Jumat, 26 Juni 2020

Allah Pemilik Kehidupan

Bismillah, ini adalah rangkaian tulisan di hari pertama tantangan 20 hari menulis blog menjadi buku, yang diadakan oleh Joeragan Artikel. Sebuah komunitas menulis yang digawangi oleh Ummi Aleeya. Insya Allah rangkaian tulisan ini akan menjadi sebuah buku yang bermanfaat untuk orang lain. Semoga saya konsisten melewati 20 hari dengan menulis di Blog setiap hari 
Rencananya saya akan menulis sebuah buku tentang Cinta Kedua, yaitu cinta yang hadir kembali setelah berakhirnya pernikahan pertama karena perceraian ataupun kematian salah satu pasangan
Akan saya awali tulisan saya ini dengan pembahasan tentang takdir Allah, bahwa Allah-lah pemilik kehidupan manusia
Semua Sudah Ditakdirkan Allah
أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قَدْ يَعْلَمُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ وَيَوْمَ يُرْجَعُونَ إِلَيْهِ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ


64. Ketahuilah sesungguhnya kepunyaan Allahlah apa yang di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang). Dan (mengetahui pula) hati (manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha mengehui segala sesuatu. (QS. An-Nur: 64)


Benar semua yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah, bahkan takdir semua makhluk di bumi ini sudah Allah tetapkan 50 ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Segala sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan datang semua tidak akan keluar dari ketetapan Allah Ta’ala, sesuai dengan ilmu-Nya dan hikmah-Nya.

Dalam Shahih Muslim disebutkan hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash bahwa ia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda,

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَالْحَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلاَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ

"Allah telah menulis takdir seluruh makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi dengan tenggang waktu 50 ribu tahun.” (HR. Muslim)

Tidak ada satupun makhluk di langit maupun di bumi bahkan di dalam perut bumi sekalipun yang luput dari pengetahuan-Nya. Jadi, takdir adalah rahasia Allah.
Tugas manusia adalah beriman kepada takdir sebagaimana yang terdapat dalam rukun iman, yaitu rukun iman ke-6. Beriman kepada takdir Allah yang baik ataupun yang buruk.
Rezeki, jodoh, ajal, amal, bahagia atau sengsara hidup kita semua sudah ditetapkan oleh Allah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah bersabda bahwa apabila telah berlalu empat bulan dari usia janin dalam rahim ibunya, Allah ‘azza wa jalla mengutus seorang malaikat yang akan meniupkan ruh pada si janin dan menuliskan rezeki, ajal, amal, dan sengsara atau bahagianya. (HR. Bukhari Muslim)
Rezeki
Rezeki kita sudah ditetapkan oleh Allah. Rezeki sudah tercatat. Ada orang yang Allah takdirkan menjadi orang yang kaya raya, ada pula orang yang miskin papa, atau ditakdirkan menjadi orang yang sedang-sedang saja hidupnya.
Namun yang pasti Allah memerintahkan manusia bekerja untuk mencari rezeki, sebagaimana Allah ‘azza wa jalla berfirman,
هُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ ذَلُولٗا فَٱمۡشُواْ فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُواْ مِن رِّزۡقِهِۦۖ وَإِلَيۡهِ ٱلنُّشُورُ ١٥
        “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah untuk kalian, maka berjalanlah di penjurunya (untuk berusaha) dan makanlah dari rezeki yang Allah karuniakan dan hanya kepada-Nya (kalian) kembali setelah dibangkitkan.” (al-Mulk: 15)
Rezeki pun bisa bertambah ataupun berkurang dengan beberapa sebab. Namun janganlah dikatakan bahwa rezeki sudah tercatat dan sudah ditentukan sehingga kita tidak perlu melakukan usaha yang bisa menyampaikan kepada rezeki tersebut. Sebab, sikap seperti itu termasuk sebuah kesalahan. Sikap yang benar dan cerdas adalah kita berusaha menempuh sebab yang mengantarkan menuju rezeki dan melakukan hal-hal yang bermanfaat dalam urusan agama dan dunia.
Jodoh
Sebagaimana rezeki telah tercatat dan ditakdirkan dengan sebab-sebabnya, demikian pula jodoh. Setiap orang telah tercatat pasangan hidupnya, telah ditentukan dengan siapa dia akan menikah. Dalam kehidupan, terkadang ada orang yang besok sudah rencana menikah, ternyata Allah takdirkan lain.
Meskipun urusan jodoh sudah ditetapkan oleh Allah, bukan berarti kita tidak perlu mencari jodoh. Hanya menunggu datangnya jodoh, tanpa berusaha untuk mendapatkan jodoh. Beranggapan bahwa jodoh akan datang dengan sendirinya. Kita tetap harus berusaha untuk mendapatkan jodoh yang baik dan selanjutnya adalah kita pasrahkan pada ketetapan Allah Ta'ala.
Ajal
Imam Al-Muzani rahimahullah berkata,
وَالخَلْقُ مَيِّتُوْنَ بِآجاَلِهِمْ عِنْدَ نَفَادِ أَرْزَاقِهِمْ وَانْقِطَاعِ آثَارِهِمْ
“Makhluk itu akan mati dan punya ajal masing-masing. Bila ajal tiba berarti rezekinya telah habis dan amalannya telah berakhir.”
Setiap manusia itu punya ajal yang terbatas, yang tidak mungkin seseorang melebihinya dan tidak mungkin kurang darinya.
Dalam beberapa ayat disebutkan,
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34)
Jadi ajal dan akhir dari usia manusia sudah Allah tetapkan. Kapan ia akan meninggal dan dengan cara apa, hanya Allah yang tahu. Tugas kita adalah berusaha aagar mendapat akhir kehidupan yang baik, diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.
Amal
Amal perbuatan manusia di dunia sudah pula Allah tetapkan, apakah dia nanti akan beramal dengan perbuatan ahli surga atau ahli neraka. Namun, bukan berarti manusia hanya pasrah saja tanpa berusaha apapun karena dia merasa semua sudah Allah tetapkan. Jadi percuma juga kita berusaha, toh akhirnya takdirnya sudah ditetapkan. Apakah kita nanti akan menjadi ahli surga atau ahli neraka.
Ini sebenarnya adalah pemikiran yang keliru. Darimana kita tahu bahwa pada akhirnya kita akan masuk neraka atau masuk surga? 
Ali bin Abi Tholib rodhiyAllahu ‘anhu menceritakan bahwa Nabi shollAllahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Setiap kalian telah ditulis tempat duduknya di surga atau di neraka.” Maka ada seseorang dari suatu kaum yang berkata, “Kalau begitu kami bersandar saja (tidak beramal-pent) wahai Rosululloh?”. Maka beliau pun menjawab, “Jangan demikian, beramallah kalian karena setiap orang akan dimudahkan”, kemudian beliau membaca firman Allah, “Adapun orang-orang yang mau berderma dan bertakwa serta membenarkan Al Husna (Surga) maka kami siapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al Lail: 5-7). (HR. Bukhori dan Muslim). 
Inilah nasehat Nabi kepada kita untuk tidak bertopang dagu dan supaya senantiasa bersemangat dalam beramal dan tidak menjadikan takdir sebagai dalih untuk tidak berusaha menjadi lebih baik.
Begitulah seharusnya sikap seorang muslim dalam memahami takdir Allah. Tetap berusaha dan berdoa, selanjutkan pasrah kepada kehendak Allah.




Referensi: 
AsySyariah.com

8 komentar:

  1. Sejatinya kita memang ga punya apa2 ya.. Allah pemilik kehidupan. Anaknya bibik yg bantu2 saya minggu lalu berpulang di usia 33, hari ini si bibik bilang smua baju, sepatu dan tasnya disedekahkan ke tetangga, hiks

    Salam kenal ya Mba Anita

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal kembali mba ...terima kasih sudah mampir :)

      Hapus
  2. Manusia hanya punya tulang n kulit.. itupun karena belas kasih Allah.

    Keren kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mba, sudah mampir ... salam kenal :)

      Hapus
  3. Kehidupan dunia hanyalah sementara. Kehidupan akherat yang abadi. Seharusnya kita lebih mempersiapkan akherat dibandingkan gemerlap dunia.

    BalasHapus
  4. Membaca yang seperti ini bagus untuk mengingat diri, ya? Semoga kita termasuk golongan yang selalu mengingat kehidupan akhirat supaya bisa menyiapkan diri menuju ke sana

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin. Terima kasih mba sudah berkenan mampir :)

      Hapus

Nikah Dulu, Baru Pacaran! 5 Tips Menumbuhkan Cinta Saat Memutuskan Menikah tanpa Pacaran

Alhamdulillah, saat ini pilihan untuk menikah tanpa pacaran terlebih dulu sudah bukan hal yang asing lagi di masyarakat. Terutama kaum muda ...