belajar berenang usia 4 tahun.

Sekali lagi, saya sebagai orang yang jika punya kemauan pantang menyerah, mengantar les berenang junior 2 ini (ABK) pun saya jabanin. Meski saya sedang hamil anak ke-3, bahkan hingga saya sudah melahirkan, mengantarkan juior 2 ini tetap saya jalani. Dengan perut yang sudah membesar dan selanjutnya nenteng bayi sambil nganter belajar berenang supaya bisa, saya jalanin. Alhamdulillah, jika kita bertekad dalam kebaikan, insya Allah dimudahkan.



Masih Ada Kesempatan Belajar Berenang Buat Ibu-ibu

Meskipun secara usia sudah tidak muda lagi, ibu-ibu masih bisa belajar berenang loh. Belajar apa pun umumnya tak memandang dari sisi usia. Asal ada guru dan semangat yang tinggi, insya Allah belajar apa pun bisa terlaksana dengan baik. Termasuk belajar berenang di usia yang tidak muda lagi ini.

Alhamdulillah di Bogor ada komunitas berenang muslimah, yang rutin mengadakan latihan berenang khusus muslimah setiap hari Rabu pagi. Guru renangnya pun seorang muslimah, yang kebetulan beliau adalah mantan atlet nasional. Jadi tak diragukan lagilah kemampuan beliau ini.

Kalau saya perhatikan memang proses belajarnya ibu-ibu ini agak lama ya dan berpotensi juga enggak lulus alias enggak bisa berenang juga. Karena problematika ibu-ibu itu kan memang banyak. Seperti susah membagi waktu, sedang banyak urusan di rumah, sedang punya anak balita, dan lain-lain. Ditambah lagi mental berani masuk air yang agak rendah. Saya pun mengalami hal itu juga.  Jadi, bagi saya bisa berenang dengan satu gaya adalah sebuah prestasi tersendiri. :D

Nah Bu, bagaimana masih semangat untuk belajar berenang kan?


 Bogor, 25 Oktober 2017








Nostalgia Masa Kecil Anak-Anak Tahun 80-an

google.com Hai Mak, adakah yang   masa kecilnya di era tahun 80-an?   Toss, ah! Usianya berarti hampir sama dengan saya dong ya? Cer...