Sabtu, 11 Juli 2020

Menikah Itu Sebuah Perjuangan, Butuh Kesabaran Lebih

Foto: www.madjongke.com



Ada yang bilang bahwa menikah itu indahnya cuma 10%, sisanya adalah perjuangan.  Betul banget, menikah adalah awal dari sebuah perjuangan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti perjuangan adalah usaha yang penuh dengan kesukaran dan bahaya.

Nah, menikah mungkin seperti itulah gambarannya. Untuk mencapai kebahagiaan butuh perjuangan dan usaha yang keras, tak bisa leha-leha. Setiap tahapnya akan selalu ada onak dan duri. Namun, bukan berarti seluruh hambatan itu tak bisa dilalui, ya. Toh, nyatanya banyak juga pernikahan yang langgeng dan bahagia. Meskipun banyak di media banyak diwarnai dengan perceraian para artis atau orang terkenal.

Saat ada yang menikah, ucapan yang disampaikan adalah "Selamat Menempuh Hidup Baru". Kalau dicek dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ucapan "Selamat Menempuh Hidup Baru" ini diartikan "Mudah-mudahan berbahagia dalam pernikahan yang dilangsungkan." Sebuah doa yang indah.

Dalam tuntunan Islam, ada doa khusus untuk mendoakan sepasang pengantin:

Baarakallahu laka wa baaraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khairin. 

"Semoga Allah memberkahimu di waktu bahagia dan memberkahimu di waktu susah, serta semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan." (HR. Abu Dawud)

Ya, sebagaimana sebuah kehidupan yang ada saat bahagia dan ada saat sedih, demikian juga sebuah pernikahan. Ada bahagia, ada tawa, ada canda, ada sedih, dan ada pula air mata. Bagi yang sudah bermental pejuang, insya Allah pernikahan akan indah-indah saja, dengan izin Allah pastinya. Bagi, yang masih bermental 'manja', pernikahan adalah sarana untuk belajar menjadi orang yang lebih tangguh.

Baiklah, kita simak lika-liku sebuah perjuangan kehidupan, yaitu menikah:


1. Perjuangan untuk  Menjadi Pasangan yang Baik

Menjadi suami istri yang baik adalah sebuah keharusan. Saling menjaga komitmen adalah sebuah kewajiban. Tanpa komitmen yang kuat, tak mungkin rumah tangga akan bisa bertahan. Saat terjadi perselisihan, tak serta merta solusinya adalah berpisah. 

Tak seperti saat pacaran yang bisa putus sambung, putus sambung. Kalau sudah terikat dalam sebuah pernikahan tak akan mungkin bisa begitu, kan. Harus bisa bertahan, apa pun yang terjadi. Kecuali, jika memang konfliknya sudah sangat berat. Harus dibantu oleh pihak ketiga yang bisa dipercaya dan netral. 

Berusaha menjadi pasangan yang baik itu, artinya juga harus berjuang untuk menjaga pandangan. Tidak lirik sana,  lirik sini. Tidak obral janji di sana sini. Tidak iseng-iseng mencoba untuk mendua atau yang lainnya. Harus puas dengan yang sudah menjadi pilihan kita. Tidak perlu membanding-bandingkan dengan yang lain.

2. Perjuangan untuk Menjadi Orang Tua yang Baik

Menjadi orang tua yang baik pun tidak akan terjadi begitu saja tanpa belajar dan berusaha. Pada setiap zaman, cara mendidik anak tidaklah sama. Kita sudah tidak bisa lagi mencontoh orang tua dulu dalam mendidik anak. Beda zaman, pasti akan beda tantangan.

Saat kita melihat orang tua yang sukses mendidik anaknya, hingga menjadi 'orang' istilahnya, pastilah proses yang mereka lalui tidaklah mudah. Saya yakin tak ada anak-anak yang dibiarkan saja tumbuh kembangnya, akan menjadi baik dengan sendirinya. Orang tuanyalah yang harus mencetaknya menjadi pribadi yang baik, salih salihah, berbakti pada orang tua, serta bermanfaat bagi orang lain. 

Setiap keluarga pasti punya cerita-cerita 'indah' saat-saat mengasuh dan mendidik anak. Biasanya tak akan sama antara satu keluarga dengan keluarga yang lain. Pasti banyak yang bilang, tak mudah mendidik anak, dari baru lahir hingga mereka dewasa dan mandiri. Butuh perjuangan dari orang tuanya untuk selalu belajar menjadi orang tua yang baik.


3. Perjuangan untuk Menjadi Menantu yang Baik

Menikah artinya juga kita akan menjadi menantu dari orang tua pasangan kita. Menjadi anak 'baru' bagi semula bukan siapa-siapa, yang pasti akan sangat berbeda dengan orang tua sendiri. 

Menjadi menantu yang baik dan bisa dibanggakan oleh mertua pun tak akan terjadi dengan serta merta. Harus ada usaha dari kita untuk bisa menjadi menantu yang baik. Apalagi kalau kita harus tinggal serumah bersama mertua. Jika tak bisa baik-baik menjaga perilaku dan sikap, pasti akan banyak drama yang terjadi. Namun, bukan berarti akan selalu ada konflik antara menantu mertua, ya, jika tinggal bersama dalam satu rumah. Banyak pula yang antara mertua dan menantu akur-akur saja dan saling menyayangi. 

Jika kita harus serumah bersama mertua atau saat menginap di rumah mertua, pasti akan beda dengan saat menginap di rumah orang tua sendiri. Kita yang mungkin agak 'pemalas' dan kurang cekatan dalam mengatur rumah, tidak sepantasnya tetap begitu saat ada mertua. Tunjukkan bahwa kita adalah menantu yang baik dan anaknya tidak salah dalam memilih pasangan hidup. Orang tua kita masing-masing pun akan merasa lega dengan pilihan pendamping anak-anaknya, jika melihat kita adalah menantu yang baik. 

4. Perjuangan untuk Memenuhi Ekonomi Keluarga

Jika saat masih lajang, para lelaki bisa menikmati gajinya dengan sesuka hati atau seorang wanita, tinggal minta uang pada orang tuanya. Namun, tidak demikian kondisinya saat memutuskan untuk berumah tangga. Seorang laki-laki akan menjadi suami, yang otomatis adalah seorang kepala keluarga. Dia harus bertanggung jawab memenuhi kebutuhan hidup istri dan anak-anaknya.

Sementara seorang perempuan akan menjadi istri yang biasanya bertanggung jawab dalam mengelola keuangan keluarga. Atau ada pula istri yang memang sebelum menikah sudah bekerja. Bagi seorang istri, berapa pun rezeki yang diberi oleh suaminya, harus dibelanjakan dengan bijak dan penuh rasa syukur.  Terlalu banyak menuntut pada suami yang sudah berusaha bekerja keras, tak akan membuat hidup bahagia. Begitulah faktanya, jika ingin selalu bahagia harus pandai bersyukur. Bersyukur suami masih bisa bekerja dan mempunyai gaji, serta tidak banyak menuntut di luar kemampuan suami. 

Sebuah kisah rumah tangga dalam masalah perjuangan ekonomi sangat banyak. Ada yang harus jatuh bangun terlebih dahulu, hingga akhirnya mencapai kesuksesan. Ada pula yang sebelumnya berlimpah dengan kekayaan, tapi akhirnya bangkrut dan harus merangkak lagi dari nol. Atau seorang istri yang tadinya tidak bekerja, terpaksa harus menjadi tulang punggung keluarga karena suami yang tidak mampu mencari nafkah lagi. 

Masih banyak cerita rumah tangga lainnya. Intinya kita memang harus siap dalam setiap kondisi. Menikah adalah sebuah perjuangan.

5. Perjuangan untuk Bisa Selalu Bahagia

Pada intinya sesuatu yang baik itu butuh perjuangan. Menjadi orang yang bahagia juga butuh perjuangan dan kerja keras untuk mewujudkannya. Perjuangan hingga akhir hayat. Siapa yang menuai, pasti akan memetiknya. Jika selama ini, kita mendidik anak-anak dengan baik, insya Allah hasilnya akan terlihat saat mereka dewasa kelak. Saat kita sudah renta dan gantian anak-anak yang akan merawat. 

Kita sebagai orang tua akan merasa lega, saat semua anak-anak sudah berkeluarga dan mandiri. Anak-anak bahagia juga bersama keluarganya masing-masing. Biasanya kalau pernikahan orang tuanya adem ayem dan bahagia, anak-anak pun akan mempunyai rekaman yang baik tentang sebuah pernikahan. 

Bahagia dan tidaknya sebuah pernikahan, kitalah yang harus berusaha mewujudkannya. Harus ada usaha dan doa, mungkin juga keringat dan air mata. Hingga tercipta sebuah kebahagiaan lahir batin bagi seluruh anggota rumah tangganya.  Bahagia adalah apa yang kita rasakan dan tak ada hubungan dengan kekayaan yang berlimpah. Bahagia adalah urusan batin dan jiwa.

Jadi, akan ada banyak hal baru yang akan dihadapi setelah menikah. Terkadang tak hanya membuat bahagia, tapi bisa juga bikin hati porak poranda. Mengalami trauma pernikahan. Membangun dan mempertahan rumah tangga bahagia butuh komitmen dan tanggung jawab yang kuat dari masing-masing pasangan. Sudah yakin, kan, bahwa menikah itu adalah sebuah perjuangan?


Bogor, 12 Juli 2020

4 komentar:

  1. itulah intinya pernikahan, makanya jika belum siap jangan terburu-buru...karena pernikahan itu intinya perjuangan bukan seperti anggapan banyak anak muda yang lgi menikmati masa pacaran...beda jauh....siapkan diri untuk masalah ddalam kehidupan berumahtangga..jika emosi belum siap...pasti akan ambil jalan pintas alias bercerai....

    BalasHapus
  2. Betul, menikah itu masuk ke kehidupan yang lebih kompleks yaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul bangeuts ummi, tulisan ini jg untuk bekal anak gadis saya :D

      Hapus

Nikah Dulu, Baru Pacaran! 5 Tips Menumbuhkan Cinta Saat Memutuskan Menikah tanpa Pacaran

Alhamdulillah, saat ini pilihan untuk menikah tanpa pacaran terlebih dulu sudah bukan hal yang asing lagi di masyarakat. Terutama kaum muda ...