Selasa, 30 Juni 2020

Menikah untuk Bahagia

Foto: Unsplash/Beatriz Perez Moya

Setiap orang pasti sangat bahagia menyambut hari pernikahannya. Langgeng untuk selamanya hingga di surga-Nya. Bersanding dengan orang yang dicintai adalah impian indah setiap calon pengantin. Tak sabar rasanya menanti hari itu tiba.

Begitulah angan-angan dan harapan setiap orang. Termasuk saya tentu saja. Alhamdulillah pernikahan kami akan memasuki tahun ke-22 (1998-2020). Dikarunia empat orang anak, dua perempuan dan dua laki-laki menambah rasa syukur dan kebahagiaan kami. 

Betul, pada dasarnya orang menikah itu hanya ingin lebih bahagia. Berbagi suka dan duka kehidupan dengan belahan jiwanya. Menikah untuk bahagia. Meskipun sebenarnya tujuan pernikahan lebih mulia daripada sekedar itu. Sebagaimana yang sering kita baca di buku-buku atau artikel.

  
Berikut ini adalah beberapa tujuan pernikahan dalam Islam:

1. Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia yang Paling Asasi

Pernikahan adalah kebutuhan fitrah manusia yang paling dasar dan merupakan salah satu sunah ilahi. 

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialaha Dia menciptkan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Ruum: 21)

2. Membentengi Akhlak

Pernikahan akan membentengi kita dari perbuatan yang dilarang agama, seperti perzinaan. Bagi para pemuda dan pemudi yang sudah siap menikah, hendaknya diberi kemudahan untuk segera menikah, baik oleh orang tua dan keluarga.

"Wahai para pemuda, siapa diantara kamu yang memiliki kemampuan, hendaknya ia segera menikah. Karena menikah itu akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah, karena puasa merupakan salah satu peredam nafsu syahwat." (HR. Bukhari)

Allah karuniakan nafsu syahwat pada semua orang untuk disalurkan dengan cara yang baik dan halal, yaitu dengan cara menikah. Islam tidak mengenal adanya pacaran karena pacaran bisa memberi peluang terjadinya perbuatan zina.

Aturan Islam, sebagaimana yang sudah saya sampaikan di tulisan sebelumnya, "Jika kita sudah ada rasa tertarik dengan seorang perempuan dan sudah siap menikah, segera datangi walinya."

3. Memperoleh Ketenangan Jiwa

Perasaan tenang, damai, dan bahagia akan dirasakan setelah menikah. Jadi menikah itu untuk memperoleh kebahagiaan. Tak hanya sekedar memenuhi kebutuhan biologis.


4. Penyempurna Agama

"Apabila seorang hamba menikah, maka telah sempurna separuh agamanya. Maka takutlah kepada Allah untuk separuh sisanya." (HR. Albaihaqy dalam Syu'abul Iman)

Menikah merupakan salah satu cara menyempurnakan agama. Seharusnya dengan menikah akan semakin kuat ibadah seorang hamba kepada Rabnya. Untuk itu, carilah pasangan yang baik agama dan akhlaknya.

5. Memperoleh Keturunan 

"Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenismu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari yang baik?" (QS. An Nahl: 72)

Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam pun menganjurkan untuk menikah wanita yang subur. "Nikahilah wanita yang penyayang dan subur karena aku berbangga dengan banyaknya umatku." (HR. An-Nasai dan Abu Dawud. Hasan)

Tujuan pernikahan yang lain adalah untuk memperoleh keturunan. Semua orang akan sangat bahagia saat istri hamil dan melahirkan. Lalu mereka berusaha mendidik anak-anaknya dengan sebaik-baiknya. Menjadi anak yang salih dan salihah, bisa membanggakan keluarga serta bermanfaat untuk sesama.

Apa yang ditanam oleh orang tua, akan dipetik saat anak-anak dewasa kelak. Buah pendidikan akan terlihat saat anak-anak sudah berkeluarga dan orang tua sudah semakin renta. Merekalah nantinya yang akan ganti merawat ibu bapaknya. Anak dari sebuah pernikahan adalah investasi orang tua di akhirat nanti. 

6. Melaksanakan Sunah Rasul

Tentu saja tujuan pernikahan yang utama adalah menjauhkan dari perbuatan maksiat. Namun, tujuan pernikahan yang lain adalah mengikuti contoh dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam. 

"Menikah adalah sunahku. Barangsiapa yang tidak mengamalkan sunahku, bukan bagian dariku. Maka menikahlah kalian karena aku bangga dengan banyaknya uamtku (di hari kiamat)" (HR. Ibnu Majah. Shahih)

Jadi Islam sangat menganjurkan umatku untuk menikah dan melarang hidup membujang. Dengan menikah seseorang akan memperoleh keutamaan yang luar biasa.

Itulah enam tujuan dari sebuah pernikahan. Semoga kita dikarunia Allah pernikahan yang bahagia dunia dan akhirat. Aamiin

Minggu, 28 Juni 2020

Menikah Tanpa Pacaran

Bisakah menikah tanpa pacaran? Jika pertanyaan ini diajukan sekitar 20 tahun yang lalu, pasti banyak yang menjawab: "Mana mungkin?" Sebagaimana yang pernah saya alami saat menikah di tahun 1998. Kami memilih menikah tanpa berpacaran terlebih dahulu dan pilihan itu masih sangat asing di telinga masyarakat.

Namun, situasi saat ini sudah berubah. Banyak kawula muda yang sudah punya prinsip tak akan pacaran sebelum menikah alias pacarannya setelah sah menjadi sepasang suami istri. Bahkan, para selebriti tanah air pun sudah banyak yang punya pemahaman seperti ini. Walaupun mungkin dalam prakteknya, entahlah. Apakah benar sebelum menikah mereka tak berpacaran sama sekali atau tak pernah janjian ketemuan atau pergi berdua? Wallahu a'lamu bish-shawab. 

Lalu bagaimana Islam mengatur hubungan sebelum pernikahan ini? Apa yang harus dilakukan saat jatuh cinta?

Saat Cinta Datang Menyapa

Cinta dan jatuh cinta adalah fitrah manusia. Allah karuniakan rasa cinta pada pria dan wanita. Dengan cinta inilah keberlangsungan manusia bisa terjaga. Namun, Islam mengatur bagaimana fitrah ini bisa tersalurkan secara syar'i. Bukan dengan cara pacaran sebelum menikah.

Lalu, bagaimana saat seseorang sedang jatuh cinta?

Rasa cinta yang terkadang datang tanpa permisi sungguh menyiksa. Sebuah hadits pun mengatakan demikian:

"Kecintaan kepada sesuatu bisa membuat buta dan tuli." (Hadits dhaif, tapi sahih marfu' dari Abi Ad Darda radhiallahu anhu, yang berarti ini merupakan perkataan Abu Darda)

Jadi, ungkapan bahwa cinta itu buta pun memang benar adanya.

Solusi saat rasa cinta ini menyapa dan bergelora di dada adalah segera menikah. Jika Anda laki-laki dan yakin bahwa dia adalah wanita yang pantas untuk dijadikan calon pendamping, segera temui walinya, pinang dan segera menikah.

Terus, kalau ternyata belum siap menikah, apa solusinya?

1. Lupakan 

Segera lupakan dia. Yakinlah bahwa jodoh tak akan ke mana. Akan selalu ada jalan jodoh untuk bertemu. Ingat janji Allah bahwa pria yang baik untuk wanita yang baik dan sebaliknya. Fokuslah untuk memperbaiki kualitas diri karena jodoh kita adalah cerminan diri sendiri.

2. Jaga Pandangan

"Katakanlah kepada orang-orang yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya." (An-Nur: 30)

Salah satu resep untuk tak mudah jatuh cinta adalah dengan menjaga pandangan. Ingatkan dengan sebuah ungkapan populer dari masa ke masa? "Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati"
Untuk itu jaga pandangan mata untuk hal-hal yang belum halal untuk kita.

3. Perbanyak Puasa

Puasa adalah perisai bagi seorang muslim. Sebagaimana sebuah hadits: "Puasa adalah perisai." (HR. Bukhari Muslim)
Maksud adri hadits di atas bahwa puasa akan menjadi pelindung di dunia dan akhirat. Manfaat puasa di dunia adalah melindungi kita dari godaan-godaan syahwat. Di akhirat nanti puasa ini pun akan menjadi penghalang kita dari api neraka.

Semoga dengan memperbanyak puasa, kita senantiasa terhindar dari rasa cinta pada saat yang belum tepat.

4. Berdoa 

Jangan malas untuk selalu berdoa pada Allah agar diberi jalan yang terbaik. Selalu libatkan Allah dalam setiap urusan hidup. Berusaha, berdoa, lalu pasrahkan pada Allah.Tak ada doa yang sia-sia.

"Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat), melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: (1) Allah akan segera mengabulkan doanya, (2) Allah akan menyimpannya di akhirat kelak, dan (3) Allah akan menghindarkannya dari kejelekan yang semisal." Para sahabat lalu berkata, " Kalau begitu kami akan memperbanyak berdoa. " Lalu Nabi shalallahu 'alaihi wassalam berkata, "Allah nanti akan lebih banyak mengabulkan doa-doa kalian. (HR. Ahmad, sanadnya jayyid)


Ternyata memang Islam itu agama yang penuh solusi ya ... Masya Allah. Semoga semua yang sedang menanti jodoh, dimudahkan prosesnya. Aamiin


Foto: Shutterstock.com



Referensi:





Sabtu, 27 Juni 2020

Memilih Jodoh

Sebagaimana sudah diungkap dalam tulisan sebelumnya bahwa Allahlah Sang Pemilik Kehidupan. Allah penulis skenario terbaik hidup manusia. Jodoh, ajal, rezeki semua sudah ditulis di Lauhul Mahfudz. Tinggal manusia yang berusaha untuk selalu berbuat baik karena kita tidak tahu takdir kita sebenarnya, sebelum semuanya terjadi.

Jodoh pun demikian, rahasia Allah. Dalam kehidupan ini, sering kita jumpai seseorang dipinang oleh siapa, eh ternyata menikahnya dengan siapa. Betul? Manusia hanya berusaha mencari yang terbaik, Allahlah yang menentukan.

Orang-orang tua di Jawa selalu mengingatkan anak-anaknya agar memilih calon pasangan berdasarkan bibit, bobot, dan bebet. Bibit adalah asal-usul atau keturunan. Jangan sampai mencari calon pasangan hidup tidak jelas asal-usulnya. Carilah calon pasangan yang berasal dari keluarga baik-baik.

Bobot adalah kualitas diri dari calon pasangan hidup, baik lahir maupun batin. Seperti agama, pendidikan, pekerjaan, perilaku, dan sebagainya. Orang tua ingin calon menantunya adalah orang yang bisa membahagiakan anaknya lahir dan batin, serta bertanggung jawab dalam keluarga.

Sedangkan bebet adalah status sosial calon pasangan, seperti harkat dan martabat. Bagi orang Jawa, bebet ini penting juga, namun tidak terlalu penting juga sebenarnya.  Meskipun status sosial seseorang juga terkadang berpengaruh juga terhadap kehidupan rumah tangga.

Dalam agama Islam pun sebenarnya juga sudah ada panduan dalam memilih jodoh yang mungkin hampir sama juga dengan filosofi Jawa di atas. Sebagaimana salah satu sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam:

"Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi." (HR. Bukhari-Muslim)

Nah, tetap saja kita tidak boleh sembrono dalam memilih calon suami atau istri, tetap ada rambu-rambunya, agar tidak kecewa di kemudian hari. Setiap orang ingin bahagia dan berjodoh selamanya, kan? Di dunia dan di akhirat kelak.

Berikut ini adalah panduan mencari jodoh dalam Islam:

1. Taat Kepada Allah dan Rasul-Nya
Ini adalah kriteria yang paling utama. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa." (QS. AlHujurat: 13).

Takwa artinya menjaga diri dari murka Allah, dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Orang yang mempunyai pemahaman agama baik, insya Allah akan selalu menjaga diri dan keluarganya untuk selalu berada di jalan Allah. Inilah poin terpenting dalam memilih calon suami atau istri.

2. Sekufu
Maksud dari sekufu ini adalah sebanding dalam hal status sosial, agama, keturunan, dan yang semisalnya. Banyak dalil yang menunjukkan anjuran ini. Salah satunya firman Allah berikut ini:

"Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula." (QS. An Nur: 26)

Salah satu hikmah dari anjuran ini adalah kesetaraan dalam agama dan status sosial dapat menjadi faktor langgengnya rumah tangga.

3. Menyenangkan Saat Dipandang

Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam dalam hadits yang telah disebutkan di atas membolehkan kita menjadikan faktor fisik sebagai salah satu kriteria dalam memilih calon pasangan. Paras yang cantik atau tampan, fisik yang menarik termasuk salah satu faktor penunjang keharmonisan rumah tangga. Maka mempertimbangkan hal ini saat memilih calon pasangan sejalan dengan tujuan dari pernikahan, yaitu menciptakan ketentraman hati.

Perhatikan firman Allah berikut ini:

"Dan diantara tanda kekuasaan Allah ialah Dia menciptakan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri aaagar kamu merasa tenteram dengannya." (QS. Ar Ruum: 21)

Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam juga menyebutkan empat ciri wanita salihah, salah satunya: " Jika memandangnya, membuat suami senang." (HR. Abu Dawud. Shahih)

Meskipun sebenarnya poin menarik untuk dipandang, cantik atau tampan itu relatif juga. Setidaknya ada sesuatu yang menarik dari calon pasangan kita. Entah senyumnya yang manis atau tutur katanya yang lembut. Itu menurut saya, sih.

4. Subur
Subur maksudnya adalah bisa menghasilkan keturunan. Salah satu tujuan dari pernikahan adalah meneruskan keturunan. Lahirnya generasi yang salih dan salihah, penerus dakwah Islam. Oleh karena itu, Rasulullah shallahu 'alaihi wassalam menganjurkan untuk memilih calon istri yang subur.

"Nikahilah wanita yang penyayang dan subur. Karena aku berbangga dengan banyaknya umatku" (HR. An Nasa'i, Abu Dawud. Hadits Hasan)

Itulah 4 panduan penting dalam memilih calon suami atau istri. Meskipun tidak menutup kemungkinan ada kriteria-kriteria tambahan lainnya. Tujuan utama dari sebuah pernikahan adalah bahagia dan tak ada seorang pun yang bercita-cita gagal dalam rumah tangga. Na'udzu billahi min dzalik.


Foto: Google


Referensi:

https://www.kaskus.co.id/thread/59993b17dcd770b0378b4576/seputar-bobot-bibit-bebet-biar-gak-salah-paham-

https://muslim.or.id/657-memilih-pasangan-idaman.html

Jumat, 26 Juni 2020

Allah Pemilik Kehidupan

Bismillah, ini adalah rangkaian tulisan di hari pertama tantangan 20 hari menulis blog menjadi buku, yang diadakan oleh Joeragan Artikel. Sebuah komunitas menulis yang digawangi oleh Ummi Aleeya. Insya Allah rangkaian tulisan ini akan menjadi sebuah buku yang bermanfaat untuk orang lain. Semoga saya konsisten melewati 20 hari dengan menulis di Blog setiap hari 
Rencananya saya akan menulis sebuah buku tentang Cinta Kedua, yaitu cinta yang hadir kembali setelah berakhirnya pernikahan pertama karena perceraian ataupun kematian salah satu pasangan
Akan saya awali tulisan saya ini dengan pembahasan tentang takdir Allah, bahwa Allah-lah pemilik kehidupan manusia
Semua Sudah Ditakdirkan Allah
أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قَدْ يَعْلَمُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ وَيَوْمَ يُرْجَعُونَ إِلَيْهِ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ


64. Ketahuilah sesungguhnya kepunyaan Allahlah apa yang di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang). Dan (mengetahui pula) hati (manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha mengehui segala sesuatu. (QS. An-Nur: 64)


Benar semua yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah, bahkan takdir semua makhluk di bumi ini sudah Allah tetapkan 50 ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Segala sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan datang semua tidak akan keluar dari ketetapan Allah Ta’ala, sesuai dengan ilmu-Nya dan hikmah-Nya.

Dalam Shahih Muslim disebutkan hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash bahwa ia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda,

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَالْحَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلاَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ

"Allah telah menulis takdir seluruh makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi dengan tenggang waktu 50 ribu tahun.” (HR. Muslim)

Tidak ada satupun makhluk di langit maupun di bumi bahkan di dalam perut bumi sekalipun yang luput dari pengetahuan-Nya. Jadi, takdir adalah rahasia Allah.
Tugas manusia adalah beriman kepada takdir sebagaimana yang terdapat dalam rukun iman, yaitu rukun iman ke-6. Beriman kepada takdir Allah yang baik ataupun yang buruk.
Rezeki, jodoh, ajal, amal, bahagia atau sengsara hidup kita semua sudah ditetapkan oleh Allah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah bersabda bahwa apabila telah berlalu empat bulan dari usia janin dalam rahim ibunya, Allah ‘azza wa jalla mengutus seorang malaikat yang akan meniupkan ruh pada si janin dan menuliskan rezeki, ajal, amal, dan sengsara atau bahagianya. (HR. Bukhari Muslim)
Rezeki
Rezeki kita sudah ditetapkan oleh Allah. Rezeki sudah tercatat. Ada orang yang Allah takdirkan menjadi orang yang kaya raya, ada pula orang yang miskin papa, atau ditakdirkan menjadi orang yang sedang-sedang saja hidupnya.
Namun yang pasti Allah memerintahkan manusia bekerja untuk mencari rezeki, sebagaimana Allah ‘azza wa jalla berfirman,
هُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ ذَلُولٗا فَٱمۡشُواْ فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُواْ مِن رِّزۡقِهِۦۖ وَإِلَيۡهِ ٱلنُّشُورُ ١٥
        “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah untuk kalian, maka berjalanlah di penjurunya (untuk berusaha) dan makanlah dari rezeki yang Allah karuniakan dan hanya kepada-Nya (kalian) kembali setelah dibangkitkan.” (al-Mulk: 15)
Rezeki pun bisa bertambah ataupun berkurang dengan beberapa sebab. Namun janganlah dikatakan bahwa rezeki sudah tercatat dan sudah ditentukan sehingga kita tidak perlu melakukan usaha yang bisa menyampaikan kepada rezeki tersebut. Sebab, sikap seperti itu termasuk sebuah kesalahan. Sikap yang benar dan cerdas adalah kita berusaha menempuh sebab yang mengantarkan menuju rezeki dan melakukan hal-hal yang bermanfaat dalam urusan agama dan dunia.
Jodoh
Sebagaimana rezeki telah tercatat dan ditakdirkan dengan sebab-sebabnya, demikian pula jodoh. Setiap orang telah tercatat pasangan hidupnya, telah ditentukan dengan siapa dia akan menikah. Dalam kehidupan, terkadang ada orang yang besok sudah rencana menikah, ternyata Allah takdirkan lain.
Meskipun urusan jodoh sudah ditetapkan oleh Allah, bukan berarti kita tidak perlu mencari jodoh. Hanya menunggu datangnya jodoh, tanpa berusaha untuk mendapatkan jodoh. Beranggapan bahwa jodoh akan datang dengan sendirinya. Kita tetap harus berusaha untuk mendapatkan jodoh yang baik dan selanjutnya adalah kita pasrahkan pada ketetapan Allah Ta'ala.
Ajal
Imam Al-Muzani rahimahullah berkata,
وَالخَلْقُ مَيِّتُوْنَ بِآجاَلِهِمْ عِنْدَ نَفَادِ أَرْزَاقِهِمْ وَانْقِطَاعِ آثَارِهِمْ
“Makhluk itu akan mati dan punya ajal masing-masing. Bila ajal tiba berarti rezekinya telah habis dan amalannya telah berakhir.”
Setiap manusia itu punya ajal yang terbatas, yang tidak mungkin seseorang melebihinya dan tidak mungkin kurang darinya.
Dalam beberapa ayat disebutkan,
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34)
Jadi ajal dan akhir dari usia manusia sudah Allah tetapkan. Kapan ia akan meninggal dan dengan cara apa, hanya Allah yang tahu. Tugas kita adalah berusaha aagar mendapat akhir kehidupan yang baik, diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.
Amal
Amal perbuatan manusia di dunia sudah pula Allah tetapkan, apakah dia nanti akan beramal dengan perbuatan ahli surga atau ahli neraka. Namun, bukan berarti manusia hanya pasrah saja tanpa berusaha apapun karena dia merasa semua sudah Allah tetapkan. Jadi percuma juga kita berusaha, toh akhirnya takdirnya sudah ditetapkan. Apakah kita nanti akan menjadi ahli surga atau ahli neraka.
Ini sebenarnya adalah pemikiran yang keliru. Darimana kita tahu bahwa pada akhirnya kita akan masuk neraka atau masuk surga? 
Ali bin Abi Tholib rodhiyAllahu ‘anhu menceritakan bahwa Nabi shollAllahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Setiap kalian telah ditulis tempat duduknya di surga atau di neraka.” Maka ada seseorang dari suatu kaum yang berkata, “Kalau begitu kami bersandar saja (tidak beramal-pent) wahai Rosululloh?”. Maka beliau pun menjawab, “Jangan demikian, beramallah kalian karena setiap orang akan dimudahkan”, kemudian beliau membaca firman Allah, “Adapun orang-orang yang mau berderma dan bertakwa serta membenarkan Al Husna (Surga) maka kami siapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al Lail: 5-7). (HR. Bukhori dan Muslim). 
Inilah nasehat Nabi kepada kita untuk tidak bertopang dagu dan supaya senantiasa bersemangat dalam beramal dan tidak menjadikan takdir sebagai dalih untuk tidak berusaha menjadi lebih baik.
Begitulah seharusnya sikap seorang muslim dalam memahami takdir Allah. Tetap berusaha dan berdoa, selanjutkan pasrah kepada kehendak Allah.




Referensi: 
AsySyariah.com

Nikah Dulu, Baru Pacaran! 5 Tips Menumbuhkan Cinta Saat Memutuskan Menikah tanpa Pacaran

Alhamdulillah, saat ini pilihan untuk menikah tanpa pacaran terlebih dulu sudah bukan hal yang asing lagi di masyarakat. Terutama kaum muda ...