Jumat, 10 Juli 2020

Menikah Tak Selamanya Indah

Dokumen Pribadi

Saat remaja atau memasuki usia dewasa, orang yang mempunyai pengalaman indah pernikahan orang tuanya, pasti berpikir bahwa menikah itu sangat indah dan bahagia selamanya. Sebagaimana di cerita-cerita komik, yang endingnya biasanya berupa kalimat: "Akhirnya  mereka menikah dan bahagia selamanya." 

Dalam benak kita yang belum menikah juga begitu mungkin. Setelah menikah, akan selalu bersama dengan orang yang kita cintai, jalan-jalan berdua, bergandengan tangan,  selalu bersama dalam suka dan duka. Begitu indah! Dunia serasa milik berdua, yang lain ngontrak. Beuh ... :D

Betul juga sih dan tidak salah ... karena saat kita sedang baikan dengan pasangan, ya memang begitu adanya. Indah ...    

Bagi orang yang sudah menikah, pasti akan bilang bahwa menikah dan membangun rumah tangga itu tak selamanya indah, lo. Ada saatnya kita diberi ujian selama menjalani pernikahan. Jadi menikah dengan hanya modal cinta tak akan cukup, Jendral!  

Bagi orang yang berpikir dewasa, saat menerima pinangan seorang laki-laki atau memilih calon istri, memang harus benar-benar mempertimbangkan kepribadian calon pasangannya. Jadi menikah hanya bermodal karena saling cinta saja tak akan cukup. Yang paling penting justru adalah bagaimana selalu bisa mempertahankan cinta. Faktanya pernikahan akan selalu diwarnai oleh kebahagiaan, kesedihan, dan aneka problem lainnya, yang menguji komitmen kita.

Banyak yang menikah hanya sekedar mempersiapkan fisik semata, tanpa menyiapkan mentalnya. Saat masalah mulai muncul dalam rumah tangga, kebanyakan solusi yang diambil adalah berpisah. Padahal mungkin pernikahan mereka sebenarnya masih bisa diperbaiki. Penyelesaiannya pun biasanya hanya dengan bertoleransi dan berusaha saling menerima.

Kebiasaan dan Hobi  Pasangan 

Pasti setiap orang punya kebiasaan-kebiasaan yang sudah jadi tradisinya bertahun-tahun. Ada yang sudah terbiasa berpakaian tidak rapi, meletakkan barang sembarangan atau kebiasaan yang dianggap buruk lainnya. Kebiasaan-kebiasan ini bagi pelakunya biasanya dirasakan sesuatu yang biasa-biasa saja dan dirasa tidak menjadi problem juga untuk orang lain.    

Nah, yang menjadi masalah adalah saat pasangan kita kurang menyukai kebiasaannya itu. Sang istri atau suami ternyata orangnya rapi dan resik. Pasti kebiasaan di atas akan terasa mengganggu. Karena sudah menjadi kebiasaan, biasanya susah hilang. Yang bisa dilakukan adalah menoleransi kebiasaan tersebut atau membicarakannya baik-baik bahwa kita sangat terganggu dengan kebiasaannya tersebut. Bisa berubah atau tidak, ya tergantung niat yang kuat dari sang pelaku. Begitulah, romantika sebuah pernikahan. :D

Masalah hobi pun demikian. Ada suami yang hobinya memelihara burung, sementara istrinya tak suka. Ada istri yang hobinya beres-beres, tapi sang suami slonong boy, senang meletakkan barang di mana saja.  Jadi  enggak bisa match kan? 

Bila masing-masing pihak bisa legawa dengan kebiasaan dan hobi pasangannya, ya the life must go on ya ... dan pada akhirnya jika ingin bertahan, ya memang harus saling menerima dan lapang dada. Apalagi kalau pada akhirnya bisa saling menikmati kebiasaan dan hobi pasangannya masing-masing. Menekuni hobi yang sama dan aktif di komunitas yang sama pula. Indah ...  

Atau jika setelah didiskusikan tak ada titik temu, solusinya adalah membuat kesepakatan-kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak, win-win solution. Ya, memang selama pernikahan pasti akan banyak kesepakatan-kesepakatan yang dibuat.

Harus Membantu Mencari Nafkah

Menurut saya, saat seseorang sudah menikah, semua permasalahan harus dihadapi bersama. Saat dihadapkan dengan masalah ekonomi keluarga, semua pasangan suami istri tentunya harus kompak mencari solusi. Bahkan mungkin ada yang akhirnya sang istri turut membantu suami menambah penghasilan keluarga. Dan memang sudah seharusnya begitu, bukan?

Enggak mungkin kan, kita membiarkan  orang yang kita cintai menanggung beban seorang diri. Sebagai istri yang baik, sudah hal yang wajar kita turut membantu memikirkannya. Sehingga bisa jadi, sang istri akhirnya ikut bekerja mencari tambahan penghasilan. Bahkan ada yang kemudian harus menjadi pengganti tulang punggung karena suami sakit keras dan tidak bisa bekerja lagi. Dramatis memang. Tapi, memang begitulah kenyataan hidup berkeluarga.

Sebagai penyejuk jiwa, ada baiknya ingat sebuah hadits  Rasulullah shallahu 'alaihi wassalam

"Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan melapangkan darinya satu kesusahan di hari kiamat ...  (HR. Muslim)

Insya Allah kalau kita ikhlas dan sabar menjalaninya akan menjadi ladang pahala.

Kecewa Terhadap Pasangan 

Saat pacaran, biasanya semua akan terlihat indah. Walaupun saat itu mungkin pernah terlihat karakter aslinya, tapi terasa tak masalah. Demi cinta, semua terlihat baik-baik saja. Ketika sudah menikah, baru terlihat karakter aslinya.

Bersyukur jika memang kita ternyata tidak salah pilih pasangan hidup. Apa yang selama ini kita lihat yang baik-baik darinya, ternyata memang benar begitu adanya. Asli tanpa banyak sandiwara.

Namun, ada kalanya yang salah prediksi. Terlihat baik, sopan, bertanggung jawab selama pacaran atau saat ta'aruf, ternyata jauh panggang daripada api. Sangat bertolak belakang dan mengecewakan.

Jadi, pacaran sebelum menikah tak akan menjamin kita tahu semua kepribadian dan watak aslinya dan tak akan menjamin bahwa rumah tangganya akan langgeng hingga akhir hayat. Bisa jadi pula, orang yang tidak berpacaran sebelum menikah, pernikahannya bahagia dan awet.

Untuk itu, mengetahui dengan baik kebiasaan, kepribadian, dan hal-hal pribadi calon suami atau istri adalah sebuah keharusan. Bagi yang langsung menikah, tanpa proses pacaran dulu, bisa bertanya-tanya kepada para sahabat atau saudara dekat calon pasangannya serta jangan lupa berdoa agar dimudahkan Allah dan tidak salah pilih. 

Cemburu

Ada ungkapan, cemburu itu tanda cinta. Betul juga sih ... Orang yang saling mencintai, pasti akan ada rasa cemburu. Meskipun setiap orang kadar cemburunya berbeda-beda. Ada yang cemburunya normal-normal saja dan masih dalam taraf wajar. Namun, ada juga yang cemburu buta dan tidak rasional. 

Selama menjalani pernikahan, pastilah ada bumbu-bumbu rasa cemburu di antara. Hadirnya media sosial, terkadang juga memicu timbulnya rasa cemburu. Misalnya, bertemu kembali di dunia maya dengan  mantan terindah, yang pernah mengisi hari-harinya di masa lalu. Atau seseorang yang pernah sempat menjadi calon pasangannya melalui proses ta'aruf, dan lain sebagainya. 

Rasa cemburu ini jika tidak dikelola dengan baik atau tak dikomunikasikan dengan baik, bisa membuat hari-hari pernikahan  terasa kelabu. Ya, memang harus berhati-hati saat kondisi ini terjadi. Jika, taraf cemburu masih dalam hal yang wajar, ya hormatilah perasaan pasangan kita. Karena bagaimanapun juga, rasa cinta dan memilikilah yang membuatnya cemburu.

Long Distance Relation (LDR)

LDR adalah menjalani hubungan jarak jauh dengan pasangannya, biasanya karena tuntutan pekerjaan atau harus menuntut ilmu. Tidak semua pasangan suami istri mampu menjalaninya. Kalaupun misalnya harus memilih kondisi ini karena pasti dengan berbagai pertimbangan. Tak mudah memang menjalaninya, butuh komitmen yang kuat untuk tetap mempertahankan keutuhan rumah tangga.

Memang sih sebaiknya suami istri itu tidak boleh terlalu lama berpisah. Walau bagaimana pun juga, kedekatan fisik dengan pasangan sangat menentukan keharmonisan rumah tangga. Harus selalu diciptakan bonding dengan pasangan. Bagi yang sudah mempunyai anak, kehadiran sang ayah setiap hari akan memberikan pengaruh besar pada proses tumbuh kembang anak. 

Dari banyak cerita yang beredar, godaan bagi pasangan yang LDR sangat besar. Jadi, kehadiran  pasangan kita secara fisik dalam menjalani kehidupan pernikahan bisa menjadi rem agar tidak kebablasan saat datang diuji dengan hadirnya orang ketiga.  


Pentingnya Persiapan Fisik dan Mental, serta Ilmu Sebelum Menikah

Terkadang masalah dalam pernikahan cuma hal-hal sepele, tapi kadang dari masalah sepele ini bisa berujung pada perceraian. Ditambah lagi, tak banyak orang tua mau bercerita tentang hal-hal yang tak selalu indah dalam sebuah pernikahan. Untuk itu, sebelum menikah, tak hanya fisik saja yang harus disiapkan, mental pun harus kuat. Banyak membaca tentang persiapan penikahan dari sisi agama dan bacaan lain tentang seluk beluk pernikahan, insya Allah bisa membantu.

Saya pun demikian terhadap anak gadis saya yang saat ini berusia 21 tahun. Sering bercerita tentang apa saja yang harus dihadapi dalam sebuah rumah tangga. Kebetulan kami pun sudah mengedukasi anak-anak sejak kecil bahwa tak ada pacaran sebelum menikah. Fokuslah pada memperbaiki diri, insya Allah akan diberi jodoh yang sesuai dengan kualitas kita. 

Jadi peran orang tua sangat penting dalam mempersiapkan anak-anaknya menjalani hidup berumah tangga. Menjalani pernikahan itu tak mudah, namun bukan berarti tak bisa. :)


Bogor, 10 Juli 2020








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nikah Dulu, Baru Pacaran! 5 Tips Menumbuhkan Cinta Saat Memutuskan Menikah tanpa Pacaran

Alhamdulillah, saat ini pilihan untuk menikah tanpa pacaran terlebih dulu sudah bukan hal yang asing lagi di masyarakat. Terutama kaum muda ...