Kamis, 02 Juli 2020

Cobaan dalam Rumah Tangga

Rumah tangga yang bahagia, tenteram, dan damai, serta hidup berkecukupan pasti adalah harapan semua orang. Tak hanya di awal pernikahan, tapi selamanya hingga kembali ke pangkuan-Nya. Namun, impian indah itu tak selamanya selalu terwujud. Ada saja batu sandungan sepanjang jalannya pernikahan.

Ujian atau cobaan dalam menjalani biduk rumah tangga setiap orang berbeda-beda. Meskipun orang mungkin melihat semuanya baik-baik saja. Atau dalam istilah Jawa, "Urip kuwi sawang sinawang". Artinya bahwa hidup itu adalah bagaimana kita memandang orang lain. Membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Seolah-olah hidup orang lain itu lebih indah daripada hidup kita, padahal mungkin belum tentu juga. Begitulah ...

Pada dasarnya tak ada rumah tangga yang seratus persen berjalan mulus tanpa hambatan. Pernikahan yang adem ayem tanpa aral melintang. Sebagaimana nasehat atau wejangan para leluhur kita. Akan ada saja problem dalam setiap tahap usia pernikahan. Lulus atau tidaknya kita dalam menjalani ujian pernikahan tergantung bagaimana kedewasaan sikap masing-masing pasangan dan solusi yang diambil. Yang pasti semua orang pasti berharap bisa melewati semua masalah yang dihadapi dan berakhir dengan bahagia.

Inilah beberapa masalah yang biasa terjadi dalam sebuah pernikahan, berapapun usia pernikahan yang telah dilalui.

1. Perceraian
Perceraian bisa menimpa siapa saja dan kapan saja. Seberapa lama usia pernikahan tak menjadi patokan. Pernikahan yang sudah dijalani puluhan tahun pun tak luput dari masalah perceraian ini. Banyak hal yang bisa memicu terjadinya perpisahan. 

Ketika sudah tidak ada titik temu dan sudah tak bisa disatukan lagi ego antara suami istri dalam mengatasi krisis rumah tangganya, biasanya perceraian adalah jalan yang diambil. Meskipun pada dasarnya tak ada orang yang ingin rumah tangganya harus berakhir. 

2. Kematian
Usia manusia tak ada yang tahu. Entah di usia berapa kita akan dipanggil Sang Khalik, sang pemilik kehidupan. Entah suami atau istri yang lebih dulu berpulang. Duka akibat kematian ini memang terkadang memilukan. Rata-rata tak siap ditinggal pasangan terkasihnya. Tapi, takdir berkata lain. Ada yang harus 'pulang' terlebih dahulu.

Kesiapan mental dan spiritual sangat berperan penting dalam memulihkan kondisi ini. Apalagi jika yang meninggal terlebih dahulu adalah  tulang punggung keluarga, sementara sang istri adalah seorang ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Mungkin akan terasa berat beban hidup yang ditanggung.

Namun, yakinlah bahwa Allah tidak membebani seorang hamba di luar batas kemampuannya. Dalam kehidupan nyata, banyak kisah bagaimana seorang ibu yang sukses membesarkan anak-anaknya seorang diri dan itu bukan isapan jempol. Banyak wanita-wanita hebat di luar sana yang lebih memilih menjadi single parents, sibuk bekerja dan hanya fokus untuk mendidik anak-anaknya.

Untuk seorang laki-laki, musibah ditinggal pasangan hidup bisa jadi lebih rumit. Sangat jarang laki-laki yang memilih menjadi single parents hingga akhir hayat. Mereka butuh pendamping hidup yang baru. Nah, di sinilah titik krusialnya, bagaimana mereka bisa mencari seorang ibu baru yang bisa cocok dengan anak-anak.

3. Tidak Diberi Keturunan
Salah satu tujuan pernikahan adalah mendapatkan keturunan. Anak yang dianggap bisa menjadi perekat hubungan suami istri. Namun, jika kondisi ini tidak berpihak pada kita, bagaimana sikap kita?Istri tak kunjung hamil, keluarga besar terlalu banyak berharap keturunan dari pernikahan kita. Sekali lagi butuh kedewasaan dari semua pihak, suami istri, dan seluruh keluarga.

Sebenarnya banyak pula pernikahan yang bahagia, meski tanpa hadirnya anak. Banyak solusi yang bisa dipilih, seperti mencoba berbagai alternatif untuk bisa memperoleh keturunan, seperti ikut program bayi tabung dan lain sebagainya. Atau ada pula yang memutuskan untuk merawat anak dari keluarga dekat. 

4. Perselingkuhan
Perselingkuhan adalah hal yang paling ditakutkan. Apalagi saat ini sangat banyak media yang bisa memicu terjadinya perselingkuhan tanpa disadari. Media sosial yang bisa diakses oleh siapa pun turut meramaikan isu ini. Meskipun perselingkuhan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, serta dilakukan oleh siapa saja. Apalagi saat ini, rasa malu terkadang sudah menguap entah kemana.

Kendali diri, iman yang kuat, lingkungan yang baik, serta kondisi rumah tangga yang harmonis setidaknya bisa menjadi tameng agar tidak terjatuh dalam perselingkuhan. Solusinya adalah selalu ciptakan keromantisan dalam rumah tangga dan selalu ingat komitmen pernikahan.

5. Merosotnya Ekonomi
Permasalahan ekonomi banyak juga memicu terjadinya pertengkaran dalam rumah tangga, seperti merosotnya keuangan keluarga. Suami yang kena PHK atau suami yang bangkrut usahanya atau diberi sakit sehingga tak mampu lagi menafkahi keluarga. 

Saat menghadapi masalah ini, seluruh anggota keluarga memang harus legawa menerima kondisi ini. Saling bahu membahu dan menguatkan. Segera bangkit dan cari solusi, serta tidak saling menyalahkan.

Sebenarnya masih banyak sekali permasalahan rumah tangga itu, tak terbatas hanya pada lima hal di atas. Bersabar dan selalu peka terhadap apa pun yang terjadi dalam rumah tangga. Segera mencari solusi saat terjadi masalah besar. Atau meminta bantuan pihak ketiga yang kira-kira bisa dipercaya dan bijaksana bisa menjadi pilihan.

Semoga kita semua bisa mengatasi semua permasalahan dalam rumah tangga dan happy ending hingga akhir hayat.

Foto: Diary_Lounge

2 komentar:

  1. Semoga Allah melindungi dan memberikan kita keluarga yang sakinah, dikumpulkan dalam kebaikan dan keberkahan. aamiin

    BalasHapus

Nikah Dulu, Baru Pacaran! 5 Tips Menumbuhkan Cinta Saat Memutuskan Menikah tanpa Pacaran

Alhamdulillah, saat ini pilihan untuk menikah tanpa pacaran terlebih dulu sudah bukan hal yang asing lagi di masyarakat. Terutama kaum muda ...